Home / Artikel / Konvergensi Tridarma Perguruan Tinggi

Konvergensi Tridarma Perguruan Tinggi

Esensi kemerdekaan yang ditawarkan memberikan kewenangan PT meramu bentuk-bentuk pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga memberikan dampak yang lebih relevan, strategis dan kontekstual.

Dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi dikenal istilah konvergensi digital, sebuah fenomena penggabungan beberapa kanal yang semula berjalan terpisah dan independen. Konvergensi ini sering dicontohkan dengan kasus 3C (computing, communication, content/media) dengan membandingkan produk yang mewakili masing-masing ”C” pada dua periode masa berbeda: pra-internet dan saat ini.

Di masa pra-internet, komputer, telepon, dan televisi adalah produk yang benar-benar berbeda, baik bentuk, teknologi yang digunakan, maupun cara kerjanya. Saat ini, fungsi ketiganya menyatu dan konvergen ke dalam telepon genggam yang dimiliki semua orang.

Konvergensi tak hanya terjadi pada level produk dan teknologi. Konsep Industri 4.0 juga dibangun di atas prinsip konvergensi dalam bentuk sistem siber-fisik yang menghapus batas-batas antara proses produksi di pabrik, kemampuan analitik data dari sistem komputasi, dan fungsi-fungsi tingkat tinggi yang dijalankan oleh manusia.

Di dunia bisnis, raksasa-raksasa bisnis melihat konvergensi sebagai mekanisme penguasaan secara global dengan cara menggabungkan kekuatan spesifik yang dimiliki perusahaan- perusahaan tertentu ke dalam strategi piping yang lebih besar dan terpadu. Facebook, misalnya, mengakuisisi Instagram, WhatsApp, Oculus VR, dan 53 perusahaan lain untuk membangun potensi bisnis yang lebih besar (Industry Leaders, 2020).

Konvergensi menawarkan blok-blok pembangun untuk menghasilkan sebuah produk atau layanan baru. Kanal-kanal yang tadinya terpisah kini bisa digunakan untuk membangun berbagai bentuk layanan ketika semuanya berada dalam satu genggaman. Inovasi bisa dilakukan dengan cepat melalui proses padu padan fitur yang ditawarkan kanal-kanal itu.

Sayangnya, konvergensi belum terjadi di sektor pendidikan tinggi di Indonesia. Ketiga pilar Tridarma yang menjadi ciri perguruan tinggi (PT) Indonesia masih dijalankan secara terpisah-pisah seperti 3C pada era pra-internet. Memang sudah ada upaya untuk memandang secara lebih terpadu, misalnya dengan mengintegrasikan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam proses pembelajaran, tetapi paradigma yang digunakan masih menempatkan ketiga darma pada kanal terpisah sehingga dampak yang dihasilkan tak terlalu besar.

Konvergensinya belum terbangun.
Di sisi lain, tantangan bagi PT kian berkembang. Laporan World Economic Forum (2018) tentang kebutuhan keterampilan di masa depan menunjukkan pergeseran yang cukup mendasar. Yang dibutuhkan kelak adalah keterampilan orde tinggi, yaitu keterampilan kognitif lanjut, keterampilan sosial dan emosional, serta keterampilan teknologi.

Kecenderungan global ini seharusnya mulai diantisipasi PT di Indonesia dengan mulai memikirkan perubahan yang perlu dijalankan karena kebutuhan-kebutuhan kontemporer itu tidak akan bisa dipenuhi oleh pelaksanaan Tridarma yang terkotak-kotak.

Membangun konvergensi
Bagaimana konvergensi Tridarma dapat membantu? Yang pertama perlu dilakukan adalah rekonstruksi pandangan mendasar terhadap ketiga pilar Tridarma. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat perlu dimaknai dan didefinisikan relevansinya dalam konteks kebutuhan masa depan. Batas-batas konseptual yang jadi sekat di antara pilar-pilar itu juga perlu dicairkan sehingga ide, konsep, manfaat, dan operasionalisasinya dapat mengalir secara lebih leluasa.

Selanjutnya konvergensi diwujudkan melalui proses komposisi ide, konsep, dan manfaat yang melibatkan pilar-pilar Tridarma. Ini adalah proses kreatif, analitis sekaligus intuitif, dan visioner. Hasilnya adalah tatanan konsep dan penyelenggaraan Tridarma yang lebih responsif terhadap kebutuhan masa depan.

Contohnya, keterampilan kognitif lanjut dapat dilatihkan kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran yang diwarnai keterampilan literasi lanjut, berpikir kritis dan sistemik, serta pengolahan data dan informasi, yang semua ini umum dilakukan di dunia penelitian.

Keterampilan sosial dan emosional dapat dibangun melalui proses pembelajaran yang terekspos ke pihak-pihak eksternal, yang umumnya ditemui dalam program-program pemberdayaan masyarakat atau kerja sama dengan industri. Proses inovasi juga dapat diakselerasi melalui konvergensi antara penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Pendekatan berbasis konvergensi memerlukan kemampuan melepaskan diri (unlearn) dari pandangan konvensional karena konvergensi Tridarma hanya dapat dibangun dengan pandangan yang holistik. Pilar-pilar Tridarma adalah aset dan potensi yang bisa dikomposisikan secara fleksibel untuk mencapai sasaran-sasaran PT yang adaptif terhadap perubahan zaman. Dalam hal ini, kebijakan Kampus Merdeka yang diluncurkan Kemendikbud awal tahun ini berperan strategis dalam proses unlearn yang dilakukan PT.

Esensi kemerdekaan yang ditawarkannya memberikan kewenangan untuk meramu bentuk-bentuk pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga memberikan dampak yang lebih relevan dan strategis dalam konteks kekinian. Mampukah dunia pendidikan tinggi memanfaatkan fenomena konvergensi untuk mempertahankan relevansinya? Atau kita malah akan semakin tertinggal dan akhirnya hilang?

Lukito Edi Nugroho, Dosen Fakultas Teknik UGM, Anggota Dewan Riset Nasional Komisi TIK.

Sumber: Kompas, 29 Juli 2020

Share
x

Check Also

Tantangan Kelola Riset dan Inovasi

Inovasi selalu multipihak dan bertahapan jamak. Ia tak pernah akan bisa dipaksa, tetapi prosesnya bisa ...

%d blogger menyukai ini: