Home / Berita / Kurang Air Berujung Maut

Kurang Air Berujung Maut

Berolahraga baik bagi kesehatan. Namun, berolahraga terlalu keras hingga akhirnya kekurangan air atau dehidrasi bisa berakibat fatal dan mengancam jiwa, seperti dialami sejumlah peserta lomba lari jarak jauh yang digelar di Serpong, Tangerang Selatan, akhir pekan lalu. Seperti mesin mobil yang mengalami panas berlebihan, tubuh pun bisa ”berhenti”.


Dehidrasi bisa terjadi kapan dan di mana saja, tak terbatas pada aktivitas olahraga. Misalnya, orang yang bekerja di tempat sejuk jarang minum air dan tak berkeringat, tetapi kerap buang air kecil. Itu bisa menyebabkan tubuh kekurangan cairan.

Orang kegemukan yang diet dengan mengurangi konsumsi garam dan karbohidrat, hanya mengonsumsi protein, dan tak banyak minum air, juga bisa dehidrasi. Ia akan banyak buang air kecil hingga dehidrasi.

Meski demikian, dehidrasi sangat mungkin terjadi ketika kita berolahraga saat tubuh butuh air untuk mendinginkan tubuh yang suhunya naik akibat beraktivitas fisik. Kondisi fisik, berat badan, cuaca, hingga pakaian jadi faktor yang memengaruhi terjadinya dehidrasi.

Kita kerap melihat orang berlari pada siang hari yang terik memakai pakaian berbahan parasut dengan harapan hal itu membantu membakar lemak tubuh. Namun, justru bukan lemak yang terbakar, yang terjadi adalah tubuh kehilangan banyak cairan lewat keringat, sel otot menciut, dan tenaga berkurang. Dehidrasi pun mengancam.

Secara umum, ketika kita berolahraga, suhu tubuh akan meningkat seiring kenaikan metabolisme tubuh. Badan perlu pendinginan agar suhu tubuh tak terlalu panas sehingga organ tubuh tetap berfungsi baik.

Mekanisme pendinginan bisa lewat keringat, udara panas, atau radiasi panas yang dikeluarkan tubuh. Sel membutuhkan air dan elektrolit untuk bekerja. Air juga diperlukan untuk membantu aliran darah dalam tubuh. Mekanisme pendinginan tubuh dengan keringat juga butuh air.

Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga dari Klinik Slim, Health, Sports Therapy Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Michael Triangto, jika tubuh terlalu panas saat berolahraga, bisa merusak sistem enzim. Enzim yang merupakan protein akan berubah jika terlalu panas sehingga merusak jaringan sel.

Ada beberapa tahapan yang terjadi saat suhu tubuh terlalu panas akibat dehidrasi. Tahapan itu tak selalu dialami berurutan. Karena itu, jika salah satu tahap dirasakan saat olahraga, kita dianjurkan istirahat dan minum.

Saat dehidrasi dan jaringan sel terganggu, otot anggota gerak akan kejang atau dikenal dengan heat cramps. Adakalanya seseorang yang dehidrasi dan tubuh terlalu panas tak mengalami ini dan langsung pingsan (heat syncope). Pada kondisi itu, kepala pusing, melayang, dan akhirnya pingsan. Heat syncope bisa disertai kejang atau kram.

Kehilangan cairan dan elektrolit tubuh berlebih pada tahap selanjutnya bisa menyebabkan mulut kering, haus, permukaan kulit jadi kering, keringat berkurang, dan suhu tubuh panas
(heat exhaustion). Kondisi panas tubuh berlebih (heat stroke) akibat dehidrasi bisa menyebabkan kejang, bahkan tak bisa kencing.

Karena itu, pada lari maraton, ada titik-titik di mana pelari yang menempuh jarak jauh tetap mendapat air. Selain untuk diminum, air juga disiramkan ke tubuh guna mendinginkan suhu. ”Sebaiknya disediakan air bagi pelari setiap 30 menit untuk menjaga tubuh pelari tak kepanasan. Apalagi jika olahraga dilakukan di luar ruangan dan tengah hari,” kata Michael.

Jika penderita heat stroke tak segera mendapat penanganan, gangguan organik menetap. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Sarwono Waspadji menjelaskan, dehidrasi menyebabkan darah kental sehingga aliran ke berbagai organ tak lancar. Akibatnya, fungsi metabolisme sel terganggu. Misalnya, aliran darah ke otak yang terganggu bisa menyebabkan stroke. Aliran darah tak lancar ke organ jantung bisa mengakibatkan serangan jantung.

Selain itu, dehidrasi dan heat stroke menyebabkan gangguan elektrolit sehingga organ tubuh terganggu. Dehidrasi akan membuat ginjal bekerja lebih keras sehingga terjadi kerusakan ginjal akut. Untuk memulihkan kondisi elektrolit tubuh, perlu air biasa dan air isotonik yang mengandung berbagai mineral garam.

Michael mengingatkan, jika tanpa persiapan benar, berolahraga bisa berbahaya bagi kesehatan. Salah satu yang harus disiapkan adalah air. (ADHITYA RAMADHAN)

Sumber: Kompas, 27 November 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: