Home / Artikel / Kontroversi Cuaca yang Berlanjut

Kontroversi Cuaca yang Berlanjut

Cuaca dan iklim kontroversial masih akan berkelanjutan yang tentunya akan berdampak pada lingkungan sekitar kita. Semoga Indonesia dapat menyikapi kondisi ini untuk kesejahteraan rakyat.

Turunnya hujan lebat pada bulan Juni, Juli, dan terakhir Agustus ini, sepertinya terus berlanjut dengan kondisi kontroversial.

Kondisi kontroversial ini sebenarnya telah terjadi dua tahun terakhir. Seperti yang telah diinformasikan, musim kemarau telah memasuki periode puncak pada awal Juli 2020. Khusus untuk beberapa kawasan, seperti Sulawesi, Kalimantan, dan mungkin pulau-pulau lain, terjadi hujan lebat hingga sangat lebat dalam beberapa hari. Terjadilah bencana hidrometeorologi basah yang hingga kini belum ada penjelasan ilmiahnya.

Ada institusi yang sudah menyatakan bahwa musim kemarau 2020 adalah kemarau basah, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris terasa janggal. Kalau kita cermati, bukan hanya tahun 2019, melainkan juga 2017 dan 2018 menunjukkan situasi bulan Juli–Agustus yang kering, diikuti dengan bencana kekeringan, kebakaran lahan dan hutan, serta pencemaran asap.

Situasi itu sepertinya jauh berbeda dengan perkembangan yang terjadi pada musim kemarau 2020 ini. Kala itu, ada instansi resmi yang menyebutkan bahwa tahun 2020 ada gejala alam El Nino lemah sehingga pada awal Juli 2020 ada rapat koordinasi untuk menghadapi bencana kekeringan serta kebakaran lahan dan hutan.

Indeks Dipole Mode
Saat itu memang belum juga ada kejelasan kapan gejala alam El Nino berakhir, apalagi pada akhir tahun 2019 cenderung kering dan bertiup angin timuran yang kencang.

Pada bagian lain, apa yang disebut Indeks Dipole Mode untuk membedakan kondisi suhu muka laut kawasan Samudra India timur (berarti di barat wilayah Indonesia) dengan kondisi suhu muka laut di timur Benua Afrika. Nilai Indeks Dipole Mode positif mengindikasikan suhu muka laut Samudra India barat wilayah Indonesia bersuhu rendah dan bertekanan tinggi, sementara perairan Samudra India timur kawasan Afrika bersuhu lebih hangat dan bertekanan rendah.

Tekanan rendah menarik udara sekitar dan berpeluang awan dan hujan giat. Tekanan tinggi udara akan tersibak dan udara dari atas turun dengan tanpa awan dan hujan.Kondisi Indeks Dipole Mode positif, plus Gejala El Nino lemah dan tiupan angin timuran yang memicu upweiling di perairan Indonesia berakibat pada suhu muka laut dingin. Kondisi udara dingin dari lapisan atas menyebabkan kekeringan berkepanjangan hingga awal tahun.

Tiba-tiba Indeks Dipole di awal tahun 2020 berubah negatif yang artinya kawasan Samudra India barat wilayah Indonesia hangat dan udara mengumpul. Ini menyebabkan awan dan hujan yang ekstrem terjadi dan berlangsung hanya di kawasan Jawa bagian barat.

Kala itu ada pandangan hujan yang terjadi di kawasan Jabodetabek dan Banten terkait dengan perubahan iklim, ini suatu kesimpulan yang sepertinya kurang didukung data yang menggambarkan peredaran udara dan pemicu kondisi cuaca dan iklim ekstrem yang terjadi.

Situasi dan perkembangan nilai Indeks Dipole negatif ini berlangsung lama. Namun, memasuki Maret 2020 nilai Indeks Dipole kembali positif meski tidak terlalu tinggi dan melebihi ambang batas. Kondisi nilai indeks negatif dari Dipole Mode, didukung gejala alam El Nino dan berubahnya angin timur ke angin barat, membuat kawasan Jabodetabek sering hujan sangat lebat, bahkan di antaranya masuk kriteria ekstrem.

Kondisi hujan ekstrem ini hanya berlangsung di kawasan Jawa bagian barat, sedangkan kawasan Indonesia lainnya tidak terjadi hujan.

Awal Juli 2020 terjadi kondisi kontroversial dan terjadi lagi di bulan Agustus 2020. Agustus yang seharusnya kering karena kurang hujan, ada kehadiran awan badai dengan badai pada 11 Agustus yang berlanjut pada 13 Agustus 2020.

Semua itu mengindikasikan kondisi cuaca dan iklim yang kontroversial. Di luar kawasan Jawa bagian barat, khususnya Jabodetabek, tidak terjadi hujan. Namun, kawasan Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara yang masuk musim kemarau malah turun hujan sedang.

Perlu definisi
Menyatakan bahwa saat ini adalah musim kemarau basah sebenarnya kurang tepat karena belum ada definisi yang baku dan jelas, selain tidak berdasar pada kaidah ilmiah. Akan lebih tepat jika kita mengacu pada kemiripan musim kemarau, yaitu yang terjadi pada tahun 2010. Kala itu berlangsung musim kemarau pendek.

Pada 2010 musim kemarau berlangsung paling pendek, kurang dari sebulan. Disebut musim kemarau pendek jika berlangsung maksimal 1–2 bulan. Maka musim kemarau 2010 bisa disebut sebagai yang terpendek dalam sejarah. Kalau musim kemarau 2020 yang kini berlangsung, kualitas dan kuantitasnya lebih rendah dibandingkan tahun 2010.

Saat ini kontroversial itu diiringi kondisi peredaran udara dengan kecenderungan akan munculnya gejala alam La Nina. Di sisi lain, Indeks Dipole yang sempat positif telah mendekati nilai 0 dan berlangsung sejak Maret hingga Juli 2020.

Pada awal Agustus 2020 kondisi Indeks Osilasi Selatan positif, mengindikasikan kecenderungan La Nina dan didukung dengan nilai Indeks Dipole Mode yang negatif. Kondisi ini mengindikasikan akan giatnya kawasan Samudra India dengan kawasan suhu hangat yang berpotensi membentuk tekanan rendah sebagai pusat tekanan rendah dengan sirkulasi siklonal.

Kondisi demikian menunjukkan ada aliran massa udara hangat di Samudra Pasifik yang membentuk konvergensi angin dan melekuk secara siklonal. Ini dalam bahasa meteorologi berarti dengan gangguan palung.

Konvergensi angin umumnya membentuk awan dan hujan pada pagi–siang, sedangkan palung membentuk badai petir pada siang hingga sore. Perkembangan yang demikian merupakan situasi kontroversial cuaca dan iklim, yang notabene berlangsung sejak Juli 2020.

Meski musim kemarau masih berlangsung, kegiatan matahari yang minimum selama lebih dari dua tahun—tanpa bintik dan ledakan di permukaan matahari—turut berkontribusi memicu cuaca dan iklim kontroversial hingga Agustus ini.

Mencermati diskusi ahli serta praktisi cuaca dan iklim dunia yang dimotori Australia, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan gejala alam La Nina ada dalam kisaran lemah dan nilai Indeks Dipole Mode kian mengecil. Hal ini didukung oleh migrasi pusat suhu muka laut hangat. Kesimpulannya, cuaca dan iklim kontroversial masih akan berkelanjutan yang tentunya akan berdampak pada lingkungan sekitar kita.

Semoga Indonesia dapat menyikapi kondisi ini untuk kesejahteraan rakyat.

Paulus Agus Winarso, Praktisi Cuaca, Iklim, dan Lingkungan.

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: