Home / Artikel / Kontroversi Sekitar Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

Kontroversi Sekitar Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

PENGANTAR REDAKSI: BEBERAPA hari lagi bulan Ramadhan 1415 H akan segera tiba, saat mana umat Islam mulai berpuasa. Sampai saat ini di Indonesia masih sering terjadi perbedaan penentuan awal dan akhir bulan tersebut. Di halaman ini Djoni N. Dawanas staf Jurusan Astronomi dan Observatorium Bosscha, ITB menuliskan pandangannya dari sudut ilmiah, dilengkapi tulisan sejenis di halaman 11.

Penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan merupakan masalah sangat penting karena berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT. Meskipun begitu, sampai saat ini di Indonesia masih terjadi perbedaan penentuan awal dan akhir bulan tersebut. Sebagai contoh pada tahun 1992, Pemerintah Indonesia melalui Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama menetapkan tanggal 1 Syawal 1412 H jatuh pada hari Minggu 5 April 1992, tetapi di beberapa daerah banyak masyarakat muslim yang melaksanakan shalat Idul Fitri pada hari Jumat 3 April 1992. Hal yang sama terjadi dalam penentuan 1 Syawal 1413 H dan 1 Syawal 1414 H yang lalu.

Perbedaan penentuan awal bulan Hijriah seperti ini bukan hanya terjadi dalam penentuan Ramadhan atau awal bulan Syawal saja, tetapi juga sering terjadi dalam penentuan awal bulan Ramadhan. Perbedaan seperti ini memang sangat membingungkan dan mengundang pertanyaan masyarakat awam. Mengapa di alam era informasi serta dalam kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, masih terdapat perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal? Apalagi kalau pertanyaan tersebut dikaitkan dengan acuan yang digunakan dalam penentuan awal bulan Hijriah tersebut. Seperti sudah diketahui bersama, penentuan awal bulan Hijriah menggunakan Bulan sebagai acuan. Jadi kalau yang dijadikan acuannya sama maka seharusnya hasil penentuannya pun akan sama. Akan tetapi kenyataannya hasilnya berbeda.

Pertanyaan seperti ini sebetulnya klasik, karena hal yang sama telah dilontarkan seja zaman Menteri Agama Prof Dr H Mukti Ali, diulangi lagi oleh Bapak H Munawir Syadzali ketika menjabat menteri agama, dan yang terakhir Menteri Agama dr H Tarmizi Taher pada tahun 1994 lalu.

Kejadian yang sama mungkin akan terulang lagi tahun ini terutama dalam penentuan awal Ramadhan1415 H yang akan datang. Untuk mengantisipasi akan adanya dua atau tiga penentuan awal Ramadhan atau pun Hari Raya Idul Fitri yang berbeda, ada baiknya jika mengetahui bagaimana awal bulan dalam kalender Hijriah ditentukan dan juga mengapa terjadi perbedaan tersebut.

Kedudukan bumi, bulan, dan matahari
Penanggalan Hijriah ditentukan berdasarkan peredaran Bulan di sekitar Bumi, karena itu dalam menentukan penanggalan Hijriah ini, mau tidak mau harus juga dibicarakan sistem Bumi, Bulan dan Matahari.

Bulan yang merupakan satu-satunya satelit Bumi, beredar mengelilingi Bumi dulam waktu 27 hari 7 jam 43 menit (27,32166 hari). Waktu edar ini dikenal dengan nama periode sideris. Selama beredar mengeliingi Bumi, Bulan juga berotasi, mengelilingi sumbunya dengan periode yang hampir sama dengan periode siderisnya. Akibatnya, bagian Bulan yang menghadap ke Bumi akan selalu sama. Demikian juga halnya dengan Bumi yang dikenal sebagai salah satu planet Matahari, beredar mengelilingi Matahari dengan periode 365 hari 6 jam 9 menit 10 detik (365,256366 hari). Bidang lintasan Bulan mengelilingi Bumi dan bidang lintasan Bumi mengelilingi Matahari (bidang ekliptika) ini tidak tepat berada dalam satu bidang, melainkan miring, dengan variasi kemiringan antara 4o57’ sampai 5o20’. Akibat kemiringan ini terdapat dua titik potong antara lintasan Bulan mengelilingi Bumi dengan bidang elkiptika. Titik-titik simpul (node) dan garis yang menghubungkan kedua titik simpul ini disebut garis simpul. Dalam gambar 1 diperlihatkan lintasan Bulan mengelilingi Matahari, sedangkan garis simpul dinyatakan oleh garis nn’.

Dalam peredarannya mengelilingi Bumi, pada suatu saat Bulan akan berada pada arah yang sama dengan Matahari, saat ini disebut fase bulan baru (new moon) atau sat konjungsi (conjunction) atau ijtima’. Sedangkan kebalikannya yaitu saat Bulan berada dalam arah yang berlawanan dengan Matahari, disebut fase bulan purnama. Dalam fase bulan baru, seluruh bagian Bulan yang gelap akan menghadap ke Bumi, sedangkan dalam fase bulan purnama, seluruh permukaan Bulan yang terang akan menghadap ke Bumi. Walaupun pada fase bulan baru kedudukan Bulan berada satu arah dengan Matahari, namun karena bidang lintasan Bulan mengelilingi Bumitidak berimpit dengan bidang ekliptika, maka kedudukan Bumi, Bulan dan Matahari tidak selalu berada dalam satu garis lurus melainkan hanya berada dalam satu bidang yang tegak relatif terhadap ekliptika, sehingga kedudukan bulan baru kadang-kadang berada di atas atau di bawah garius lurus yang menghubungkan Bumi-Matahari. Apalagi kedudukan bulan baru tepat berada dalam garis lurus yang menghubungkan Bumi-Matahari, yaitu fase bulan baru berada pada titik simpul n’, maka akan terjadi gerhana Matahari. Sedangkan apabila dalam fase bulan purnama kedudukan Bulan berada pada titik simpul n maka akan terjadi gerhana Bulan.

Waktu yang diperlukan Bulan berada dalam suatu fase bulan baru ke ke fase bulan baru berikutnya (dua konjungsi berturut-turut) adalah 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik (29,530588 hari). Lama waktu antara dua konjungsi ini dikenal dengan nama periode sinodis, dan periode sinodis inilah yang menjadi dasar penanggalan Hijriah. Karena itu lama satu bulan Hijriah bervariasi antara 29 dan 30 hari. Periode sinodis tidak sama dengan periode sideris, karena Bumi tidak tinggal diam tetapi berputar mengelilingi Matahari seperti diterangkan di atas. Untuk jelasnya perbedaan antara periode sideris periode sinodis diperlihatkan dalam gambar 2.

Penentuan awal bulan Hijriah
Satu bulan dalam penanggalan Hijriah dimulai sejak terlihatnya Bulan sabit pertama yang bisa diamati dengan mata bugil yang dinamakan hilal, sampai terlihat hilal berikutnya. Pada mulanya penentuan awal bulan Hijriah ini dilakukan dengan cara melihat langsung hilal (rukyat bil-fi’li). Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, lahirlah cara baru untuk menentukan awal bulan, yaitu dengan menentukan saat terjadinya bulan baru (new moon) dengan perhitungan (hisab). Para ahli hisab merasa, penentuan awal bulan secara perhitungan tidak menyalahi perintah untuk melihat hilal, sebab mereka melakukan pengamatan dengan ilmu (rukyat bil-’ilmi).

Dengan adanya perbedaan dalam penentuan awal bulan, terjadi pula perbedaan konsep mengenai hilal di antaranya: 1.) Hilal adalah Bulan sabit yang pertama kali dapat dilihat dengan mata bugil. 2.) Hilal adalah Bulan sudah melewati konjungsi, asal konjungsinya terjadi sebelum magrib (ijtima’ qoblal qhurub). 3.) Hilal adalah Bulan yang sudah melewati konjungsi asal Bulan berada di atas ufuk pada saat magrib.

Konsep pertama biasanya digunakan para ahli rukyat, sedangkan konsep kedua dan ketiga digunakan ahli hisab. Untuk menghitung saat terjadinya bulan baru (konjungsi) dikenal beberapa metoda perhitungan yang sering digunakan para ahli hisab, diantaranya metoda Sullamun Nayyirain, Fathurroufil Manan, Qawaidul Falakiyah, Khulasoh Wafiyah, New Comb, Jean Meeus dan lainnya. Empat metoda pertama merupakan sistem tradisional yang sejak dahulu kala banyak digunakan dan diajarkan di pesantren di Indonesia, sedangkan metoda kelima dan keenam baru digunakan akhir-akhir ini. Keenam metoda ini semuanya menggunakan tabel sebagai dasar untuk perhitungan dan hitungannya biasanya dilakukan secara manual, atau paling canggih menggunakan bantuan kalkulator.

Dalam era informasi dewasa ini di mana perkembangan teknologi komputer sudah merebak ke segala bidang penentuan saat terjadinya bulan baru dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat dengan bantuan komputer. Sudah tentu untuk ini selain diperlukan pengetahuan mengenai gerak Bumi, Bulan dan Matahari juga dituntut kemampuan membuat program komputernya. Walaupun demikian bagi yang tidak bisa membuat progam komputer, pada saat ini di pasaran sudah tersedia berbagai perangkat lunak untuk keperluan penentuan saat terjadinya bulan baru ini, malahan beberapa perangkat lunak di antarany dapat diperoleh bebas tanpa membeli. Dengan bantuan perangkat lunak ini dalam beberapa detik saja sudah mengetahui kapan saat terjadinya bulan baru di suatu tempat/ kota dengan hanya memasukkan nama tempat/kota tersebut.

Dari perbedaan cara penentuan awal bulan, perbedaan konsep mengenai hilal dan perbedaan metoda perhitungan yang digunakan, dapat diperkirakan hasilnya pun akan berbeda, dan hal inilah yang menjadi salah satu penyebab sering terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal.

Awal Ramadhan dan Syawal 1415H
Dalam tabel diperlihatkan hasil perhitungan saat terjadi konjungsi awal bulan Ramadhan 1415 H beserta saat matahari terbenam, saat bulan tenbenam serta ketinggian bulan dari atas horison (ufuk) saat matahari terbenam pada hari terjadinya konjungsi dan satu hari setelahnya untuk berbagai kota di Indonesia dan Mekkah. Dari hasil perhitungan tersebut tampak, konjungsi awal Ramadhan terjadi pada 31 Januari 1995 pukul 05.50 WIB atau 96.50 WITA atau 07.50 WIT. Dari tabel yang sama tampak baik untuk kota-kota di Indonesia maupun Mekkah, Matahari akan terbenam lebih dahulu daripada Bulan. Akibatnya, pada saat matahari terbenam, bulan masih berada di atas ufuk dengan ketinggian sekitar 2°,08 untuk Merauke, 3°,30 untuk Ujung Pandang, sekitar 3°,47 untuk Jakarta, sekitar 5°,32 untuk Banda Aceh dan sekitar 3°,61 untuk Mekkah.

Bagi penganut konsep hilal kedua yaitu hilal adalah Bulan yang sudah melewati konjungsi asal konjungsinya terjadi sebelum magrib (ijtima’ qoblal qhurub) dan konsep hilal ketiga yaitu hilal adalah Bulan yang sudah melewati konjungsi asal Bulan berada di atas ufuk pada saat magrib, maka awal Ramadhan 1415 H akan jatuh pada hari Rabu 1 Februari 1995.

Akan tetapi bagi penganut konsep hilal pertama, yaitu hilal adalah Bulan sabit yang pertama kali dapat dilihat dengan mata bugil, maka kemungkinan akan ada dua pendapat berbeda. Pendapat pertama kemungkinan akan menentukan awal Ramadhan 1415 H jatuh tanggai 1 Februari 1995 seperti penganut konsep hilal kedua dan ketiga, sedangkan pendapat kedua akan menentukan tanggal 2 Februari 1995 sebagai awal bulan Ramadhan 1415 H. Sekarang mungkin kita akan bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi padahal mereka penganut konsep hilal yang sama. Perbedaan ini terjadi karena sampai saat ini tidak ada satupun batasan yang jelas pada ketinggian berapa derajat dari horison hilal dapat dilihat dengan mata bugil. Dari hasil penelitian di luar negeri diperoleh bahwa ketinggian hilai di atas horison yang masih dapat dilihat dengan mata bugil bervariasi dari 5 derajat sampai 12 derajat (lihat artikel: Kriteria Penampakkan Hilal Untuk Penentuan Awal Bulan Ramadhan dan Syawal dalam harian ini). Jika kita ambil ketinggian hilal yang dapat dilihat dengan mata bugil yang paling kecil yaitu 5° media untuk seluruh kota di Indonesia kecuali Banda Aceh, maka pada tanggal 31 Januari 1995 hilal tidak akan terlihat, artinya awal Ramadhan 1415 H tidak mungkin jatuh pada tanggal 1 Februari 1995 tetapi akan jatuh tanggal 2 Februari 1995. Akan tetapi dari pengalaman tahun-tahun yang lalu mungkin akan terjadi lagi kejutan, yaitu mungkin akan ada orang yang mengaku melihat hilal pada tanggal 31 Januari 1995 setelah matahari terbenam, sehingga mereka yang percaya pada pengakuan ini akan memulai melakukan ibadah shaum pada tanggal 1 Februari 1995. Kejadian seperti ini memang sering terjadi di Indonesia, seperti pada waktu penentuan awal bulan Syawal 1414H yang lalu. Pada waktu itu konjungsi awal Syawal terjadi pada 12 Marat 1994 pukul 14.05 WIB dan ketinggian hilal pada saat matahari tenggelam adalah -1°12”, artinya pada saat matahari tenggelam, bulan sudah berada di bawah horison, jadi tidak mungkin dapat dilihat. Tetapi anehnya ada beberapa orang seperti yang diberitakan dalam beberapa surat kabar, mengaku dapat melihat hilal. Hal ini sangat mengherankan, karena Bulan yang sudah berada di bawah horison tidak mungkin dapat dilihat, jadi dengan apa seenarnya mereka itu melihat.

Selain itu untuk Banda Aceh dan Mekkah, pada saat matahari tenggelam tanggal 31 Januari 1995, bulan sudah lebih 5° di atas horison, sehingga kemungkinan di kedua kota ini hilal sudah dapat dilihat. Apabila hilal benar-benar dapat dilihat pada tanggal 31 Januari itu, maka masyarakat di daerah-daerah sekitar kedua kota tersebut akan memulai ibadah shaum pada tanggal 1 Februari 1995.

Dalam masyarakat muslim di Indonesia, ada yang berpendapat jika di suatu daerah di Indonesia hilal bisa dilihat, maka otomatis daerah-daerah Iainnya di Indonesia dapat memulai ibadah shaum keesokan harinya. Demikian juga terdapat sebagian masyarakat muslim di Indonesia yang mengikuti Saudi Arabia, jadi jika di Saudi Arabia awal Ramadhan 1415 H jatuh pada 1 Februari 1995, maka mereka pun akan mengikutinya.

Kecil kemungkinan
Untuk awal bulan Syawal 1415 H nanti, kemungkinan terjadi dua Hari Raya Idul Fitri kecil. Dari tabel dapat dilihat, seluruh daerah di Indonesia saat terjadi konjungsi awal Syawal 1415 H, jatuh pada 1 Maret 1995 setelah matahari terbenam. Dengan demikian berdasarkan ketiga konsep mangenai hilal, awal Syawal 1415 H tidak mungkin jatuh tanggal 2 Marat 1995, tetapi tanggal 3 Maret 1995. Dari tabel dapat dilihat juga, di seluruh daerah di Indonesia pada tanggal 2 Marat 1995 ketinggian hilal di atas horison setelah matahari terbenam lebih besar dari 5 derajat, sehingga hilal mungkin dapat dilihat.

Meskipun kondisi Bulan di Indonesia tidak memungkinkan menetapkan awal Syawal 1415 H jatuh pada tanggal 2 Marat 1995, namun mungkin saja ada orang yang akan melaksanakan sembahyang Idul Fitri pada tanggal tersebut.

Kemungkinan ini disebabkan beberapa hal, pertama dari tabel tampak di Mekkah pada tanggal 1 Marat 1995 pada saat matahari terbenam, bulan sudah berada 1 derajat di atas horizon. Dari pengalaman tahun-tahun lalu, dengan kedudukan bulan seperti ini, Saudi Arabia sudah menetapkan tanggal 1 Syawal jatuh keesokan harinya. Apabila hal ini terjadi lagi, berdasarkan pengalaman, akan ada masyarakat Indonesia yang melaksanakan sembahyang Idul Fitri tanggaI 2 Maret 1995. Kemungkinan kedua adalah, masih banyak ahli hisab di sini yang menggunakan metoda tradisional untuk menghitung terjadinya konjungsi dan ketinggian hilal di atas horison.

Mengingat data yang digunakan dalam tabel system tradisional tersebut merupakan data yang sudah turun-temurun dan dibuat beberapa abad lalu, maka kesalahan dalam perhitungan yang dibuat para ahli hisab akan cukup besar. Seperti yang terjadi pada tahun-tahun lalu, perhitungan mereka selalu lebih besar daripada perhitungan secara modern. Akibatnya mungkin saja mereka mendapatkan bulan masih berada di atas horison saat matahari terbenam tanggal 1 Marat 1995, sehingga mereka akan menetapkan tanggal 1 Syawal 1415 H jatuh tanggal 2 Maret 1994.
Kesalahan utama yang terjadi dalam perhitungan menggunakan metoda tradisional adalah tidak adanya koreksi terhadap fenomena astronomis yang terjadi, misalkan efek nutasi, presesi, paralaks dan sebagainya. Sabagai contoh, pengaruh presesi akan berakibat bergesernya titik vernal ekuinol (titik hamal) sebesar 50″ per tahun, padahal data yang ada dalam tabel sistem tradisional menggunakan titik hamal sebagai acuannya.

Untuk memperkecil perbedaan hasil hisab ini ada baiknya para ahli hisab diberi pengetahuan astronomi lebih lengkap yang berhubungan dengan penentuan konjungsi. Selain itu diharapkan pula para ahli hisab dapat mengetahui malma isi tabel yang mereka gunakan, sehingga memudahkan melakukan koreksi pada data yang mereka pakai, karena ama ini sebagian besar ahli hisab diIndonesia hanya trampil menggunakan data dalam table yang mereka gunakan tanpa mengetahui maknanya.

Atau jalan lain yang lebih baik untuk menghilangkan perbedaan hasil hisab ini adalah dengan menggunakan perangakat lunak yang sudah banyak dibuat bangsa Indonesia sendiri seperti yang dibuat beberapa mahasiswa astronomi ITB atau yang dibuat Astronomical Club AL-Farghani, ICMI Orsat Belanda.

Meskipun hasil perhtungan dengan cara tradisional tidak begitu akurat namun, untuk keperluan yang tidak memerlukan ketelitian tinggi misalnya dalam orde jam atau hari seperti penentuan awal bulan, hasilnya masih dapat digunakan. Namun jika digunakan untuk keperluan yang memerlukan ketelitian tinggi, seperti menentukan saat kontak pertama atau berakhirnya gerhana Matahari atau untuk menentukan ketinggian bulan guna keperluan pengamatan hilal (rukyat), maka hasil beberapa perhitungan secara manual itu tidak dapat digunakan.

Dari pembicaraan di atas, kemungkinan dalam tahun 1995 ini akan terjadi lagi dua awal Ramadhan dan dua Idul Fitri. Yang paling berpengaruh dari perbedaan penentuan awal Ramadhan atau awal Syawal ini adalah adanya perbedaan kensep hilal dan kriteria penampakan hilal di antara para ahli hisab dan para ahli rukyat. Karena itu untuk masa mendatang, Departemen Agama perlu bersikap tegas untuk menyamakan konsep mengenai hilal ini dan menentukan kriteria penampakan hilal supaya diperoleh penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal yang seragam, sehingga tidak membingungkan umat.

Apabila konsep dan kriteria hilal sudah sepaham, diharapkan nantinya hasil perhitungan hisab harus dapat dibuktikan dengan rukyat dan juga rukyat yang dilakukan harus dimungkinkan dari hasil perhitungan hisab beserta kriterianya, sehingga hisab dan rukyat keduanya harus menghasilkan hilal yang sama. Dengan demikian jika suatu waktu ada yang mengaku melihat hilal, padahal menurut perhitungan hisab dan kriteria yang sudah ditetapkan hilal tersebut tidak mungkin dapat dilihat maka pengakuan tersebut harus ditolak. Wallaahu a’lam bishshawaab.***

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Stroomnet PLN Saingi IndiHome Telkom, Apa Kabar Sinergi BUMN?

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara terbuka menabuh genderang perang terhadap pelaku usaha jaringan internet ...

%d blogger menyukai ini: