Home / Berita / Konvensi Minamata; Emisi Merkuri Tantangan Global

Konvensi Minamata; Emisi Merkuri Tantangan Global

Masalah emisi zat kimia merkuri menjadi tantangan global karena berpindah dari satu negara ke negara lain melalui perdagangan dan proses industri. Merkuri adalah bentuk zat kimia yang tak bisa diubah dengan proses apa pun, tetap berada di permukaan, dan mudah menyebar.
“Tak ada negara bisa menyelesaikan masalah merkuri sendiri. Persoalan emisi merkuri (Hydrargyrum, Hg) merupakan masalah lokal, tantangan global,” ujar Yuyun Ismawati, penasihat senior Bali Fokus di sela-sela pertemuan Asia and the Pacific Regional Workshop in Support for the Ratification and Effective Implementation of the Minamata Convention on Mercury, di Jakarta, Selasa (17/3). Pertemuan berlangsung hingga Rabu (18/3).

Fakta saat ini, merkuri adalah salah satu komoditas perdagangan global. Merkuri banyak digunakan dalam pertambangan emas skala kecil (artisanal and small-scale gold mining/ASGM).

minamataData Program Lingkungan PBB (UNEP), 57 persen penggunaan merkuri ada pada kegiatan ASGM. Selain itu, emisi merkuri dalam jumlah besar juga dari pembangkit listrik menggunakan bahan bakar batubara. Indonesia, menurut Yuyun yang juga Koordinator IPEN Hub Asia Timur dan Asia Tenggara, memiliki lebih dari 850 ASGM.

Sementara itu, Joseph DiGangi dari IPEN-koalisi lebih dari 700 lembaga swadaya masyarakat sedunia-mengatakan, “Semua negara harus berkoordinasi mengatasi emisi merkuri karena merkuri yang telah tergali dari Bumi akan menyebar tetap dalam bentuk merkuri. Kami berkumpul untuk mendapat panduan bagaimana membuat persiapan nasional menuju ratifikasi.”

Konvensi Minamata tentang merkuri baru ditandatangani 128 negara, 10 Oktober 2013. Hingga kini, konvensi baru diratifikasi 10 negara dari target global 50 negara. Asia Pasifik merupakan negara pengemisi merkuri dalam jumlah cukup tinggi.

Penyakit Minamata
Pencemaran merkuri disorot dunia dan diakui penting dicegah setelah keracunan massal warga di Teluk Minamata, Jepang, tahun 1956, akibat mengonsumsi ikan mengandung Hg. Penderita mengalami kerusakan sistem saraf yang ditandai tremor hingga gangguan penglihatan. Polusi merkuri di Teluk Minamata berasal dari buangan limbah pabrik kimia Chisso Corp.

Konvensi Minamata untuk merkuri bertujuan melindungi kesehatan manusia dari keracunan merkuri. Pada pertemuan kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyajikan beragam perangkat mengurangi dampak merkuri terhadap kesehatan.

Perangkat itu di antaranya menghentikan penggunaan alat kesehatan seperti termometer (alat pengukur suhu tubuh ) dan sphygmomanometer (alat pengukur tekanan darah) yang mengandung merkuri. Pihak WHO juga membuat panduan pengamatan secara biologis (biomonitoring) di daerah terduga terjadi pencemaran merkuri.

Menurut Carolina Tinangon dari Direktorat Pembangunan, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup Ditjen Multilateral Kementerian Luar Negeri, Indonesia tahun ini memulai proyek percontohan di tujuh daerah untuk pelayanan kesehatan bebas merkuri. (ISW)
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Maret 2015, di halaman 14 dengan judul “Emisi Merkuri Tantangan Global”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: