Konseling Saat Hamil untuk Menentukan Kontrasepsi

- Editor

Kamis, 2 Oktober 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konseling saat hamil diperlukan agar pasangan usia subur memilih metode kontrasepsi jangka panjang yang efektif mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk. Saat ini penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang masih rendah, sementara angka putus pakai pemakaian alat kontrasepsi jangka pendek tinggi.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia Emi Nurjasmi, pada peringatan Hari Kontrasepsi Dunia, Selasa (30/9), di Jakarta, mengatakan, keputusan memilih alat kontrasepsi apa yang akan dipakai perempuan sebaiknya tak dilakukan setelah melahirkan.

Perempuan perlu waktu untuk menentukan pilihan alat kontrasepsi yang akan dipakai. Tak jarang, suami menjadi pengambil keputusan dalam memilih alat kontrasepsi. Karena itu, konseling selama kehamilan menentukan metode kontrasepsi apa yang akan dipilih, metode jangka panjang atau jangka pendek.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Melalui konseling, bidan berperan mencerdaskan ibu hamil. Kami memiliki panduan cara bagi ibu hamil dalam memilih alat kontrasepsi. Alat kontrasepsi jangka panjang, yaitu IUD dan implan, diutamakan,” kata Emi.

Sebanyak 76,6 persen persalinan di Indonesia dibantu bidan yang saat ini jumlahnya mencapai 300.000 orang dan tersebar di sejumlah daerah. Untuk menunjang peningkatan cakupan metode kontrasepsi jangka panjang, bidan dilatih memasang IUD dan implan. Kini, 35.000 bidan memiliki kemampuan itu.

Ketua Asia Pacific Council on Contraception Biran Affandi mengatakan, meski IUD dan implan adalah alat kontrasepsi efektif dalam pengendalian pertumbuhan penduduk, tenaga kesehatan tetap akan memberikan gambaran semua alat kontrasepsi. Keputusan pemilihan alat kontrasepsi di tangan pasien.

Menurut Biran, sebagian masyarakat memercayai suntik sebagai metode penanganan kesehatan paling manjur sehingga memilih suntik sebagai alat kontrasepsi. Padahal, suntik sebagai alat kontrasepsi tak berdampak signifikan dalam pengendalian jumlah penduduk. Tingkat putus pakai suntik pun tinggi. ”Masyarakat suka mencoba-coba alat kontrasepsi berbeda sampai menemukan yang sreg,” ucapnya.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Fasli Jalal memaparkan, pelayanan KB di daerah tak merata. Penggunaan alat kontrasepsi jangka pendek menyebabkan pasien harus bolak-balik ke tempat layanan kesehatan, padahal distribusi alat kontrasepsi bisa terhambat. Hal itu bisa menyebabkan putus pakai. (ADH)

Sumber: Kompas, 2 Oktober 2014

Informasi terkait

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Berita ini 36 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 September 2026 - 20:13 WIB

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB

Artikel

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:13 WIB

Artikel

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Jumat, 18 Sep 2026 - 06:33 WIB

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB