Home / Berita / Koran Mati 20 Tahun Lagi?

Koran Mati 20 Tahun Lagi?

Internet bukanlah akhir koran cetak. Meski demikian, koran harus berubah, dengan mengonsentrasikan diri pada berita-berita yang berbobot dan berkedalaman.

Beragam media cetak yang masih hadir di Indonesia di tengah persaingan arus informasi di era digital.–Kompas/Iwan Setiyawan (SET)
06-01-2016

Philip Meyer, profesor emeritus University of North Carolina, Amerika Serikat dalam bukunya The Vanishing Newspaper (2004) memprediksi koran akan mati tahun 2043 atau sekitar 20 tahun ke depan. Sebelumnya, tahun 1990 Bill Gates juga sempat meramal bahwa koran akan berakhir pada 2000 tetapi meleset.

Meyer rupanya tidak terlalu pasti dengan hal itu. Ia meletakkan batas waktu yang cukup panjang dengan perhitungannya.

“Kalau koran sendiri bisa mengelola dan mengoreksi dirinya dengan baik dalam dua puluh tahun mendatang ini, perhitungan Meyer itu bisa jadi akan tidak terbukti sama sekali alias meleset seperti prediksi Bill Gates,” ucap Sindhunata, budayawan sekaligus jurnalis senior, Kamis (26/9/2019) di Yogyakarta.

Jadi kalaupun percaya akan perhitungan Meyer, sekurang-kurangnya dalam 20 tahun mendatang koran masih mungkin sekali hidup. Tapi, seperti dikatakan jurnalis Jerman, Heribert Prantl, koran sendiri malah suka mempercepat kematiannya.

Prantl mencontohkan bagaimana sebuah koran di Berlin yang dibeli oleh investor Inggris, David Montgomery, pimpinan Mecom-Holding pada 2005. Koran itu hendak dibenahi manajemennya. Celakanya, pembenahan dilakukan dengan mengusir kekuatan jurnalismenya sendiri.

Dalam tulisannya berjudul Die Zeitung is tot. Es lebe di Zeitung! (2010), Prantl menceritakan bagaimana manajemen koran tersebut memecat banyak jurnalis, menghemat pengeluaran untuk koresponden, mendangkalkan isi koran, dan mengubah pimpinan redaksi menjadi seperti pemimpin perusahaan sehingga koran tersebut menjadi kehilangan rohnya

Pendek kata, yang dipikirkan pemilik koran itu hanyalah sektor mana yang bisa mendatangkan uang. Sebaliknya, mereka tak mau bersentuhan lagi dengan hal yang memang harus mengeluarkan uang demi kebaikan koran, misalnya untuk memproduksi hasil-hasil peliputan berkualitas.

KOMPAS–Pekerja di percetakan PT Gramedia, Jakarta menginspeksi hasil cetakan koran pada fase akhir proses percetakan, Jumat (25/6).

Saling melengkapi
Lalu, bagaimana mengupayakan agar kehidupan koran bisa lebih panjang di tengah era digitalisasi yang serba cepat? Menurut Prantl, internet bukanlah akhir dari koran cetak.

Internet memang mengambil sebagian tugas dari koran cetak, tetapi internet bukanlah akhir dari koran cetak.

Internet memang mengambil sebagian tugas dari koran cetak. Internet menutup keterlambatan koran dalam mengkover kejadian. Dibanding dengan media internet, koran cetak pasti “ketinggalan langkah”. Tak mungkin “ketinggalan langkah” itu dikejar. Karena itu koran cetak tidak usah berkompetisi di wilayah itu. Tapi itu tidak otomatis berarti koran cetak tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan hanya menunggu mati.

Kata Prantl, koran cetak justru bisa mengkonsentrasikan diri pada hal-hal dan nilai-nilai seperti analisis, penggalian latar belakang, komentar yang tajam, pencarian bahasa yang berbobot dan menarik, investigasi hal-hal yang mendasar, pendalaman dan kedalaman. Hal-hal dan nilai-nilai itu jelas tidak diperhatikan dunia internet, karena itu kurang menarik baginya. Maklum, dunia internet lebih bernaluri untuk memburu kecepatan dan aktualitas,

“Sebenarnya tidaklah tepat mempertentangkan koran cetak dan internet. Keduanya justru saling melengkapi. Akan menjadi efektif, jika keduanya berkonsentrasi pada kekuatan dan kelebihannya masing-masing. Kekuatan internet adalah kecepatannya, sedang koran adalah refleksinya. Jika koran menyadari dan melakukan tugasnya itu, ia akan menjadi menarik, karena ia akan menjauhi pengulangan dan uniformitas yang itu-itu saja. Maka sekarang sudah lewatlah zaman koran yang sekadar memberi informasi. Zamannya adalah zaman koran yang bisa mencari dan membeberkan kemungkinan akan solusi,”ulas Sindhunata.

Untuk bisa menjalankan itu, tentu koran membutuhkan jurnalis-jurnalis dan redaktur-redaktur tangguh yang bisa menawarkan kedalaman, analisis dan latar belakang atas peristiwa-peristiwa yang terjadi, hingga pembaca merasa amat membutuhkannya. Tantangan ini justru bisa menjadi kesempatan luar biasa bagi koran, sebab inilah saatnya koran bisa membebaskan dirinya dari kelemahan-kelemahannya, dan tak lagi membuang waktu untuk bermanja dengan kekurangan-kekurangannya.

Pemimpin The Guardian Media Group Andrew Miller mengatakan, perusahaan media hanya akan bisa bertahan jika mereka bisa beradaptasi dengan waktu dan mau merangkul kemajuan teknologi yang terjadi. Miller menekankan perlunya media menciptakan jurnalisme berkualitas bagi pembaca bermutu demi mempertahankan jumlah pembaca.

Tak hanya koran cetak, di tengah era digitalisasi, media-media daringpun kini juga berjuang keras untuk bisa hidup. Mereka ditantang untuk mampu menemukan model-model bisnis baru dan terus mencari cara bagaimana memperkuat konten-konten jurnalistik agar bisa bertahan di tengah hegemoni kapitalisme.

“Kami mengumpulkan dana dari pembaca melalui langganan berbayar sejak 15 tahun yang lalu, jauh sebelum perusahaan-perusahaan media percaya bahwa ada orang yang bersedia mengeluarkan uang untuk membeli konten-konten berita daring,” ucap Pemimpin Redaksi Malaysiakini.com Steven Gan bulan lalu di Jakarta.

Steven meyakini bahwa siapa pun membutuhkan jurnalisme dalam beragam bentuk. Sebab, demokrasi adalah tentang para pemilih yang menentukan calon-calon pemimpin berdasarkan informasi-informasi. Munculnya pemimpin-pemimpin politik berkualitas hanya bisa terjadi jika publik mendapat asupan sumber-sumber berita yang kredibel dengan informasi-informasi faktual, bisa dipercaya, dan akurat.

”Kita harus membela jurnalisme. Kita harus memastikan peran jurnalis dalam merekam peristiwa, menyajikan fakta, dan membangun opini dipertahankan. Kita membutuhkan jurnalisme dalam bentuk apa pun. Percayalah, jurnalisme mampu memberdayakan, membawa perubahan, dan meningkatkan kehidupan,” katanya.

Dengan peran jurnalisme yang sedemikian penting, masih aktualkah prediksi Meyer tentang kematian koran 20 tahun ke depan? Sulit dibayangkan bagaimana kehidupan bernegara berjalan tanpa tuntunan informasi-informasi yang terverifikasi kaidah-kaidah jurnalistik. Bisa jadi, ramalan itu akan tumbang apabila awak koran bisa mengelola dan mengoreksi dirinya dengan baik dalam dua puluh tahun mendatang.

Oleh ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 27 September 2019

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
Share
%d blogger menyukai ini: