Home / Berita / Kontrak Riset dengan Industri Bertambah

Kontrak Riset dengan Industri Bertambah

Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi membukukan 143 kontrak riset dengan industri. Kontrak itu diraih 19 lembaga riset dan perguruan tinggi yang masuk dalam program PUI.

“Banyaknya kontrak riset yang ditandatangani di luar dugaan,” kata Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemristek dan Dikti Kemal Prihatman di sela Rapat Kerja Pengembangan PUI, Rabu (17/2), di Jakarta. Selama ini, industri dianggap tak berminat dengan karya inovasi lembaga riset di dalam negeri.

Banyaknya kerja sama itu karena hubungan baik lembaga riset dan industri. Kontrak riset yang dijalin sejak 2012 itu meliputi pemberian lisensi dan pengembangan produk untuk produksi massal. Kontrak riset tersebut melibatkan industri besar dan skala UKM.

Sebagian besar kerja sama itu mencakup penerapan inovasi bidang pertanian dan perkebunan, antara lain komoditas teh, kopi, dan kelapa sawit. Bidang obat- obatan antara lain mencakup produksi obat herbal. Di bidang teknologi informasi dan komunikasi dikembangkan teknologi komunikasi generasi 4G untuk aplikasi bagi nelayan.

Sementara itu, Sekretaris Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Kemristek dan Dikti Agus Indarjo, dalam sambutannya pada rapat kerja tersebut, mengatakan, pihaknya akan terus mendorong proses hilirisasi karya inovasi ke industri dan masyarakat. “Hasil penelitian tidak hanya sekadar jadi laporan di jurnal dan meraih paten,” ujarnya.

Minimal 20 persen hasil riset dari lembaga riset dan perguruan tinggi di Indonesia harus dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi inovasi dan dihilirisasi hingga bisa digunakan masyarakat dan industri.

Melalui kerja sama dengan industri, hasil inovasi bisa dikembangkan ke tahap inkubasi hingga dapat diproduksi massal. Selain itu, pada proses hilirisasi perlu ditingkatkan lagi skala produksi atau produktivitasnya.

Dengan kerja sama ini pula penelitian tidak hanya memberikan keuntungan bagi peneliti dan lembaganya. “Namun, secara umum dapat meningkatkan ekonomi nasional,” ucap Agus.

Peningkatan program
Program PUI, menurut Kemal, tahun ini mengalami perubahan setelah penggabungan Kemristek dan Dikti, antara lain pada alokasi anggaran yang diberikan lembaga riset yang terpilih menjadi PUI. “Apabila sebelumnya PUI hanya mengalokasi dana 300 juta per tahun per lembaga, saat ini bisa mencapai 700 juta per tahun,” katanya.

Saat ini, Kemristek dan Dikti membina 45 lembaga riset dalam program PUI. Tahun ini lembaga yang masuk PUI bertambah menjadi lima. Di antara lembaga riset yang dibina, 44 persennya perguruan tinggi. Salah satu yang aktif menerapkan inovasinya adalah Institut Pertanian Bogor.

Adapun lembaga yang telah selesai dari program PUI ada 19. Lembaga riset itu telah mandiri atau tidak lagi dapat bantuan dana Kemristek dan Dikti. Mereka mampu menghasilkan pendapatan untuk kegiatan risetnya.

Peran PUI yang mandiri akan ditingkatkan untuk turut membangun Science Techno Park. Salah satu yang akan dinobatkan menjadi STP pada Maret 2016 adalah Pusat Penelitian Kakao dan Kopi di Jember. (YUN)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Februari 2016, di halaman 13 dengan judul “Kontrak Riset dengan Industri Bertambah”.
————-
PUI Hasilkan 143 Kontrak Riset

Lembaga riset yang terpilih sebagai Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi telah berhasil membukukan 143 kontrak riset dengan industri. Perjanjian kerja sama itu diraih oleh 19 lembaga riset yang masuk dalam PUI, program binaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Hal ini dikemukakan Kemal Prihatman, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristekdikti, di Jakarta, Kamis (18/2/2016). Kontrak riset yang dijalin sejak tahun 2012 tersebut antara lain berupa pemberian lisensi dan pengembangan produk untuk produksi massal. Kontrak riset ini melibatkan industri kecil dan menengah hingga industri besar.

Sebagian besar kerja sama riset itu mencakup penerapan inovasi bidang pertanian dan perkebunan, antara lain mencakup komoditas teh, kopi, kakao, dan kelapa sawit. Inovasi di bidang obat-obatan antara lain tentang produksi obat herbal. Di bidang teknologi informasi dan komunikasi, dikembangkan teknologi komunikasi generasi 4G untuk aplikasi penyampaian informasi lokasi penangkapan ikan bagi nelayan.

“Banyaknya kontrak riset yang ditandatangani di luar dugaan,” kata Kemal. Pasalnya, selama ini industri dianggap tak berminat dengan karya inovasi lembaga riset di dalam negeri. Keberhasilan ini juga menunjukkan telah terjalin hubungan yang baik antara lembaga riset dan industri.

Sementara itu, Sekretaris Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Kemenristekdikti Agus Indarjo dalam sambutannya pada Rapat Kerja Pengembangan PUI, Rabu (17/2/2016), mengatakan pihaknya akan terus mendorong proses hilirisasi karya inovasi ke industri dan masyarakat. “Hasil penelitian tidak sekadar jadi laporan di jurnal dan meraih paten,” ujarnya.

Minimal 20 persen hasil riset dari lembaga riset dan perguruan tinggi di Indonesia harus dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi inovasi dan dihilirisasi hingga dapat digunakan oleh masyarakat dan industri. Melalui kerja sama dengan industri, hasil inovasi dapat dikembangkan ke tahap inkubasi hingga dapat diproduksi massal. Selain itu, pada proses hilirisasi perlu ditingkatkan lagi skala produksi atau produktivitasnya.

Dengan kerja sama ini, lanjut Agus, penelitian tidak hanya memberi keuntungan bagi peneliti dan lembaganya, tetapi secara umum dapat meningkatkan ekonomi nasional.

Peningkatan PUI
Kemal menjelaskan, program PUI tahun ini mengalami perubahan setelah penggabungan Kemenristek dan Dikti, antara lain pada alokasi anggaran yang diberikan lembaga riset yang terpilih menjadi PUI. “Bila sebelumnya PUI hanya mengalokasikan dana Rp 300 juta per tahun per lembaga, saat ini dapat mencapai Rp 700 juta per tahun,” katanya.

Pembinaan ini berlangsung selama 3 tahun, setelah itu Lembaga Riset diharapkan dapat mandiri dan menghasilkan keuntungan dari kegiatan risetnya.

Saat ini, Kemenristekdikti membina 45 lembaga riset dalam program PUI. Tahun ini, lembaga yang masuk dalam PUI akan bertambah lagi menjadi lima. Di antara lembaga riset yang dibina, 44 persen adalah perguruan tinggi. Kemal menyebutkan, salah satu perguruan tinggi yang aktif dalam menerapkan inovasinya adalah Institut Pertanian Bogor.

Adapun lembaga yang saat ini telah selesai dari program PUI ada 19 lembaga. Lembaga riset ini telah mandiri atau tidak lagi mendapat bantuan dana dari Kemenristekdikti karena telah dapat menghasilkan pendapatan untuk kegiatan risetnya.

Lembaga riset ini juga telah mampu memberikan pelatihan dan menciptakan entrepreneur baru. PUI yang mandiri ini akan ditingkatkan perannya untuk turut membangun Science Techno Park (STP). Menurut Kemal, salah satu yang akan dinobatkan menjadi STP pada Maret mendatang adalah Pusat Penelitian Kakao dan Kopi di Jember.

YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas Siang | 18 Februari 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: