Home / Berita / Lembaga Eijkman: Calon Peraih Nobel?

Lembaga Eijkman: Calon Peraih Nobel?

DI siang hari yang terik itu, saya menapakkan kaki ke salah satu bangunan tua di kompleks RS Cipto Mangunkusumo, di Jalan Diponegoro, Jakarta. Gedung ini terletak di bagian paling depan, tepat di tepi jalan. Sebuah gedung kuno, berarsitektur kolonial, dengan gapura utama dan dua sayap gedung yang simetris. Pada gapuranya kini terpampang tulisan “Lembaga Biologi Molekuler Eijkman”. Penampakan luarnya terlihat benar-benar kuno; catnya pun telah kusam. Di lantai bawah terdapat ruangan-ruangan yang terkesan kurang terawat. Tetapi, menaiki anak tangga hingga tiba di lantai dua, saya menemukan suasana yang berbeda sekali. Ruangan di lantai dua itu telah direnovasi sehingga terlihat bersih dan rapi, tanpa menghilangkan sisa-sisa ciri bangunan peninggalan zaman kolonial dahulu. Langit-langitnya yang sangat tinggi itu memberikan suasana sejuk. Di kedua sayap bangunan kanan dan kiri, terda-pat dua laboratorium modem. Sekilas terlihat beberapa pekerja laboratorium, berjas putih, sedang asyik bekerja. Mereka masih amat muda, mungkin sekitar 22 tahun usianya. Inilah Lembaga Eijkman yang dibangkitkan kembali oleh Prof. Sangkot Marzuki.

Saya dipersilakan duduk di ruang kerja Prof. Sangkot Marzuki oleh Rita, sekretarisnya yang ramah. Tak lama kemudian, muncullah Prof. Sangkot Marzuki. Siang itu ia tampak segar dan cerah, mengenakan setelan kemeja biru muda bergaris yang dipadu dengan dasi merah tua, bagai eksekutif sebuah perusahaan internasional. Di kompleks rumah sakit terbesar di Indonesia ini, dasi itu tampak mencolok. Karena para dokter di sini umumnya hanya memakai jas dokter berwarna putih.

Dengan hangat ia menyalami saya. “Laboratorium kami lumayan bagus, bukan?” ujarnya sambil tersenyum. Se-benarnya, lab itu bukan sekadar lumayan bagus, tetapi telah amat modern. Di lab ini tersedia berbagai peralatan termodern untuk menganalisis DNA, memotong DNA, menyisipkan dan menggabungkan bagian-bagian gen, dll. “Ini baru sebagian. Menurut rencana, seluruh gedung ini, termasuk lantai dasar, akan menjadi laboratorium Eijkman,” tambahnya. Renovasi bangunan di lantai dua itu memang baru selesai. Oleh karena itu, kegiatannya pun baru berjalan sekitar 3 bulan. Tepatnya, I April 1993.

LEMBAGA PERAIH NOBEL Mengapa Lembaga Eijkman dihidupkan kembali? Sangkot menjelaskan, “Ketika itu, tahun 1990, saya masih aktif mengadakan penelitian bersama tim saya di Universitas Monash, Melbourne, Australia. Ada se-jumlah ahli biologi molekuler dari Indonesia, yang sedang bekerja di sana. Tiba-tiba saya menerima fax dari Menristek Habibie yang mengajak saya untuk membangun kembali Lembaga Eijkman.” Seperti kita ketahui, lembaga ini dulu pernah mengalami zaman keemasan di bawah pimpinan Christiaan Eijkman, ahli bakteriologi Belanda, yang bekerja di sini sejak tahun 1887. Di gedung inilah Eijkman melakukan penelitian untuk mengobati penyakit beri-beri yang sedang menjadi wabah kala itu. Hasil penelitian yang dilakukan Eijkman bersama ahli biokimia Inggris, Sir Frederick Hopkins, membuahkan hasil yang sangat bermanfaat bagi dunia kedokteran. Eijkman menemukan bahwa penyebab penyakit beri-beri adalah kekurangan vitamin B1. Berkat jasa Eijkman, penyakit beri-beri bisa diobati, yaitu dengan pemberian vitamin B1 atau thiamin yang banyak terkandung di dalam kulit padi. Hasil penelitian Eijkman itu diakui oleh seluruh dunia. Sebagai penghargaan terhadap jasanya, pada tahun 1929 Eijkman dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Fisiologi dan Kedokteran. Hingga saat ini, dunia mengenal Lembaga Eijkman sebagai tempat munculnya seorang peraih Hadiah Nobel. Karena latar belakang yang unik ini, Menristek B.J. Habibie kemudian mempunyai gagasan untuk mengaktifkan kembali Lembaga Eijkman.

Mungkin Habibie mengharapkan munculnya ilmuwan Indonesia pemenang Nobel dari laboratorium ini? “Ah, itu terlalu berlebihan,” jawab Sangkot. Tetapi, siapa yang tidak berharap bahwa suatu saat kelak putra putri Indonesia juga dapat meraih Hadiah Nobel seperti yang pernah diraih Eijkman? Mungkin tidak dalam generasi ini, tetapi generasi mendatang. Bagi Sangkot, tujuan pendirian kembali lembaga ini adalah memberi dasar sains, dasar ilmu. “Idenya seperti pendirian Institut Biologi Molekuker di Singapura,” tambahnya. “Lembaga di Singapura itu tidak secara langsung mendatangkan duit, tetapi memberi dasar sains bagi masyarakat Singapura yang umumnya pedagang itu.” Dan hasilnya pun dapat dilihat. Karena rintisan institut itu, kini berbagai perusahaan bioteknologi asing —salah satunya konglomerat Indonesia— telah menginvestasikan uangnya di Singapura. Kalau dihitung-hitung, keuntungan negara yang didapat dari investasi asing ini mungkin telah dapat menutupi biaya untuk mendirikan institut itu.

Bagaimana Sangkot memulai proyeknya? “Saya tidak mau mulai dari nol,” ujarnya. “Karena itu saya memboyong tim saya dari Australia itu ke Indonesia.” Jadi, begitu berdiri, penelitian di lembaga ini langsung berjalan. Dari Australia ia membawa sekitar lima peneliti Indonesia, salah satunya adalah Dr. Herawaty A. Sudoyo, yang giat dalam penelitian proses penuaan. Ada juga peneliti asing. Dari Indonesia sendiri, waktu itu telah ada sekelompok peneliti yang bergerak di bidang biologi molekuler. Tim itu adalah tim dari Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UI di bawah pimpinan Dr. Pratiwi Sudarmono, si calon astronaut itu. “Saya sungguh menghargai kerelaan Pratiwi memasukkan timnya ke Lembaga ini,” kata Sangkot. Karena dengan demikian, Pratiwi sendiri kemudian berada di bawah Sangkot.

Dengan gabungan kedua tim itu, terbentuklah tim yang tangguh, terdiri dari atas 10 orang doktor (Ph.D.). Peneliti senior itu kebanyakan memang dokter, tetapi ada juga yang lulusan kedokteran hewan. Sebagai Asisten Peneliti, diambil 12 sarjana, seluruhnya baru lulus, yang dipilih berdasarkan prestasi akademisnya. Untuk memberi dasar ilmu yang kuat, Sangkot men-gambil mereka dari bidang-bidang di luar kedokteran, misalnya biologi, kimia, dll. Para asisten itu berasal dari berbagai universitas, dari ITB, UI, UGM, Unhas, dll. “Agar tidak memberi kesan nepotisme,” kata Sangkot. “Saya memang merekrut peneliti yang muda. Kini mereka berusia 22-23 tahun. Setelah beberapa tahun bekerja di sini, saya akan mengirim mereka belajar ke luar negeri. Maka pada usia 29 tahun saya harapkan mereka telah meraih gelar doktor.” Dengan demikian .mereka masih mempunyai banyak waktu untuk mengembangkan penelitian mereka.

FANTASI DAN REALITAS
Mengapa bidang yang dikembangkan adalah biologi molekuler? “Karena investasi modalnya relatif kecil. Juga ini adalah bidang yang baru muncul, masih muda,” kata Sangkot. “Jadi, kita bisa mengejarnya.” Biologi molekuler, khususnya bioteknologi, memang sedang berkembang pesat sekarang ini. “Dari 200 obat yang diluncurkan ke pasar akhir-akhir ini, 30 di antaranya adalah produk bioteknologi,” kata Dr. B. Setiawan, pendiri perusahaan farmasi Kalbe Farma, yang kini terbesar di Indonesia.

Sangkot sendiri termasuk tokoh dunia dhlam bidang biologi molekuler ini. Arti-kelnya tentang kaitan mitokondria dan proses penuaan (yang dipublikasikan dalam majalah kedokteran terkemuka Lan-cet, tahun 1989 lalu) dijadikan judul utama harian-harian di Australia dan negara-negara Barat. Namanya segera melejit. Semua ahli di dunia yang membicarakan masalah mitokondria (suatu bagian sel) dan awet muda, mau tak mau akan menyebut hasil penelitiannya di Australia itu. “Anehnya, tidak ada satu pun media massa di Indonesia yang memberitakan hal ini,” ujamya sambil tersenyum. Waktu itu teleponnya terus-menerus berdering; banyak orang menanyakan apakah benar bahwa proses penuaan dapat dihambat dengan vitamin C, enzim co-Q-10, dan vitamin K, seperti tercantum dalam tulisannya itu. (Masalah ini akan dibahas khusus dalam edisi AKU-TAHU nomor depan).

Lalu, banyak orang mengharap bahwa bidang yang digarapnya adalah bidang yang praktis, misalnya riset molekuler di bidang kanker, AIDS, pembuatan vaksin hepatitis, hormon-hormon, dll. Bidang-bidang ini tentu akan mendatangkan banyak uang. Tetapi, “itu adalah fantasi,” katanya. Nyatanya, kita tidak mempunyai ahli-ahli untuk itu. Maka Habibie pun telah mengatakan kepadanya, “Lakukan apa saja. Kembangkan sesuatu yang relevan!” Karena itulah tim ini mengembangkan apa yang dikuasainya.

Karena itu bidang-bidang penelitian yang dilakukan di Lembaga Eijkman ini terutama adalah yang berkaitan dengan biologi sel, atau tepatnya biologi molekuler. Dari biologi sel bisa dikembangkan ke arah masalah genetika manusia dan genetika kesehatan, penyakit-penyakit infeksi pada daerah tropis, serta rekayasa biomolekuler. “Tim yang saya bawa dari Australia lebih mengkhususkan diri dalam penelitian mengenai penyakit genetik pada manusia yang disebabkan oleh mutasi gen. Misalnya mengenai kelainan konversi energi yang berpengaruh pada proses penuaan serta penelitian thalasemia. Sedangkan tim yang dipimpin oleh Pratiwi Sudarmono lebih mengkhususkan diri pada penelitian untuk perangkat diagnosis penyakit, khususnya demam berdarah,” kata Sangkot.

Sebagian tim meneliti masalah Plasmodium dan Toxoplasma, kuman penyebab malaria dan toksoplasmosis. “Kuman ini unik, karena ia punya dua DNA di luar kromosom.” Salah satu DNA-nya mirip dengan kloroplas; jadi, mirip tumbuhan. Hasil penelitian memang kadang-kadang sulit diduga. Siapa tahu nanti penelitian ini menghasilkan suatu obat antimalaria, karena kini malaria mulai bangkit menjadi
pembunuh kejam yang tahan obat.

Darimana dana untuk membiayai seluruh kegiatan di Lembaga Eijkman? Menurut Prof. Sangkot, semua biaya untuk merenovasi bangunan semula berasal dari Menristek. Karena itu laporan tentang segala sesuatu mengenai kegiatan Lembaga Eijkman dilaporkan langsung ke Menristek. Ini berlangsung hanya selama masa pengembangan.

Mengenai masa depan Lembaga Eijkman, Sangkot menjawabnya dengan diplomatis. “Bisa saja Lembaga ini nantinya berada di bawah Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) atau menjadi suatu institut yang berada dalam pengelolaan Universitas Indonesia. Entahlah. Kita lihat saja nanti”. Seusai berbincang-bincang, Prof. Sangkot mengajak melihat dari dekat kegiatan penelitian yang sedang dilakukan di kedua ruang laboratorium Lembaga Eijkman itu. Pada kesempatan itu, saya diperkenalkan dengan beberapa orang asisten peneliti beserta pembimbing kelompoknya. Siapa sajakah mereka itu? Apakah di antara mereka nanti ada yang berkesempatan meraih Hadiah Nobel? Semua ini ditulis dalam artikel berikut.

MISI LEMBAGA EIJKMAN
Misi yang diemban oleh Lembaga Eijkman adalah mengembangkan ilmu dasar dalam bidang biologi sel molekuler. Ilmu tersebut selanjutnya digunakan untuk mempelajari, mencegah serta mengobati penyakit-penyakit pada manusia. Adapun misi khusus Lembaga ini adalah:
1. Menggalakkan penelitian dasar, terutama penerapan biologi molekuler dalam bidang 1 kesehatan
2. Mendirikan laboratorium pusat teknologi nasional dan sebagai pusat informasi biolog, molekuler
3. Menerapkan hasil penelitian yang diperoleh untuk mengembangkan diagnosis, perawatan, serta pencegahan penyakit-penyakit di daerah tropis
4. Membuat reagen-reagen baru untuk diagnosis dan terapi melalui rekayasa biomolekuk.
5. Menyediakan fasilitas pelatihan dalam bidang biologi molekuler dan rekayasa biomoie-kuler berstandar internasional untuk para Sarjana Muda
6. Mempercepat pengembangan bioteknologi kedokteran di Indonesia dengan menjadikan Lembaga ini sebagai pusat jaringan informasi bioteknologi kesehatan nasional
7. Mempromosikan pertukaran ilmu berskala internasional melalui pengadaan jaringar resmi di antara lembaga penelitian di luar negeri dan dengan menarik kunjungan para ilmuwan luar negeri ke Lembaga Eijkman
8. Menarik badan pemberi dana penelitian, baik nasional maupun internasional dengar cara memperkenalkan hasil penelitian gemilang yang dicapai kepada dunia internasional.

————————————–

Sangkot Marzuki
PROF. Sangkot Marzuki sering disebut-sebut sebagai orang yang kontroversial. Lahir di Medan 49 tahun lalu dari marga Batubara, keluarganya telah tiga generasi tidak mencantumkan marga itu. Ia dibesarkan di Jakarta, sehingga ia lebih senang menyebut diri anak Betawi. Lulus dari Fakultas Kedokteran UI tahun 1968, ia bekerja di Bagian Biokimia. Dikabarkan ia bersengketa dengan atasannya waktu itu, sehingga ia terpaksa “lari” ke luar negeri, yakni ke Bangkok (Universitas Mahidol, 1971), lalu ke Australia (1975), yang justru menyebabkan namanya menjadi terkenal. “Tetapi, sebenarnya itu tidak seluruhnya betul. Saya tidak lari, tetapi terpaksa ke luar negeri untuk mencari tambahan penghasilan,” katanya. Waktu itu adiknya menderita suatu penyakit yang fatal, sehingga ia harus mencari biaya untuknya.

Sangkot yang gemar kaktus ini pernah punya koleksi 200 jenis kaktus dan pernah menjadi editor sebuah majalah khusus bagi penggemar kaktus semasa ia tinggal di Australia. Sangkot tergolong orang yang gigih. Sebagai contoh, sewaktu ia membeli suatu peralatan laboratorium untuk Lembaga Eijkman, penjualnya menjanjikan waktu tiga bulan. Ia menolak. Itu terlalu lama. “Di Australia saya bisa mendapatnya dalam tiga hari,” katanya. Maka ia memaksa si penjual mencarinya dalam gudang-gudangnya di luar negeri. Dan benarlah. Tiga hari kernudian alat itu telah sampai di laboratoriumnya.

Untuk keberhasilannya dalam bidangnya, tahun 1992 Sangkot memperoleh hadiah ASEAN Achievement Award untuk bidang Ilmu dan Biologi. [Sri L.]

Christiaan Eijkman
Christiaan Eijkman adalah seorang ahli patologi dan bakteriologi Belanda yang meraih Hadiah Nobel pada tahun 1929 dalam bidang fisiologi atau kedokteran. Hadiah Nobel itu diraihnya atas prestasinya dalam menemukan vitamin anti-neuritis. Hadiah itu diiraihnya bersama ahli biokimia Inggris, Sir Frederik Hopkins.

Eijkman dilahirkan di Nijkerk, Belanda pada tanggal 11 Agustus 1858. Dia menyelesaikan pendidikan kedokterannya dari Universitas Amsterdam tahun 1883. Pada tahun 1887 dia bergabung dengan suatu komisi yang dikirim ke Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta, Indonesia) untuk menyelidiki beri-beri, suatu penyakit yang waktu itu mewabah dan ditandai dengan polineuritis. Penyakit ini mengakibatkan mati rasa dan kclumpuhan (paralisis) anggota badan, dan pada beberapa kasus bisa berakibat kematian.

Hasil penyelidikan komisi itu tidak meyakinkan, tetapi Eijkman tetap tinggal di Batavia sebagai direktur dari sebuah laboratorium ilmiah, yang di kemudian hari disebut LaboratoriumEijkman. Dalam penelitian di laboratoriumnya, dia menemukan bahwa beberapa ayam miliknya menderita gejala serupa dengan penyakit polineuritis. Hal itu terjadi bila ayam-ayam diberi makan beras yang telah disosoh. Namun, bila ayam-ayam itu diberi makan beras yang tidak disosoh gejala tersebut menghilang.

Pada akhir tahun 1890-an, Eijkman bersama rekan-rekan kerjanya membuktikan bahwa di dalam beras yang tidak disosoh terkandung faktor anti-neuritis. Faktor itu sekarang dikenal sebagai vitamin B1. Penemuan tersebut membantu dalam penanggulangan penyakit defisiensi vitamin. Selain itu, manfaat vitamin menjadi semakin penting. Kini semua murid lulusan SD tahu bahwa beri-beri disebabkan oleh kekurangan vitamin B1. Tetapi, bila tidak karena jasa Eijkman, mungkin sampai kini masih banyak penduduk Indonesia mati karena penyakit yang “sederhana” ini.

Pada tahun 1896, Eijkman kembali ke Belanda dan menjadi pengajar di Universitas Utrecht hingga tahun 1928. Dia meninggal di Utrecht pada tanggal 5 November 1930. [Sri L.]

HERAWATI A. SUDOYO
Dengan tinggi 1,52 meter dan berat 42 kg, doktor yang satu ini tampak mungil. Ia termasuk anggota tim Prof. Sangkot semasa di Universitas Monash, Melbourne, Aus-tralia. Makanya, Prof. Sangkot langsung mengajak Hera untuk memperkuat tim Genetika Manusia di Lembaga Eijkman. Ia memang piawai untuk bidang itu, mengingat gelar doktornya ia raih melalui penelitiannya tentang mitokondria manusia. Sebagian orang berharap bahwa penelitian mitokondria ini dapat mengungkapkan rahasia awet muda. Tetapi, ketika ditanya apakah ia bersedia berusia 200 tahun, Hera menjawab, “Wah, tidak, ah! Nanti bosan.” Hera adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Selain memberinya gelar dokter, UI juga mempertemukannya dengan calon suami. Kalau merasa jenuh dengan kerja penelitian, ibu dua orang putra ini punya banyak pilihan. Ia suka berenang atau menonton film-film suspense, terutama karya Stephen King. Tetapi, kadang ia merasa cukup ditemani novel Agatha Cristie sembari mendengarkan desah Natalie Cole. [SL/BW]

SUWATIO (24)
Di kalangan teman-temannya ia dipanggil dengan nama akrab Tio. Gadis ini mengaku tertarik masuk ke Lembaga Eijkman setelah membaca pengumuman di jurusannya, Departemen Biologi ITB. Anak ke-9 dari 11 bersaudara ini termasuk mungil (1,55 m, 42 kg). Di antara saudara-saudaranya, ternyata hanya dialah yang tertarik pada dunia peneli-tian. Gadis yang menyukai warna biru muda ini tidak suka olahraga. Anehnya, film yang sering ditontonnya malahan yang berbau olahraga, seperti silat dan action. Karena kebetulan ia adalah seorang biolog, hobi ayahnya memelihara anggrek diteruskan setelah ayahnya meninggal. Saat ini ia sedang berkutat meneliti gen yang mengakibatkan penyakit kebutaan keturunan. [SL/BW]

ENDANG SULISTYORINI (24)
Peneliti belia ini berasal dari Blitar, Jawa Timur. Gadis ini masuk Departemen Biologi ITB tahun 1987. Sebagai bahan penelitian skripsinya ia memilih bidang mikrobiologi. Masalah yang ditelitinya adalah fusi protoplas. Tampaknya, penelitian yang kini dikerjakannya di Lembaga Eijkman, tidak beda jauh dengan skripsinya. Di Lembaga Eijkman, Rini meneliti penyakit-penyakit akibat mutasi pada DNA mitokondria. Salah satu penyakit yang sedang ditelitinya adalah MELAS (Mitochondria Encephalophathy Lactic Acidosis). Potongan tubuh peneliti belia ini cukup ideal. Tingginya 1,63 meter dan berat 46 kilogram. Film-film bertema action dan horor kerap ditontonnya. Rini menyenangi musik pop. Makanan kesukaannya buah-buahan. “Saya berharap dapat membantu mencegah penyakit-penyakit akibat mutasi DNA,khususnya DNA mitokondria,” begitu katanya. [SUBW]

BUDI UTAMA (27)
Sarjana farmasi dari Institut Teknologi Bandung ini mengaku berasal dari Wonogiri. Tetapi ia lahir dan besar di Bandung. Minatnya pada obat-obatan mungkin berasal dari ayahnya yang mantan Direktur Biofarma, Lembaga Pasteur, Bandung. Budi, begitu panggilannya, sempat menjadi anggota tim sepak bola waktu masih kuliah di Jurusan Farmasi ITB. Posisi yang dimainkannya adalah pemain tengah. “AC Milan”, demikian jawaban spontan yang terlontar dari mulutnya ketika ditanya tentang kesebelasan favoritnya. Budi yang pernah menjabat sebagai Ketua I Himpunan Mahasiswa Farmasi Ars Praeparandi terlibat dalam kegiatan awal proyek pembentukan Lembaga Eijkman versi baru ini. Untuk melepas ketegangan, Budi sering memancing. Kegemaran utamanya adalah membaca, terutama hasil wa-wancara dengan para eksekutif. Dari situ mungkin dia mem-pelajari teknik-teknik pengambilan keputusan yang tepat. Mengenai warna yang disenanginya, Budi mengaku senang warna pastel. Tampaknya hal ini sesuai dengan pembawaannya yang tenang namun meyakinkan. Musik klasik karya Mozart dan Johan Strauss merupakan jenis musik yang disu-kainya. Tetapi, musik jenis jazz pop pun tidak dditolaknya. Visinya untuk Lembaga Eijkman antara lain membantu penyediaan berbagai data dan informasi untuk Lembaga Eijk-man melalui jaringan komputer. [SL/BW]

SYAFRUDIN (33)
Doktor yang menjabat sebagai Koordinator Tim Peneliti penyakit malaria ini berpenampilan tenang dan pendiam. Gelar dokter diperolehnya dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin, Ujung Pandang, sedangkan gelar doktornya diraih di Jepang tahun 1992. Sesuai dengan prinsipnya bahwa silence is golden, olah raga yang digemarinya yaitu catur. Sebagai penggemar catur ia cukup serius. Ketika masih kuliah, bapak dari seorang putri berusia 14 tahun ini sempat masuk babak final kejuaraan catur di Fakultasnya. Di Lembaga Eijkman, Syafrudin mulai aktif sejak awal Mei 1993. Doktor ini sangat menaruh perhatian pada masalah-masalah sosial. Tidak mengherankan bila ia mengagumi Mahatma Gandhi. Memancing merupakan salah satu hobinya di samping membaca novel Agatha Christie dan mengoleksi buku-buku sejarah. Musik yang disenanginya adalah yang lembut, terutama klasik dan jazz pop. “Saya sering belajar sampai larut malam,” begitu alasannya ketika ditanya mengapa suka musik lembut. Penyanyi favoritnya James Reeves dan Bob Dylan. Uniknya, bila sedang menghadapi banyak masalah, Syafrudin justru pergi menonton film perang. Katanya, “Setelah menonton film perang atau film yang menampilkan konflik pribadi pemerannya, otomatis masalah dalam film itulah yang akan terbawa ke rumah. Masalah yang sebenarnya sedang dihadapi, untuk sementara teralihkan hingga ditemukan jalan penyelesaiannya.” Doktor yang mengagumi permain-an aktor Dustin Hoffman ini punya pesan khusus bagi para generasi muda, yaitu “Beramai-ramailah untuk ikut berperan di segala bidang”. [SL/BW]

RINTIS NOVIANTI (24)
Gadis manis berkulit sawo matang ini termasuk tim peneliti yang diketuai Doktor Syafrudin. Walaupun ayahnya dari Jawa Timur dan ibunya dari Jawa Tengah, lulusan Biologi UI tahun 1992 ini mengaku tidak bisa berbahasa Jawa. ”Sejak kecil saya di Jakarta,” begitu alasannya. Gadis tinggi semampai ini menyenangi musik jazz dan pop. Selain itu, ia juga gemar lagu-lagu piano instrumentalia. “Musik semacam itu enak kalau didengarkan sambil belajar di tengah malam”, katanya menjelaskan. Mengenai
film, peneliti muda ini mengatakan suka yang bertema drama keluarga. Rintis, demikian panggilannya, merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Berbeda dari ayah dan ibunya yang berlatar belakang pendidikan ilmu sosial, Rintis justru tertarik pada ilmu pasti. Dua adiknya rupanya mengikuti jejaknya. Yang seorang sedang mendalami bidang farmasi dan lainnya mendalami bidang kedokteran gigi. Ketika ditanya tentang makanan kegemarannya, Rintis mengatakan suka sekali masakan Jepang dan fast food. Alasannya, lain dengan masakan di rumah. ISL/BW)

ENI HUSNIATI (24)
Sarjana Kimia dari IPB ini teman satu tim Anni Sarjito. Berdua mereka meneliti auto antibodi pasien infertil. Gadis Lampung ini sebenarnya asli Padang, Sumatera Barat. Tetapi karena sejak kecil tinggal di Bandar Lampung, ia lebih suka disebut sebagai gadis Lampung. “Saya kurang lancar berbahasa Padang,” katanya. Sesuai dengan pembawaannya yang periang, Eni menyenangi warna merah dan kuning. Film yang disukainya pun sesuai dengan pribadinya, film komedi. ”Saya suka yang ada tujuannya, bukan yang asal humor tetapi tidak jelas arahnya”.

Karena itulah, acara humor di RCTI setiap Selasa malam tidak pernah dilewatkannya. Eni merupakan
anak ke-3 dari empat bersaudara. Kakaknya yang sulung kuliah di Jurusan Teknik Sipil. Kakaknya yang kedua di Fakultas Pertanian, sibuk mendalami bidang kimia. Sementara adiknya tengah menekuni ilmu ekonomi. (BW)

ANNI SARJITO
Anni merupakan satu-satunya lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional yang diterima di Lembaga Eijkman. Di lembaga ini dia diberi tugas untuk meneliti masalah autoanti bodi pada pasien infertil. Infertil yang artinya tidak subur, bisa terjadi baik pada pria maupun wanita. Karena pekerjaannya yang menuntut ketekunan, ketelitian serta konsentrasi, Anni menyenangi bacaan ringan. “Pokoknya yang tidak perlu konsentrasi penuh,” demikian katanya. Saat kami temui, Anni kebetulan mengenakan baju biru berkombinasi hijau, dua warna kesayangannya. Gadis periang ini memiliki postur tubuh tidak terlalu tinggi. Walau kedua orang tuanya berasal dari Jawa Tengah, anak pertama dari empat bersaudara ini lebih suka mengaku sebagai None Betawi. ”Dari kecil saya hidup di Jakarta, tak heran saya tak bisa lagi berbahasa Jawa”, begitu alasannya. Dengan kacamata, Anni justru tampak lebih manis. Seperti umumnya gadis remaja, Anni pengemar berat Radio Prambors. “Radio Prambors dinamis”, demikian komentarnya. (SL/BW)

SUSSY SUMIARSIH (24)
Sussy, demikian gadis ini dipanggil. Lulusan Jurusan Biologi ITB ini mengaku sebagai mojang Priangan asli, kendati ayahnya dari Cirebon. Tubuhnya tinggi semampai (160cm, 45 kg) sering dibalut warna-warna lembut, warna kesukaannya. Mengenai musik, ia juga suka musik yang lembut. Lagu-lagu country, atau keroncong modern juga sering menemaninya. Sussy merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara. Dua kakaknya sudah bekerja, sementara adiknya masih kuliah. Film bertemakan drama dan action merupakan jenis film yang disukainya. Akibatnya si MacGyver yang serba bisa di RCTI tak pernah dilewatkannya. “Film itu seru, santai, sekaligus memecahkan semua masalah dengan baik.” Demikian komentarnya. Di Lembaga Eijkman, Sussy meneliti proses penuaan pada manusia. Rupanya Sussy ingin semua orang awet muda. (B/W)

DR. PR ATIWI SUDARMONO
“Sejak 1985, tim saya, dengan tiga orang doktor, sudah bekerja meneliti virus demam berdarah. Tim ini menjadi embrio Lembaga Eijkman yang baru ini,” demikian Dr. Pratiwi Sudarmono, calon astronaut yang juga pakar biologi molekuler menjelaskan tentang keikutsertaannya dalam Lembaga Eijkman. Siapa saja ketiga orang tersebut? “Dr. Agus Syahrulrahman, Dr. Anni Subandrio, dan saya sendiri”, kata ilmuwan yang tampak cantik dengan setelan jas dan rok hijau muda ini.

Ketika ia kembali dari Jepang setelah berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Biologi Molekuler pada tahun 1984, bersama dengan Dr. Agus dan Dr. Anni, mereka merasa cukup kuat untuk merintis didirikannya suatu pusat penelitian bioteknologi nasional di bidang kedokteran. Yang paling sulit adalah meyakinkan semua pihak bahwa sumber daya manusia yang kita miliki sudah mencukupi. Orang yang pertama merasa yakin adalah Menristek Habibie.

Selama kurang lebih 4 tahun, kegiatan penelitian yang berlangsung hanya ditunjang dari dana kecil-kecilan. Baru pada tahun 1990, pengajuan dana yang diusulkan oleh Pratiwi melalui Menristek Habibie, disetujui Presiden. Dengan turunnya dana Banpres yang berlaku untuk 50 bulan, komitmen Pemerintah
untuk membangun bioteknologi sudah semakin jelas. Sejak saat itu dana mengalir secara kontinyu. “Saya merasa bahwa itu seperti a dream come true. Karena sejak tahun 1985 sampai 1993, dapat dikatakan hanya itulah yang kegiatan ilmiah yang saya lakukan”, kata Pratiwi.

Tim yang berada di bawah pimpinan Pratiwi khusus meneliti mengenai virus demam berdarah. Satu kelompok meneliti karakter genetika virus, dan kelompok lainnya mengembangkan alat diagnostik untuk mendiagnosis demam berdarah dari penderita melalui reaksi antigen-antibodi (suatu reaksi yang disebut Elisa) agar dapat diterapkan di Puskesmas dengan peralatan sederhana. Seluruh staf Pratiwi berjumlah 10 orang dengan tiga orang doktor sebagai peneliti utama.

Namun, tentu saja kegiatan penelitian ini tidak terus-menerus mengandalkan dana bantuan dari Pemerintah. Dalam lima atau sepuluh tahun mendatang Lembaga Eijkman harus dapat mandiri. Nah, untuk itu Lembaga Eijkman mau tak mau harus menjadi suatu industri atau memproduksi sesuatu. Ujung tombaknya adalah tim Pratiwi. Dari tim ini diharapkan dalam satu atau dua tahun dihasilkan peralatan diagnosis yang siap dipasarkan.

Kapan tim Pratiwi akan bergabung dengan tim Prof. Sangkot dalam satu gedung? “Tentunya setelah seluruh gedung Lembaga Eijkman selesai direnovasi. Berarti akhir masa DIP tahun ini, kira-kira akhir bulan April tahun 1994”, kata Pratiwi. “Penelitian tim saya berkaitan dengan virus. Untuk itu diperlukan ruang yang steril dan harus memenuhi banyak syarat. Misalnya, ruangan itu tidak boleh dilewati banyak orang, tekanan udaranya diatur, udara luar tidak boleh masuk, dll. Pokoknya terisolasi. Sebab, kalau tidak demikian, virus akan mati dan itu akan sangat mengganggu jalannya penelitian. Untuk mengembangbiakkan virus tidak mudah. Kita mengembangbiakkannya di dalam jaringan dan juga dalam hewan percobaan. Jadi, bukan semata-mata penelitian genetika yang mudah ditangani.”

Tentang Nobel, Pratiwi pun berharap bahwa kelak dari Lembaga Eijkman akan lahir peraih Nobel. Tetapi, untuk saat ini yang paling penting adalah berjuang untuk tetap hidup dan menjalankan penelitian dalam bidang biologi molekuler. Sebenarnya, Lembaga Eijkman ini sudah setara dengan laboratorium yang dimiliki negara-negara maju lain. tetapi, untuk meraih Hadiah Nobel tampaknya masih butuh persiapan yang cukup lama. Timnya sendiri, yang bergerak dalam bidang aplikasi, tidak memiliki kesempatan untuk meraih Hadiah Nobel. Karena Hadiah Nobel biasanya diberikan kepada seseorang yang berhasil mengubah atau menemukan konsep baru di bidang ilmu dasar yang sudah ada. Dengan demikian tim Prof. Sangkotlah yang memiliki kemungkinan itu. Sebab, tim Prof. Sangkot bergerak dalam bidang ilmu dasar.

Apa visinya terhadap Lembaga Eijkman? “Saya sangat mengharapkan lembaga ini menjadi suatu simpul utama dalam jaringan kerja sama nasional maupun internasional di bidang biologi molekuler. Baik kerja sama penelitian maupun pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Kita semua mengetahui bahwa untuk mengembangkan bioteknologi tidak dapat dikerjakan oleh saya seorang atau kami bertiga. Karena itu Pak Habibie mengijinkan kami untuk mengirimkan puluhan sampai seratus orang lulusan SMA ke luar negeri untuk mempelajari bioteknologi. Dengan demikian kita dapat mencapai critical mass yang dibutuhkan dalam waktu singkat.” Siapa pun bisa membangun laboratorium dan membeli peralatan canggih. Tetapi tanpa sumber daya manusia yang terdidik semua itu tidak dapat berjalan.

Apa pesannya untuk generasi muda? “Sepertinya mereka kurang berminat pada bidang penelitian. Padahal kita sekarang akan memasuki era iptek. Tetapi saya yakin akan sampai saatnya. Sebab, dulu orang berlomba ingin menjadi dokter sehingga persaingan di bidang ini menjadi. keras. Nah, saya ingin limpahan dari mereka yang beralih, satu persen atau dua persen saja dari mereka mau menjadi scientist. Kita mungkin bisa menjembatani antara bidang kedokteran klinis dan kedokteran laboratorium. Tanpa dibantu penelitian laboratorium, ilmu kedokteran tidak akan berkembang”. (SL)

Sumber:Majalah AKUTAHU 122/JULI 1993

Share
%d blogger menyukai ini: