Home / Berita / Laut Mama, Hutan Bapa

Laut Mama, Hutan Bapa

Bagi orang asli Papua yang masih menghargai adatnya, nilai-nilai kemanusiaan amat dekat menggambarkan relasi mereka dengan alam. Pandangan hutan sebagai bapa dan laut sebagai mama yang tak terpisahkan diamini dalam kehidupan keseharian mereka.

Hal itu diyakini masyarakat Teluk Mayalibit yang mendiami Pulau Waigeo di Raja Ampat. Mereka bertempat tinggal di kanan-kiri teluk indah yang seakan membelah satu dari empat pulau utama Raja Ampat.

Wilayah itu ditempuh 1-1,5 jam dari Waisai, ibu kota Raja Ampat. Bisa memakai jalur darat ataupun perahu cepat. Jalan darat yang kini relatif mulus itu dibuka dari hutan konservasi Cagar Alam Waigeo Barat.

Pertengahan Februari lalu, Kompas diundang Conservation International (CI) Indonesia menyaksikan Deklarasi Kawasan Perikanan Adat (KPA) Teluk Mayalibit di Kampung Warsambin. Lokasi itu dikenal dengan tangkapan ikan lema atau sejenis ikan kembung (Rastrelliger), teripang, dan udang halus (ebi).

Penangkapan ikan lema pun amat unik. Saat bulan gelap, mereka memakai metode penangkapan ikan secara tradisional yang disebut balobe. Berperahu dan membawa lampu petromaks, mereka menggiring ikan menuju penjebak untuk ditimba dengan serok kayu.

Jumlah tangkapan paling banyak dari satu nelayan 3.000 ekor. Ikan itu dibeli pengepul dari luar seharga Rp 1.000 per ekor. Di hari biasa, tangkapan mereka 50-500 ekor per hari. Hasil yang lebih dari cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Selain ikan, sumber protein dari hutan mudah didapat dengan berburu atau memasang jerat babi. “Kami yang tentukan kami makan, kami pula yang tentukan kami tak mati (kelaparan),” kata Kristian Thebu, Ketua Dewan Adat Suku Maya di Raja Ampat, saat memimpin Deklarasi KPA Teluk Mayalibit.

Zonasi peruntukan
Kesadaran tentang hal itu mendorong 12 kampung di kawasan Teluk Mayalibit bersemangat menyusun zonasi peruntukan perairannya dalam KPA. Perairan seluas 53.100 hektar itu dibagi-bagi menjadi zona inti atau tabungan ikan di bagian paling ujung utara teluk.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Suasana perkampungan Teluk Mayalibit, Raja Ampat, Papua Barat, di Kampung Warsambin, Jumat (17/2). Saat itu, masyarakat adat setempat mendeklarasikan Kawasan Perikanan Adat Teluk Mayalibit. Pembagian wilayah-wilayah perairan secara adat untuk tujuan penangkapan, perlindungan, dan kegiatan lain ini diharapkan bisa menjamin keberlangsungan potensi perikanan setempat.

Zona inti itu diharapkan bisa menyuplai ikan dan biota ekonomis lain, seperti teripang dan udang, di zona pemanfaatan tradisional. Di zona itu, tiap pemilik ulayat menjalankan kearifan tradisi yang disebut sasi adat dengan menghentikan penangkapan ikan pada waktu tertentu.

Tujuan sasi adalah memberi jeda ikan target untuk berkembang biak. Setelah sasi dibuka, panen baru dilakukan.

Model konservasi sederhana itu membuat warga mudah menerima pendekatan model konservasi berjejaring. Teori yang dipraktikkan adalah area konservasi berjejaring lebih mendukung perikanan berkelanjutan.

Karena itu, sejak 10 tahun lalu, Teluk Mayalibit bergabung dalam area konservasi laut daerah bersama Kofiau-Boo, Misool Timur Selatan, Wayag-Sayang, Selat Dampier, dan Kepulauan Ayau-Asia. Pada 2014, daerah-daerah itu ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan sebagai kawasan konservasi perairan nasional berstatus taman wisata perairan.

Mayalibit berasal dari kata maya (orang setempat) dan libit (kamar) atau tempat asal-usul orang-orang Raja Ampat sebelum menyebar ke utara hingga Ayau dan ke selatan hingga Misool. Kristian berharap langkah orang Teluk Mayalibit mengelola perairannya secara adat bisa diikuti daerah lain di Raja Ampat.

Alberth Nebore, Raja Ampat Senior Corridor Manager CI Indonesia, mengatakan, tiap perairan di Raja Ampat punya keunikan yang butuh pendekatan beragam. Di Teluk Mayalibit, teluk dengan mulut sempit yang menghadap laut lepas membuat pertukaran nutrien kurang.

Kondisi itu membuat biomassa ikan kurang sehingga pengambilannya harus hati-hati. Namun, itu bermanfaat bagi pertumbuhan hutan mangrove dan lamun sebagai pengasuhan ikan komersial. Setelah dewasa, ikan tenggiri, kakap, dan jenis lain berpindah ke laut lepas.

Vice President CI Indonesia Ketut Sarjana Putra mengingatkan, perairan sehat jika didukung kondisi darat sehat. Tanpa daratan berhutan bagus, sedimentasi yang membawa nutrien mengganggu kehidupan koral.

“Papua Barat ini karangnya bagus karena hutannya 80 persen menopang karang. Kalau kondisi hutan berkurang, habis ini laut Raja Ampat,” ujarnya.

Hal itu didasari dilema Raja Ampat yang hampir semua daratannya berstatus hutan konservasi dan hutan lindung. Meski pembangunan daerah jadi hak daerah, itu perlu dilakukan hati-hati. Karena laut tanpa hutan tak menghasilkan apa pun. Laut adalah mama dan hutan adalah bapa, jangan pisahkan.–ICHWAN SUSANTO
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul “Laut Mama, Hutan Bapa”.

——————-

Tak Cukup Pianemo di Kepulauan Fam

Memiliki jajaran pulau unik bernama Pianemo, masyarakat Kepulauan Fam di Raja Ampat tergugah kesadaran akan potensi alamnya. Selain pemandangan aduhai mirip Kepulauan Wayag di Raja Ampat yang lebih dulu terkenal, perairan laut Fam yang berjajar dari Pianemo sampai Bambu jadi tempat lumba-lumba dan paus pilot berkumpul.

Namun, beberapa tahun terakhir, ketenangan warga terusik karena penangkapan ikan destruktif berupa bom dan sianida. Warga setempat yang hanya mengenal menangkap ikan dengan pancing tak bisa berbuat banyak terhadap pelaku yang punya perahu lebih cepat dan senjata bom rakitan berbahaya.

“Sejak dulu kami mendapat pemahaman agar jaga baik buah karya Tuhan. Jadi tak pernah melakukan hal yang mengancam laut,” kata Keli Mayor (50), mantan Kepala Kampung Pam, di sela-sela pengukuhan Kawasan Konservasi Kepulauan Fam, 16 Februari 2017.

Saat itu, warga dari Kampung Pam, Saukabu, dan Saupapir di Kepulauan Fam berkumpul di Pulau Meoskor untuk menggelar deklarasi sekaligus peringatan pekabaran Injil. Hari pekabaran Injil di Papua pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat. Setiap daerah memiliki kalender peringatan masing-masing. Orang Kepulauan Fam mempunyai catatan pekabaran Injil masuk pada 16 Februari 1830 oleh Y Fanan Laber, dilanjutkan Yesaya Pupela. Keduanya guru Injil dari Sinode Gereja di Sorong.

Deklarasi konservasi dan hari pekabaran Injil itu sengaja dijadikan satu demi menguatkan komitmen warga melindungi alam. “Agama mengajarkan agar alam buah karya Tuhan dijaga baik. Itu kami kerjakan turun-temurun,” kata Keli.

Namun, para nelayan asal luar daerah itu tak mempraktikkan hal serupa. Meski geram pada perilaku nelayan luar yang mencari ikan di area Kepulauan Fam, warga tak bisa berbuat banyak karena sarana terbatas.

Patroli rutin terpadu aparat keamanan tak bisa diandalkan sepenuhnya karena dana operasi terbatas. Area perairan mereka pun tak termasuk prioritas karena ada di luar Taman Wisata Alam Kepulauan Raja Ampat yang ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2014.

Akhirnya mereka mencari dana dengan memungut tarif masuk ke perbukitan Pianemo. Itu jadi dilema bagi warga setempat karena disebut sebagai pungutan liar oleh sejumlah pengunjung. Tak salah juga mengingat tarif masuk berwisata ke Raja Ampat ditetapkan Rp 1 juta (wisatawan mancanegara) dan Rp 500.000 (turis domestik) yang berlaku setahun. Mayoritas dana itu dikelola badan layanan umum setempat untuk konservasi dan edukasi masyarakat.

Ariel Fakdawer, Kepala Kampung Saukabu, menuturkan, warga setempat tertarik jadi bagian jejaring area konservasi di Raja Ampat. Mereka melihat daerah-daerah yang dikelola itu bebas dari perusakan karang dan penangkapan ikan ilegal.

Mereka ingin contoh baik dari daerah lain yang mulai menjadi kawasan konservasi sejak 10 tahun lalu. Sejak 2014, kawasan konservasi perairan itu ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan jadi Taman Wisata Perairan Kepulauan Raja Ampat.

Taman wisata perairan itu seluas 1.026.540 hektar (ha), terdiri dari perairan Kepulauan Ayau-Asia (101.440 ha), Teluk Mayalibit (53.100 ha), Selat Dampier (336.000 ha), Kepulauan Misool 366.000 ha), dan Kofiau-Boo (170.000 ha). Kini Kepulauan Fam direncanakan masuk di jejaring itu.

Kepadatan ikan
Vice President Conservation International Indonesia Ketut Sarjana Putra mengungkapkan, pengelolaan perairan lewat jejaring area perlindungan laut di Raja Ampat meningkatkan kepadatan ikan dari 35 persen menjadi 150 persen. Artinya, sejak kawasan itu ditetapkan lewat Peraturan Daerah Raja Ampat Nomor 27 Tahun 2008 tentang Konservasi Kawasan Laut Daerah, jumlah ikan meningkat.

Hal itu berimbas pada perairan nonkonservasi lain, termasuk ke sekitar Kepulauan Fam. Wilayah Kepulauan Fam pun mendapat limpahan ikan. Tetapi, daerah itu malah menjadi sasaran penangkapan ikan secara ilegal karena tak dikelola.

Karena itu, ia menyambut baik inisiatif warga Kepulauan Fam bersemangat mengelola perairannya. “Menarik sekali ini, bagaimana hari pekabaran Injil diperingati sekaligus diisi dengan Deklarasi Konservasi Perairan Kepulauan Fam,” ujarnya.

Masyarakat adat di tiga kampung itu menyepakati kawasan tersebut sebagai daerah konservasi yang akan dikelola warga dengan dua zona, yakni zona pemanfaatan tanpa penangkapan ikan di sekitar gugusan Kepulauan Painemo dan Pulau Bambu. Adapun area lain tetap dimanfaatkan sebagai wilayah penangkapan ikan tanpa memakai peralatan yang merusak dan dikelola secara tradisional.

Pulau Meoskor yang jadi lokasi pengukuhan dan peringatan pekabaran Injil merupakan kawasan konservasi adat. Di pulau berpasir putih itu juga baru diresmikan pendirian pos patroli. Secara total, ada 360.000 ha perairan setempat yang disepakati jadi kawasan konservasi.

Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati yang hadir pada pengukuhan itu menyambut baik inisiatif warga. Ia mendorong langkah warga itu untuk meningkatkan kesejahteraan lewat ekonomi kreatif dan pariwisata.

Di sisi ekonomi kreatif, kaum perempuan di Kampung Pam mengolah kelapa jadi sabun dan minyak kelapa murni (VCO). Komoditas itu dipilih karena kelapa yang jadi andalan warga Kepulauan Fam hanya dijual berupa kopra.

Selain menjual produknya, mereka sukarela menunjukkan proses pembuatannya kepada pengunjung. Jika dikelola dengan baik, tak mustahil ke depan wisata ke area itu bukan hanya ke Pianemo.

Kemunculan atraksi baru sebagai buah kesadaran warga pada lingkungan. Selain suguhan baru, itu jadi kabar baik bagi masa depan Raja Ampat.(ICHWAN SUSANTO)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul “Tak Cukup Pianemo di Kepulauan Fam”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: