Kongres Ilmuwan Menanti Dampak

- Editor

Minggu, 11 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Buka Program Percepatan Studi Doktoral
Untuk kesebelas kali, kongres ilmuwan digelar sejak yang pertama tahun 1958. Kali ini, 600 peserta hadir dari 57 perguruan tinggi dan puluhan industri, termasuk pembicara dari luar negeri. Namun, penyelenggaraan empat tahunan itu dibayangi pengabaian atas rekomendasi.

Sejauh ini, sejumlah rekomendasi yang dihasilkan belum berdampak besar bagi solusi masalah bangsa. Bahkan, cenderung masih diabaikan.

Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Iskandar Zulkarnain, pada dasarnya kontribusi ilmu pengetahuan ditujukan sebagai motor utama peningkatan daya saing bangsa. Namun, dari sisi jumlah peneliti, di Indonesia masih sangat kurang. “Dari 1 juta orang, hanya 40 orang yang jadi peneliti,” katanya di sela pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (Kipnas) XI di Jakarta, Kamis (8/10). Tahun ini bertema “Signifikansi dan Kontribusi Ilmu Pengetahuan bagi Indonesia Sejahtera”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemegang kebijakan, katanya, cenderung memilih jalan pintas dengan mereduksi aktivitas ilmu pengetahuan untuk penguatan industri dan ekonomi tanpa melihat proses yang harus dilalui. Meski Indonesia tumbuh sebagai negara yang berkembang baik, anggaran belanja riset masih 0,08 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Standar Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unesco), anggaran riset ideal setidaknya mencapai 2 persen terhadap PDB negara. Di Indonesia, 2 persen setara dengan Rp 200 triliun.

Dalam pidato pembukaan Kipnas XI, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menegaskan, meski besaran anggaran riset belum ideal, penelitian tetap harus berjalan. Sinergi anggaran riset sejumlah institusi untuk hasil bersama bisa mengefisienkan anggaran.

Ia mencontohkan, penggabungan sektor riset dan teknologi dengan pendidikan tinggi dalam Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi merupakan upaya pemerintah mengoptimalkan ketersediaan dana riset. “Kedua sektor harus sinergis, tidak egosektoral. Apa yang dihasilkan segera bermanfaat dan diimplementasikan,” kata Puan.

Mantan Menteri Riset dan Teknologi serta Menteri Pendidikan Tinggi Pakistan Atta-ur- Rahman memaparkan, selain gencar mengirim mahasiswa belajar ke luar negeri, Pemerintah Indonesia juga perlu memikat para lulusan agar bekerja di dalam negeri. Di Pakistan, setiap lulusan luar negeri yang pulang ke Pakistan ditawari hibah riset 100.000 dollar AS (Rp 1,3 miliar).

Jumlah doktor
Di Bandung, Menteri Ristek dan Dikti Muhammad Nasir menyatakan, pemerintah terus mendorong akselerasi memperbanyak jumlah dosen berpendidikan doktor atau S-3, setidaknya minimal 20 persen dari jumlah seluruh dosen perguruan tinggi. Itu untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi, sekaligus memperkuat inovasi nasional dan daya saing bangsa.

Salah satu yang dilakukan membuka Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) dengan lama pendidikan 4 tahun (1 tahun magister, 3 tahun doktoral). Selama ini, pendidikan doktoral rata-rata 6 tahun.

“Ini percepatan. Diharapkan dengan program ini pendidikan tinggi nasional makin berkualitas,” kata Nasir.

Koordinator Tim PMDSU, Dahrul Syah menjelaskan, mahasiswa yang diterima dalam PMDSU akan menerima beasiswa untuk Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan Rp 45 juta, biaya hidup Rp 2 juta per bulan, dan biaya riset tiga tahun Rp 180 juta, yang ditotal selama pendidikan 4 tahun sekitar Rp 321 juta. (JOG/B09/SEM)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Oktober 2015, di halaman 14 dengan judul “Kongres Ilmuwan Menanti Dampak”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB