Home / Berita / Kurang Dihargai di Indonesia, Pembuat Mobil Listrik Pilih Pulang ke Jepang

Kurang Dihargai di Indonesia, Pembuat Mobil Listrik Pilih Pulang ke Jepang

Karya anak bangsa yang bisa membanggakan dunia, belum tentu mendapat tempat di negeri sendiri. Kekhawatiran Ricky Elson, si pembuat mobil listrik itu akhirnya terbukti. Ia pun tak ingin lama-lama kecewa. Daripada ilmunya sia-sia, kini si pemuda asli Padang ini memilih ingin kembali ke negeri Sakura.

Sekian lama Ricky menunggu izin mobil listrik yang dibuatnya bersama Menteri BUMN Dahlan Iskan. Berharap mobil listrik bernama Selo dan Gendhis itu, dapat menjadi inspirasi kelahiran mobil listrik buatan anak negeri. Namun apa daya, izin mobil listrik buatan pria kelahiran Padang 11 Januari 1980 itu tak kunjung keluar. Bahkan terkesan digantung oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

“Saya tak bisa lagi menahannya (untuk pulang ke Jepang). Dulu saya bermohon-mohon agar pemuda ini mau kembali ke Indonesia. Ilmunya soal mobil listrik sangat berguna. Tapi ternyata benar, ilmu itu tidak dihargai di negerinya sendiri. Dia masih muda, masa depannya masih panjang,”. Begitulah pernyataan kecewa yang diungkapkan Dahlan Iskan, perihal rencana Ricky kembali ke Jepang.

Dahlan yang ditemui wartawan di rumahnya di Surabaya, Rabu (9/4) pantas kecewa. Semangatnya melahirkan mobil masa depan, mobil listrik buatan anak negeri, ternyata tidak mendapat sambutan baik dari koleganya di Kemenristek. Padahal untuk membuat mobil listrik, Dahlan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan untuk memaksa Ricky mau kembali ke Indonesia, Dahlan sampai rela seluruh gajinya sebagai menteri diberikan pada Ricky.

“Ricky ini sudah 14 tahun di Jepang. Ia sudah memiliki hak paten internasional mobil listrik di sana. Saya merayunya habis-habisan agar mau kembali ke Indonesia. Dia sempat takut dengan resiko gajinya turun dan belum tentu ilmunya dihargai. Saya terus yakinkan dia dan memberikan seluruh gaji saya tiap bulan untuknya. Saya minta dia membangun mimpi mobil listrik buatan anak Indonesia, akhirnya dia mau dan kita buat Tucuxi, Selo dan Gendhis,” kisah Dahlan mengenai awal perkenalannya dengan Ricky.

“Namun ternyata, kekhawatiran Ricky terjadi. Ternyata sambutan dalam negeri (soal mobil listrik) tidak baik. Tidak ada kepastian dan tidak ada ketentuan yang jelas. Saya harus minta maaf pada Ricky. Saya bayangkan dulu orang dari luar negeri kalau pulang bisa dimanfaatkan, ternyata tidak,” tambah Dahlan masih dengan nada kecewa.

Dahlan seolah kehabisan alasan untuk tetap menahan pemuda cerdas itu bertahan di Indonesia. Apalagi hingga saat ini, Kemenristek tak jua memberikan penjelasan, mengapa izin itu belum dikeluarkan. Padahal mobil-mobil listrik buatan Ricky, sudah pernah mejeng di acara KTT APEC di Bali.

“Kalau sampai satu atau dua bulan ini tidak ada kejelasan, saya harus izinkan dia (Ricky) pulang ke Jepang. Dia ini anak muda yang cerdas. Masa depannya masih panjang. Saya tidak mau menggantung masa depannya dengan bertahan di Indonesia,” kata Dahlan.

Izin yang Tak Kunjung Keluar
Mobil listrik Tucuxi, Selo dan Gendhis telah lama selesai. Mungkin ini bukan mobil listrik pertama yang dibuat di Indonesia. Namun inilah jajaran mobil listrik yang pertama kali dikerjakan seluruhnya oleh putra putri bangsa.

Untuk mendapatkan izin ketiga mobil listrik ini, pada awalnya Dahlan meminta surat izin mobil listrik kepada Kementerian Perhubungan, namun kementerian tersebut tidak bisa memberikan izin.

“Akhirnya Kemenhub dan Menristek bicara dan akhirnya urus izin di Menristek. Ini sedang kita urus,” kata Dahlan menjawab wartawan beberapa bulan lalu.

Namun seiring berlalunya waktu, izin dari Kemenristek tak kunjung ada kejelasan. Padahal Menristek Gusti Muhammad Hatta pernah memuji mobil listrik Selo saat melakukan ujicoba.

Berbagai carapun sudah ditempuh bekas Dirut PLN ini agar mengantongi izin menggunakan mobil bernama ‘Selo’ itu. Dari mengirim pesan singkat (SMS), telephone, hingga mengirimkan surat pribadi pada Kemenristek. Hanya saja, upayanya hingga kini tak berbuah manis.

“Saya sudah kirim surat pribadi, sebagai salah satu orang yang bisa kendarai mobil listrik itu untuk uji coba. Sampai sekarang enggak dibales. Saya udah SMS, telepon juga sudah. Jawabannya cuma ‘ya’ saja, tapi tidak dikasih izinnya,” papar Dahlan heran.

Menteri yang ogah pakai pengawalan ini juga bingung, beberapa bus listrik yang juga masih nangkring di Kemenristek masih kesulitan keluar izinnya. Padahal secara tak langsung, bus-bus listrik itu sudah melewati jarak jauh, dari Jakarta-Bandung-Yogjakarta-Jakarta.

“Kalau mobil listrik warna hijau waktu itu pernah saya kendarai sendiri sampai 1000 km. Maksud saya gitu, kalau saya pakai dulu terus baru dikritik apanya saja yang kurang, tapi ini mau dipakai enggak bisa,” sesal mantan Dirut PLN ini.

Perkenalan Ricky Elson dengan Dahlan
Saat kunjungannya ke Balikpapan beberapa waktu lalu, Kaltim Pos (Grup JPNN) sempat membuat laporan mengenai sosok Ricky Elson. Pemuda kelahiran tahun 1980 ini menempuh pendidikan sarjana hingga program master di Jepang. Ia mengambil ilmu spesifikasi Teknik Mesin di Polytechnic University of Japan. Dia selalu jadi lulusan terbaik hingga dilirik seorang profesor di sana yang merupakan perancang motor di Nidec Corporation. Ricky pun memenuhi tawaran itu.

Meski sempat kesulitan, Ricky berhasil beradaptasi. Bahkan, dia jadi andalan di perusahaan tersebut. Banyak pelajaran berharga didapatkan Ricky di sana. Terutama untuk menumbuhkan semangat kerja. Di perusahaan tersebut, kalimat motivasi jadi cambuk semangat karyawan. Yakni; segera kerjakan, pastikan kerjakan, dan kerjakan sampai selesai!

Selain itu, perusahaan-perusahaan di Jepang punya pengertian sendiri bagi setiap jenjang pendidikan. S-1 misalnya. Artinya jenjang ini sekadar tahu bagaimana memecahkan masalah. Sedangkan S-2, bagaimana menemukan masalah dan menyelesaikannya. Terakhir, S-3 adalah bisa membuat masalah dan memecahkannya sendiri.

Berbagai filosofi Negeri Samurai ini rupanya membentuk karakter Ricky menjadi orang yang produktif. Buktinya, enam tahun sejak bekerja di Nidec Corporation, dia berhasil jadi andalan. Sekitar 80 persen produk perusahaan ini merupakan karya sang Putra Petir ini.

Adapun Nidec Corporation bergerak di bidang elektronik, memproduksi elemen motor presisi alias mikromotor.

Selama 14 tahun di Jepang, Ricky telah menemukan belasan teknologi motor penggerak listrik yang sudah dipatenkan oleh pemerintah Jepang.

Namun demikian, di tengah kariernya yang sedang bagus, Ricky memilih kembali ke Indonesia. Dia turut membeberkan alasannya pada para mahasiswa kemarin. Pertemuan Ricky dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, ternyata menjadi titik segalanya.

Bermula dari pertemuan sekitar 3 jam itu, Dahlan melobi Ricky untuk pulang dan berkarya di Tanah Air.

Bagi Ricky, pertemuan serupa bukan hal baru. Ada beberapa tokoh nasional yang sebelumnya menemui Ricky dan menawarkan untuk bekerja di Indonesia. Dia dijanjikan banyak hal yang barang tentu menggiurkan. Gaji tinggi mulai puluhan juta sampai ratusan juta rupiah, hingga diberi perusahaan, sudah biasa didengarnya. Tapi dia selalu menolak. Kenapa kali ini berubah?

“Yang saya tangkap, Pak Dahlan Iskan itu berbeda. Dia tak kasih janji-janji. Hanya berkata ‘Sudah cukup Anda kerja di luar negeri. Maukah ikut dengan saya? Kita bersama-sama berbuat untuk Indonesia’,” ucap Ricky menirukan percakapan dengan Dahlan Iskan saat itu.

“Beliau sangat paham. Dia minta saya pulang. Saya pun tak tahu kenapa tak menolak padahal yang lain berani menggaji hingga dua kali lipat dari yang saya terima kala itu,” sambungnya.

Dahlan yang mengetahui bahwa tenaga dan pikiran Ricky dihargai sangat tinggi, saat itu mengaku tak bisa memberikan hal serupa.

Namun supaya Ricky mau, Dahlan tanpa pusing-pusing langsung menawarkan gajinya sebulan sebagai menteri BUMN, untuk menjadi bayaran Ricky tiap bulan.

Berkat kesamaan visi membangun Indonesia, akhirnya kesepakatan tercapai. Apalagi, dia bertekad mau membalas jasa para guru yang membantunya bisa kuliah hingga ke Jepang. Ricky pun balik ke Indonesia dan memulai proyek mobil listrik Indonesia.

Selo dan Gendhis, mobil listrik karya Ricky yang sekarang jadi sorotan. Karya anak bangsa tak kalah dengan mobil sport buatan luar negeri. Padahal, durasi pengerjaannya hanya lima bulan. Selo memiliki kecepatan 250 kilometer per jam sedangkan Gendhis 180 kilometer per jam. “Karena mengejar untuk ditampilkan di APEC, motor dan controller-nya masih pakai buatan luar negeri,” sebutnya.

Menurut Ricky, langkah membuat mobil listrik saat ini sudah tepat. Beberapa waktu ke depan, dunia diprediksi beralih ke kendaraan listrik. Ini kesempatan buat Indonesia untuk memulai industrinya. Bahkan, bukan hanya Indonesia, seluruh negara saat ini turut berproduksi mobil listrik.

130335_449373_ricky_besar“Jika tidak dari sekarang, puluhan tahun lagi akan dipertanyakan apa produksi Indonesia,” ucap Ricky. “Indonesia butuh penggagas. Dari sini diharapkan lahir pengembang mobil listrik lain,” sambungnya.

Cerita di balik pemberian nama mobil listrik karya Ricky ini turut dibeberkan. Mulanya, mobil tersebut bakal dinamai Gundala. Nama itu diambil dari tokoh fiksi pahlawan super yang dijuluki Putra Petir. Tapi, Gundala terlanjur jadi nama komik. Hingga muncul nama Selo dari legenda Ki Ageng Selo yang dikenal dapat menangkap petir. Akhirnya nama inilah yang didaulat jadi nama mobil listrik Indonesia dengan model sedan sport.

“Kalau Gendhis, memang ingin dicari yang manis untuk mendampingi Selo. Jadi diambillah Gendhis yang artinya gula dari Bahasa Jawa,” imbuhnya.

Segera Pulang ke Jepang
Meski asli Indonesia, prestasi Ricky Elson justru mentereng di negeri Sakura. Di sana, ia sebenarnya telah menduduki jabatan penting. Yakni sebagai kepala Divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan generator NIDEC Coorporation, Kyoto, Minamiku-kuzetonoshiro cho388, Jepang.

Ilmu anak Padang ini, sedikitnya telah menghasilkan sekitar 14 teori mengenai motor listrik dan telah pula dipatenkan oleh pemerintah Jepang. Ia telah kembali ke tanah air, namun kini ia berencana untuk segera pulang kembali ke Jepang. Melalui akun facebooknya, pembuat kincir angin terbaik di dunia untuk kelas 500 watt peak ini mengaku, perusahaan di Jepang tempatnya bekerja dulu, terus mengirimi tawaran untuknya kembali. Apalagi menurutnya, saat ini Indonesia belum bersahabat untuk hasil-hasil karyanya.Oh Indonesia… (afz/jpnn)

Sumber: JPNN, Kamis, 10 April 2014 , 11:00:00
————-
Kamis, 10 April 2014 , 12:58:00
Pembuat Mobil Listrik: Saya Akan Terus Berkarya untuk Indonesia

Meski mendapatkan ilmu di Jepang dan menjadi salah satu orang Indonesia yang sukses di sana, pembuat mobil listrik Ricky Elson, masih sangat mencintai tanah airnya.

Pada JPNN ia pun mengklarifikasi mengenai rencana kepulangannya ke Jepang yang disebut karena kecewa izin mobil listrik buatannya tak kunjung keluar.

“Indonesia tak butuh saya. Justru saya yang butuh Indonesia. Berita soal saya kecewa dan merasa tak dihargai, itu tidak benar. Justru saya masih sangat bersemangat, berkarya untuk tanah air,” kata Ricky saat dikonfirmasi, Kamis (10/4).

Namun Ricky tidak membantah, bila pimpinan tempatnya bekerja di Jepang, memang terus menawarinya pulang ke negeri Sakura. Di sana Ricky memang bukan karyawan biasa. Ia menjabat sebagai kepala Divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan generator NIDEC Coorporation, Kyoto, Minamiku-kuzetonoshiro cho388, Jepang.

Putra asli Padang kelahiran tahun 1980 ini, menjadi salah satu kebanggaan para dosen dan tempatnya bekerja. Dari tangannya telah dihasilkan sekitar 14 teori mengenai motor listrik. Semua teori itu telah dipatenkan oleh pemerintah Jepang atas namanya.

“Memang atasan saya menelpon dan memberi tenggat waktu sebelum habis April, saya diharapkan bisa kembali ke Jepang. Tapi untuk mengambil keputusan itu, saya masih harus berdiskusi dulu dengan Pak Dahlan Iskan,” kata Ricky.

Bagi Ricky, sosok Dahlan memang bukan sebatas seorang Menteri. Berkat Dahlan-lah, Ricky yang telah 14 tahun hidup di Jepang, bersemangat untuk kembali ke Indonesia guna mengembangkan mobil listrik. Hingga dari kreasi mereka, lahirnya mobil listrik bernama Tucuxi, Selo dan Gendhis. Meski hingga saat ini, izin mobil listrik itu tak kunjung keluar.

“Namun saya ke Indonesia, bukan hanya karena ada Pak Dahlan. Tapi karena memang niat saya ingin kembali mengabdi ke Indonesia. Kalaupun saya kembali (ke Jepang), bukan karena saya kecewa atau tidak dihargai di Indonesia. Justru saya merasa sangat dihargai. Apapun yang terjadi (dengan izin mobil listrik), saya akan terus berusaha membuat mobil listrik,” tegas Ricky.

Tawaran kembali ke negeri Sakura, memang menjadi dilema tersendiri bagi Ricky. Di satu sisi, ia merasa memiliki tanggungjawab untuk terus mengembangkan ilmu dan kemampuannya. Semua itu hanya bisa didapatkannya bila berada di Jepang, negara yang sudah maju di bidang teknologi.

Sementara di sisi lain, Ricky juga sangat mencintai Indonesia, tanah kelahirannya. Hal itu ditunjukan Ricky dengan berkeliling nusantara memberikan kuliah khusus ke berbagai kampus. Pemuda cerdas ini juga terus melakukan berbagai penelitian dan mengembangkan pembangkit listrik di daerah-daerah pedalaman.

Ia kini sedang aktif melakukan penelitian di Ciheras, Tasikmalaya mengenai pembangkit listrik tenaga angin. Bahkan kini kincir angin hasil rancangan Ricky, menjadi yang terbaik di dunia untuk kelas 500 watt peak.

“Sebenarnya di Indonesia tidak ada yang kurang. Justru kita jauh lebih pintar dari negara-negara lainnya. Hanya saja disini kita tidak ada kesatuan visi. Kita tidak bersaing dengan negara lain, tapi justru bersaing dengan persoalan bangsa kita sendiri. Saling menjatuhkan dan tidak bisa bersaing sehat. Ini yang membuat kita tertinggal khususnya di bidang teknologi dengan bangsa lainnya,” kata Ricky menjelaskan.

Perihal izin mobil listrik yang tak kunjung keluar, Ricky menilai semuanya masih sesuai koridor. Meski harus diakui, prosedur izin mobil listrik di Indonesia, lebih rumit bila dibandingkan dengan Jepang.

“Tapi secara umum saya menilainya masih on the track. Kondisi ini bagi saya bukan suatu keterlambatan. Saya tidak pernah memburu mobil itu harus siap kapan. Karena kalaupun izin keluar hari ini, Indonesia belum siap secara keseluruhan. Mobil listrik yang kita ciptakan, masih belum layak disebut produk. Tapi masih sebatas riset,” ungkap Ricky.

Bila dibandingkan Jepang, mereka sudah memiliki road map yang jelas untuk mengembangkan mobil listrik. Sedangkan di Indonesia, penggunaan mobil listrik masih belum didukung lembaga riset dan teknologi yang memadai.

“Di kita mungkin baru siap untuk 10-20 tahun mendatang. Karena semuanya harus disetarakan dulu. Kalaupun akhirnya izin keluar tapi infrastruktur belum ada, tetap saja percuma. Meski begitu, soal izin tentunya penting agar bisa lanjut ke tahapan berikutnya,” kata Ricky.

Jika memang tak kecewa, apakah Ricky tetap akan kembali ke Jepang dan meninggalkan mimpi bersama Dahlan Iskan, untuk mengembangkan mobil listrik buatan asli anak Indonesia?

“Saya ini tidak ada apa-apanya. Banyak sekali orang pintar Indonesia yang jauh lebih pintar dari saya. Soal saya ke Jepang atau tidak, itu harus saya diskusikan dulu dengan Pak Dahlan Iskan. Terlalu terburu-buru untuk diberitakan saat ini,” kata Ricky menutup perbincangan.(afz/jpnn)
——————
Kamis, 10 April 2014 , 13:55:00
Dilema ‘Sang Putra Petir’ Pembuat Mobil Listrik

Nama Ricky Elson, menjadi sorotan publik Indonesia, saat putra asli Padang kelahiran tahun 1980 ini diperkenalkan sebagai pembuat mobil listrik, yang diinisiasi oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Jadi sorotan bukan hanya karena kecanggihan mobil listrik, tapi juga karena sosok Ricky yang masih sangat muda (33 tahun), namun telah memiliki prestasi mendunia.

Ia menghabiskan waktu selama 14 tahun di Jepang. Ia tidak hanya menjadi mahasiswa cerdas, tapi juga inspirator bagi penggiat teknologi di sana. Ia menjadi andalan di Nidec Corporation, sebuah perusahaan ternama di Jepang yang bergerak di bidang elektronik, memproduksi elemen motor presisi alias mikromotor.

Sekitar 80 persen produk perusahaan ini merupakan karya pemuda yang disebut Dahlan sebagai ‘sang Putra Petir’ ini. Bahkan sekitar 14 teori mengenai motor listrik, telah pula dipatenkan oleh pemerintah Jepang atas namanya.

Meski sukses di Jepang, namun rasa cintanya pada tanah air terus memanggil Ricky untuk pulang. Ia pun meninggalkan Jepang. Membuat berbagai riset dan berbagi ilmu dengan para juniornya. Tidak hanya menggarap mobil listrik bernama Tucuxi, Selo dan Gendhis bersama Dahlan Iskan, Ricky ‘blusukan’ ke pedalaman di Ciheras, Tasikmalaya, untuk membuat pembangkit listrik tenaga angin. Ia berhasil!

Penelitian di Ciheras, Tasikmalaya mengenai pembangkit listrik tenaga angin hasil rancangan Ricky ini, bahkan menjadi yang terbaik di dunia untuk kelas 500 watt peak. Namun kini setelah beberapa tahun meninggalkan Jepang, Ricky yang masih tetap digaji karena perusahaan tak rela kehilangan talentanya, justru kini sedang dihadapkan pada dilema.

“Saya sampai saat ini masih tercatat sebagai karyawan di sana. Jadi saya ditunggu mereka untuk pulang ke Jepang sebelum akhir April,” kata Ricky pada JPNN, Kamis (10/4).

Hingga saat ini, permintaan itu belum kunjung dijawab Ricky. Sebelumnya mengenai rencana kepulangannya ke Jepang ini, sempat ramai di berbagai media sosial.

Terutama facebook Ricky yang selalu diikuti oleh banyak pengagum sosok muda inspirator ini. Dalam salah satu statusnya di facebook, Ricky memang sempat menulis tentang tentang tawaran pulang ke Jepang.

“Galau tingkat tinggi, dari semalam dan barusan di Telp beberapa Pimpinan Pershn di Jpn, “udah cukup main2 di Indonesianya” diminta (diperintahkan) balik ke Jepang lagi , akhir April ini, kembali sebagai Engineer for R&D electric motor and applications lagi.ditutup dengan “Sangat banyak yg bisa anda kerjakan disini” …Heeemmmmh. Bagaimana dengan adik2ku di Ciheras ini? 2014/4/2″.

Begitulah tulisan Ricky yang sempat menjadi pertanyaan banyak pihak.

“Saya memang ditawari segera pulang. Tapi saya masih bersemangat dan sangat bersemangat untuk terus berkarya di Indonesia,” kata Ricky saat ditanyakan tentang rencananya ke depan.

Ricky memang banyak menyimpan harapan suatu ketika tekhnologi di tanah air bisa bersahabat dengan ilmu yang sudah diserapnya di negeri orang. Seperti yang dituangkannya dalam sebuah catatan, di laman facebooknya beberapa waktu lalu ini:

2 hari yg lalu saya baru “diberikan” ide oleh NYA,
Hari ini saya digalaukan utk mewujudkannya di Indonesia atau di Jepang,

Sudah dengan keyakinan yg melewati pengujian bahwa
Kincir Angin yg sering saya posting dan telah saya kembangkan 3tahun ini,
Telah menjadi yg terbaik didunia, utk kelas 500 Watt peak.
Walau Generator dan Sistem Charging Controllernya masih
Harus saya produksi dengan bantuan perusahaan saya yg diJepang,
Baling2nya.. hari ini dan kemaren setelah beberapa kali prototipe dari teman2 pengrajin pinus,
Telah membuktikan hasil yg jauh dan jauh lebih bagus dari Air-40 dengan blade Fiber buatan
Perusahaan Southwest Amerika itu( 3kali lipat lebih),
Dengan harga yg 40% lebih murah dibandingan FOB mereka yg $850.

Ya, terbaik didunia, namun masih saja…
Harga itu mahal karna saya harus mengimpor Generator dan Controller ya
Dari perusahaan saya bekerja…
Iyaaa saya tahu kita bisa membuatnya….
Karna keduanya saya yang meran cangnya….
Iyaaa.. saya sudah titipkan dan bocorkan teknologi ini pada sebuah institusi di negri ini,
Dan mereka sudah bisa mengembangkannya.. masih skala prototipe, masih butuh waktu…

Namun rakyat tak bisa menawar waktu,
Mereka ingin segera…
Ingin segera dengan kincir Angin yg murah…
Harus jauh lebih murah dari PLT Surya…
Harus dengan Blade yang murah…
Buatan Indonesia yg berkualitas dan tidak murahan,
Harus dengan generator buatan indonesia yg murah dan berqualitas Jepang.
Harus dengan kontroller indonesia yg berkualitas jepang..
Agar kita bisa bikin segera turbin Angin yg lain,
Agar kita bisa segera mengembangkan pembangkit listrik skala mikro yg lain,
Hingga PLN kita mampu berbenah…
Agar kita bisa segera kembangkan mobil2 listrik yg lain…
Agar adik2yg ingin lomba mobil listrik tak lagi bingung mencari sisa motor listrik bekas ke Glodok..
Semuanya bisa dan pasti bisa insyaAllaah….

Waktu tak mau menunggu saya ada dana riset dulu…
Waktu tak mau menunggu , adik2 engineer muda rela bertahan bersama dengan sekedar uang jajan spt masa kuliah..
Untuk segera bersama berinovasi mengembangkan semua harapan diatas…
Waktu tak mau menunggu….

Kemarin inspirasi baru teknologi kincir Angin yg akan merubah
Paradigmapembangkit listrik skala mikro saya temukan…

Maaf.. telah “dipertemukan dengan saya”…
Bernama “Hexagon-pillar windturbin” (sementara)
Yang akan jauh lebih murah dari segi Cost, dan
Mudah diwujudkan di Indonesia.
Saya harus segera mewujudkannya….disini
Segera…..Semoga Allaah memudahkan,
Dan Semoga teman2 engineer muda yg pernah mengembangkan VAWT…
Bersedia ikut bersama saya mewujudkan ini….
Saya butuh teman2 yg bisa simulasi CFD ( Fluent dll)
Desain diungkapkan di Ciheras atau melalui pertemuan lansung.

Bismillaah.
Salam kebangkitan Renewable Energi
Demi kejayan Negri.

2014/4/2
Ciheras.

Untuk mempertahankan Ricky agar tetap di Indonesia, melakukan penelitian dan pengembangan tekhnologi, Dahlan Iskan bahkan rela seluruh gajinya sebagai menteri BUMN diberikan pada pemuda cerdas ini. Namun bagi Ricky, itu bukan poin pentingnya. Ia mengaku sangat menikmati mentransfer ilmunya untuk kepentingan bangsa.

“Saya akan terus bersemangat, meski tekhnologi di kita belum sama dengan mereka ( di Jepang). Sebenarnya, kita jauh lebih mampu dan bisa mengalahkan tekhnologi mereka. Sayangnya kita tidak memiliki satu visi bersama untuk maju. Kita sering bersaing dengan sesama kita,” sesal Ricky yang mengaku harus berdiskusi lebih dulu dengan Dahlan Iskan, perihal tawaran untuk kembali ke Jepang.

Sementara Menteri BUMN Dahlan Iskan, mengaku tak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan Ricky. Meskis sudah menghibahkan seluruh gajinya, Dahlan bisa mengakui kalau ilmu Ricky jauh lebih dihargai di negeri orang daripada di negerinya sendiri.

“Saya harus minta maaf pada Ricky. Dia ini anak muda dan masa depannya masih panjang. Dia ini betul-betul dibutuhkan oleh perusahaannya di Jepang. Dalam sebulan atau dua bulan ini, kalau mobil listrik tak ada kejelasan, saya harus merelakan dia untuk pulang ke Jepang,” kata Dahlan dengan nada kecewa.(afz/jpnn)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: