Home / Berita / Ledakan Senjata Nuklir Geser Sisi Puncak Gunung

Ledakan Senjata Nuklir Geser Sisi Puncak Gunung

Uji coba nuklir Korea Utara pada 3 September 2017 di Gunung Mantap atau Mantapsan secara tak terduga menggeser sisi puncak gunung sejauh 3,5 meter. Hasil analisis ini diungkap dalam jurnal Science.

Para peneliti dari Nanyang Technological University Singapura mendapatkan kesimpulan ini dari analisa citra satelit dan data seismik. Ledakan dari senjata nuklir Korea Utara itu menciptakan gangguan seismik pada skala 6,3 yang menyebabkan puncak gunung turun sekitar setengah meter.

“Saya telah memetakan pemindahan permukaan dari banyak proses geodinamik seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor, tetapi saya tidak pernah melihat perpindahan besar yang disebabkan oleh aktivitas manusia,” kata Teng Wang, peneliti penginderaan jauh dan geodesi di Nanyang Technological University di Singapura, dalam situs Nature, 10 Mei 2018.

KOMPAS/ISMAWADI–Grafik: Lokasi Rudal dan Nuklir Korea Utara

Teng Wang melakukan penelitian ini bersama rekan-rekannya. Analisis menunjukkan tidak ada kawah yang terlihat di puncaknya. Temuan ini meredakan kekhawatiran bahwa gunung itu mungkin telah mengalami kebocoran radiasi. Kekhawatiran ini disebabkan lokasi uji coba di dekat Punggye-ri itu telah enam kali menjadi sasaran uji coba senjata nuklir Korea Utara, dimulai pada 2006.

Para peneliti mengatakan, penelitian ini adalah studi paling rinci terkait uji coba nuklir menggunakan teknik yang disebut radar aperture sintetis (SAR). Teknologi ini biasanya digunakan untuk membuat peta daratan 3D. Metode ini bisa dimanfaatkan ahli geofisika untuk melengkapi metode seismik konvensional ketika memantau uji coba nuklir di masa depan.

Bangkit, jatuh, dan kompaksi
Sebagian besar deteksi dan analisis ledakan nuklir mengandalkan data seismik dari pengamatan stasiun di wilayah tersebut. Tetapi mengukur jarak perpindahan bagian gunung sebenarnya sulit dilakukan tanpa akses ke situs.

KCNA VIA REUTERS–Ilustrasi: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (keempat dari kiri) menyampaikan pengarahan, bersama Ri Hong Sop (kedua dari kiri) dan Hong Sung Mu (kanan), mengenai program senjata nuklir dalam foto tanpa tanggal yang dirilis kantor berita Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), di Pyongyang, Korut, pada 3 September 2017.

Tim Wang memanfaatkan teknologi SAR, yang menciptakan gambar resolusi tinggi dengan menyapu sinar radar di atas target dari platform bergerak dengan kecepatan tinggi. Wang dan rekan-penulisnya membandingkan data yang dikumpulkan oleh satelit TerraSAR-X Jerman sebelum dan sesudah ledakan.

Mereka menemukan bahwa lereng gunung telah bergerak horizontal hingga 3,5 meter. Pergeseran tertinggi di sisi barat dan selatan, yaitu medan paling curam.

Dengan menggunakan data seismik dan pemodelan komputer, para peneliti menyusun ulang urutan kejadian untuk mensimulasikan apa yang terjadi di dalam gunung dan menyetel model untuk mencocokkan pengamatan mereka. Analisis mereka menunjukkan bahwa ledakan itu diikuti runtuhnya sebagian batu tersebut tepat di atas rongga ledakan, sekitar satu detik kemudian.

Peristiwa seismik kedua yang lebih kecil terjadi delapan setengah menit kemudian. Meski sempat diinterpretasikan sebagai runtuhnya beberapa terowongan di lokasi uji kemungkinan tidak banyak menggerakkan gunung itu.

Namun, sepekan kemudian, batu yang rusak di atas rongga perlahan-lahan bergerak dengan sendirinya. Ini menyebabkan puncak gunung tenggelam hingga setengah meter.

Para peneliti memperkirakan, hasil bom setara dengan sekitar 190 kiloton TNT, atau 13 kali lebih kuat dari bom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, pada Perang Dunia Kedua. Perhitungan itu sedikit lebih tinggi dari perkiraan yang dibuat segera setelah ledakan.

Buktikan
Matt Wei, geophysicist University of Rhode Island di Narragansett, Amerika Serikat, mengatakan penelitian ini menunjukkan pengamatan dari luar angkasa dapat cukup akurat untuk bertindak sebagai alat independen untuk menganalisis uji coba nuklir. Sebuah penelitian yang dia terbitkan tahun lalu menggunakan teknik SAR yang serupa untuk melihat uji coba nuklir keempat Korea Utara, pada Januari 2016.

Namun, kajiannya tidak dapat membedakan antara gerakan tanah longsor dan pergerakan yang sebenarnya. Metodenya kurang sensitif terhadap gerakan horizontal. “Tapi hasil Wang menunjukkan bahwa gerakan itu pasti disebabkan oleh ledakan nuklir,” katanya.

Dalam beberapa minggu terakhir, keadaan situs uji telah menjadi subyek spekulasi yang kuat. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah berjanji untuk menutup situs pada akhir Mei, kemungkinan sinyal kesediaannya untuk bernegosiasi melepaskan senjata nuklir negaranya.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 14 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: