Home / Berita / La Nina Diprediksi Menguat

La Nina Diprediksi Menguat

Fenomena La Nina menunjukkan penguatan dan diperkirakan akan bertahan hingga Maret. Penguatan La Nina hingga skala moderat atau menengah ini akan berdampak terhadap lebih basahnya wilayah Indonesia.

Fenomena La Nina menunjukkan penguatan dan diprediksi akan memengaruhi pola musim di Indonesia tahun ini. Saat ini, dinamika cuaca harian kembali dipengaruhi siklon tropis yang muncul di pantai utara Australia barat, sekitar 990 kilometer sebelah selatan barat daya Pulau Rote.

Penguatan La Nina hingga tahap moderat atau menengah, dari prediksi sebelumnya lemah, disampaikan Climate Prediction Center dan International Research Institute for Climate and Society dalam siaran pers, Kamis (11/1). Disebutkan, La Nina akan bertahan hingga Maret dan kemudian melemah lagi.

La Nina merupakan fenomena iklim global yang dipicu oleh lebih rendahnya suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik daripada area sekitarnya. Berkebalikan dengan El Nino, La Nina biasanya berdampak terhadap terjadinya potensi hujan yang turun di sepanjang perairan Pasifik Ekuatorial Barat, meliputi Indonesia, Malaysia, dan juga bagian utara Australia.

Kepala Bidang Informasi dan Prediksi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ramlan mengatakan, indikasi La Nina skala moderat akan berdampak terhadap lebih basahnya wilayah Indonesia.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO–Sejumlah anak bermain di Kanal Banjir Barat, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (12/1). Rendahnya intensitas hujan pada musim hujan kali ini membuat aliran air di Kanal Banjir Barat surut.

”Namun, yang lebih berdampak La Nina wilayah tengah dan timur serta hanya di sebagian kecil wilayah Indonesia barat seperti Kalimantan Barat dan Jawa bagian timur,” katanya.

Berdasarkan data statistik yang direkam ketika La Nina aktif pada tahun 1998, 1999, dan 2000, hujan di wilayah Jabodetabek pada Januari ini secara statistik malah di bawah rata-rata normalnya. Namun, hujan akan menguat di atas normal pada bulan Februari.

Sebelumnya diperkirakan, Januari-Februari akan menjadi puncak musim hujan. Dibandingkan dengan periode sama Januari 2017, intensitas hujan di Jabodetabek bulan ini lebih kecil. Kini hari tanpa hujan 1-5 hari, tetapi hujannya lingkup kecil dan tak merata. Dinamika monsun dan aktifnya La Nina memengaruhi kurangnya intensitas hujan.

Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan mengatakan, prediksi La Nina yang kembali netral ketika memasuki April, artinya periode masuknya musim kemarau di Indonesia masih cenderung normal. Menurut Dodo, La Nina biasanya akan berdampak pada pendeknya musim kemarau.

Siklon tropis
Dinamika cuaca harian di Indonesia hingga saat ini masih tidak menentu. Pusat Siklon Tropis Jakarta, BMKG kembali mengeluarkan peringatan tentang kemunculan siklon tropis Joyce. Kali ini siklon terbentuk di pantai utara Australia barat, sekitar 990 kilometer sebelah selatan barat daya Pulau Rote.

Siklon itu bergerak ke arah selatan barat daya dengan kecepatan 7 knot atau 14 kilometer per jam, bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Sementara kecepatan angin maksimum di tepi pusarannya mencapai 40 knot atau 75 kilometer per jam.

Sekalipun berada jauh dari Indonesia, tetapi kemunculan siklon ini akan berdampak memicu hujan lebat di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Sementara angin kencang, selain berpotensi terjadi di Nusa Tenggara juga berpotensi di Bali.

Gelombang laut dengan ketinggian 1,25 meter hingga 2,5 meter diprediksi terjadi di Laut Sawu, Selat Ombai, dan Selat Sumba bagian barat. Adapun gelombang laut setinggi 2,5 meter hingga 4 meter berpotensi terjadi di perairan selatan Bali hingga Pulau Sumbawa, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas bagian selatan, perairan selatan Pulau Sumba-Pulau Sawu-Pulau Rote, dan Laut Timor selatan. (AIK)

Sumber: Kompas, 13 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: