Home / Berita / Konservasi Air Mencegah Kerusakan Lingkungan

Konservasi Air Mencegah Kerusakan Lingkungan

Konservasi air mencegah kerusakan lingkungan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memanen air hujan. Kesadaran masyarakat untuk melakukan konservasi sumber daya air itu perlu didorong oleh mahasiswa melalui kegiatan kuliah kerja nyata.

Hal itu disampaikan oleh pengajar dari Departemen Teknik Sipil, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Maryono, saat memberikan pembekalan terhadap peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM Periode 2 Tahun 2019 di Balairung UGM, Yogyakarta, Sabtu (15/6/2019).

KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO–Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono (kedua dari kiri) bersama mahasiswa calon peserta kuliah kerja nyata sedang memasang biopori di Balairung UGM, Yogyakarta, Sabtu (15/6/2019). Kegiatan itu merupakan pembekalan bagi mahasiswa yang bakal menjalani KKN UGM Periode 2 Tahun 2019.

”Memanen air hujan adalah upaya mengelola air hujan. Jadi, air hujan tidak langsung dibuang dan dialirkan ke laut. Dengan memanen air hujan, juga bisa untuk mengurangi banjir karena air ditahan terlebih dahulu di dalam tanah. Tanaman juga bisa tumbuh subur karena tidak kekurangan air sehingga kondisi lingkungan terjaga,” kata Agus.

Agus menjelaskan, pemanenan air hujan dapat dilakukan dengan banyak cara, mulai dari membuat embung, sumur resapan, penampungan air, hingga biopori. Biopori termasuk cara konservasi air yang paling mudah. Caranya dengan membuat lubang berbentuk silinder secara vertikal sedalam 1 meter hingga 1,5 meter. Lalu, lubang itu diisi dengan pipa yang sudah dilubangi secara acak. Pipa tersebut diiisi dengan sampah organik berupa dedaunan yang selanjutnya berubah menjadi kompos.

KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO–Mahasiswa peserta kuliah kerja nyata Universitas Gadjah Mada sedang bekerja sama menggali lubang untuk ditanami biopori di Balairung UGM, Yogyakarta, Sabtu (15/6/2019).

Ketua Departemen Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM Irfa D Prijambada menyampaikan, tahun ini, pertama kalinya dalam pembekalan KKN UGM, mahasiswa diajarkan membuat lubang biopori. Itu dilakukan mengingat konservasi air merupakan salah satu program dari 186 unit KKN UGM, yang terdiri dari 5.834 mahasiswa, yang nantinya tersebar ke-32 provinsi di seluruh Indonesia. Pada periode ini, terdapat 200 biopori yang ditanam di sekitar kampus UGM.

”Format pembekalan dibuat seperti ini untuk mengenalkan cara-cara konservasi air yang nanti menjadi salah satu program mereka. Konservasi air ini sangat penting karena air kebutuhan utama manusia,” kata Irfan.

Irfan menyatakan, melalui KKN, penyebaran informasi mengenai pentingnya melakukan konservasi sumber daya air menjadi semakin efektif. Ada kedekatan antara masyarakat dan mahasiswa dengan tinggal bersama selama lebih kurang dua bulan. Kondisi tersebut membuat mahasiswa seolah lebih dipercaya masyarakat jika diajak membangun sesuatu yang penting bagi suatu daerah.

KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO–Mahasiswa peserta kuliah kerja nyata Universitas Gadjah Mada sedang bekerja sama menggali lubang untuk ditanami biopori di Balairung UGM, Yogyakarta, Sabtu (15/6/2019).

Selain itu, Irfan menambahkan, kegiatan lain yang dilakukan dalam pembekalan KKN itu antara lain kerja bakti di perkampungan dan sungai yang berada di sekitar UGM. Menurut dia, mahasiswa juga perlu mengenal dan bermanfaat kepada masyarakat di perkampungan sekitar tempat mereka tinggal.

Direktur Perencanaan UGM Budi Prayitno menyampaikan, dalam pembekalan KKN itu, perkampungan sekitar universitas itu ikut menjadi sasaran agar universitas bisa memberikan inspirasi kepada masyarakat yang tinggal di kawasan perguruan tinggi tersebut. ”Jangan hanya menjangkau yang jauh-jauh tetapi tetangga sendiri belum intensif diperhatikan,” katanya.

Sementara itu, Rektor UGM Panut Mulyono mengharapkan, mahasiswa yang diterjunkan dalam KKN nanti bisa semaksimal mungkin mengabdikan diri kepada masyarakat. Tujuan dari kegiatan itu agar mahasiswa mengamalkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah untuk ikut serta dalam mengembangkan kemajuan masyarakat.

”KKN membuat mahasiswa berkontribusi secara langsung kepada masyarakat. Tidak hanya ke perkotaan, tetapi juga ke daerah-daerah terpencil. Kegiatan ini akan sangat memberikan manfaat bagi pengembangan masyarakat Indonesia,” kata Panut.

Oleh NINO CITRA ANUGRAHANTO

Sumber: Kompas, 15 Juni 2019

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: