Home / Berita / Astronomi / Kutub Magnet Bumi Bergeser

Kutub Magnet Bumi Bergeser

Pergeseran kutub magnet Bumi sejatinya fenomena alami yang terjadi sejak Bumi terbentuk. Namun saat banyak teknologi modern menjadikannya sebagai penjuru, masalah pun muncul.

Kutub utara magnet Bumi terus bergerak dari utara Kanada menuju Siberia, Rusia. Pergeseran posisi kutub utara magnet itu sudah dicatat sejak abad ke-19. Namun, pergeseran kutub utara magnet itu kian cepat. Selama 120 tahun terakhir, posisi kutub utara magnet Bumi telah bergeser lebih dari 1.100 kilometer (km).

Kutub utara geografis Bumi berada pada garis 90 derajat lintang utara. Posisi kutub utara geografis itu ada di Samudera Arktik. Dia bersifat tetap dan jadi acuan arah utara pada peta atau utara sebenarnya.

Sementara itu, kutub utara magnet Bumi memang tidak berhimpit dengan kutub utara geografis. Kutub utara magnet inilah yang dijadikan penjuru arah utara-selatan oleh jarum kompas penunjuk arah.

Karena utara jarum kompas tidak menunjukkan arah utara sebenarnya atau utara geografis, maka pengguna kompas di daerah lintang tinggi selalu memakai data koreksi untuk menuju arah utara sebenarnya. Namun saat pergeseran kutub utara magnet itu makin cepat, masalah pun muncul.

“Sejak 1980-an, pergeseran posisi kutub utara magnet itu makin cepat,” kata Kepala Subbidang Analisis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Suaidi Ahadi di Jakarta, Senin (21/1/2018).

Pada tahun 1900, posisi kutub utara magnet berada di garis 70 derajat lintang utara di utara Kanada. Dikutip dari situs Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA), kecepatan pergeseran kutub utara itu mencapai 16 km per tahun pada awal abad ke-20 dan menjadi 64 km per tahun pada beberapa dekade terakhir.

Kutub utara magnet itu diperkirakan akan ada di dekat kutub utara geografis Bumi pada 2020. Jika arah pergeseran itu tetap, kutub utara magnet Bumi ke depan akan ada di wilayah Siberia, Rusia.

Guru Besar Kemagnetan Batuan di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Satria Bijaksana menegaskan belum jelas apa penyebab pasti yang membuat kutub utara magnet bergeser dan bergerak makin cepat. Dugaan penyebab yang ada selama ini lebih bersifat spekulasi.

“Medan magnet Bumi tidak statis, tapi dinamis,” katanya.

Meski demikian, pergeseran kutub utara magnet itu diyakini terjadi akibat dinamika dari inti Bumi bagian luar yang berupa fluida serta kaya akan besi dan nikel. Pergeseran kutub utara magnet itu bukan dipicu oleh benda lain di Tata Surya di luar Bumi.

“Kondisi inti Bumi, perbedaan suhu antarlapisan Bumi dan gaya tarik Matahari membuat Bumi berputar hingga menghasilkan medan magnet,” tambah Suaidi.

Kondisi inti Bumi, perbedaan suhu antarlapisan Bumi dan gaya tarik Matahari membuat Bumi berputar hingga menghasilkan medan magnet.

Walau belum diketahui penyebabnya, pergeseran itu sebenarnya juga terjadi pada kutub selatan magnet Bumi. Namun karena di sekitar kutub selatan Bumi itu lebih banyak berupa lautan dan daerah tak berpenghuni maka dampaknya tidak sebesar di utara.

Lumrah
Pergeseran kutub magnet Bumi, bahkan hingga berkebalikan dengan posisi sekarang, sebenarnya merupakan peristiwa alamiah Bumi. Sejak Bumi terbentuk 4,5 miliar tahun lalu hingga sekarang, kutub magnet Bumi itu diperkirakan sudah terjadi ratusan kali.

Selama 20 juta tahun terakhir, pembalikan arah kutub magnet itu terjadi antara 200.000 hingga 300.000 tahun sekali. Namun, catatan terakhir perubahan arah kutub magnetik yang terdeteksi pada pembentukan lapisan batuan Bumi itu terjadi pada 780.000 tahun yang lalu.

“Dari rekaman batuan, perubahan arah medan magnet yang berkebalikan itu tidak sampai menimbulkan kepunahan massal makhluk hidup karena proses transisinya bisa mencapai 10.000-25.000 tahun, bukan perubahan yang tiba-tiba” kata Satria.

Kondisi itu membuat pergeseran kutub magnet yang saat ini terjadi masih terlalu kecil jika dilihat dalam skala waktu geologi. Namun, manusia tidak perlu khawatir karena perubahan itu diperkirakan tidak berdampak pada manusia.

Meski demikian, di era modern, perubahan kutub magnetik yang terlalu cepat itu menjadi persoalan serius bagi berbagai teknologi manusia yang membutuhkan navigasi dan menggunakan kutub utara magnet sebagai penjuru arah.

Pergeseran yang cepat itu membutuhkan data koreksi atas perbedaan kutub utara geografis dengan kutub utara magnet Bumi yang akurat. Jika tidak, proses navigasi akan gagal hingga obyeknya melenceng dari sasaran sebenarnya.

Proses navigasi yang terpengaruh dengan perubahan posisi kutub utara magnetik Bumi itu antara lain, navigasi kapal laut, sistem navigasi berbasis satelit (GNSS) di gawai, navigasi satelit hingga penentuan arah pengeboran mineral atau minyak dan gas Bumi.

“Untuk proses navigasi di daerah sekitar khatulistiwa, seperti Indonesia, tidak akan berdampak besar. Namun di daerah lintang tinggi, sedikit kesalahan dalam menentukan arah bisa membuat obyek melenceng jauh,” tambah Satria.

Meski demikian, lanjut Suaidi, dampak pergeseran kutub magnetik itu lebih luas dari sekedar dampak ekonomi navigasi semata. Perubahan posisi itu akan memicu keseimbangan baru Bumi.

Pergeseran kutub magnetik Bumi yang makin cepat itu diyakini turut memengaruhi arah pergerakan lempeng Bumi hingga memicu banyak gempa dengan kekuatan yang tidak terlalu kuat karena energinya tersebar.

“Masyarakat tidak perlu takut, namun harus memahami bahwa arah gerak lempeng Bumi dipengaruhi arah kutub magnet,” katanya.

Selain itu, pergeseran kutub magnetik itu juga memengaruhi gerak arus laut global yang berdampak pada terjadinya La Nina dan El Nino hingga perubahan iklim.

Luasnya dampak pergeseran kutub magnet itu membuat penyusunan peta International Geomagnetic Reference Field (IGRF) yang baru jadi penting. IGRF terakhir disusun pada 2015 dan BMKG terlibat di dalamnya. Sesuai kecepakatan global, IGRF diperbaharui tiap lima tahun sekali.

GEOMAG.BGS.AC.UK–Peta deklinasi (beda sudut antara kutub utara magnetik dan kutub utara geografis) International Geomagnetic Reference Field (IGRF) 2015

IGRF dinilai bermakna lebih luas dibanding peta Model Magnetik Global (WMM) yang dipakai untuk navigasi. WMM itu direncakan akan diluncurkan 30 Januari 2019 mendatang, mundur dari rencana 15 Januari akibat lumpuhnya (shutdown) pemerintahan AS.

“Meski tidak bisa dilihat dan dirasakan, medan magnet bermanfaat penting bagi kehidupan,” kata Suaidi.–M ZAID WAHYUDI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 23 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: