Home / Berita / Komodo yang Akan Diselundupkan Diduga dari Daratan Flores

Komodo yang Akan Diselundupkan Diduga dari Daratan Flores

Pengamatan visual menunjukkan sejumlah komodo yang gagal diselundupkan di Jawa Timur berasal dari alam liar di daratan Flores. Hal ini tampak dari ukuran komodo yang lebih kecil dibandingkan komodo yang hidup di pulau-pulau Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Komodo tersebut memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan jenis komodo (Varanus komodoensis) pada umumnya karena memiliki mangsa terbatas. Evolusi yang diprediksi selama ribuan tahun tersebut juga terjadi karena ukuran mangsa yang kecil.

Wisata Komodo
Petugas jagawana TN Komodo, Kamis (31/8), mengambil gambar komodo yang sedang bersantai di bawah rindang pohon, dekat Pos Loh Liang, Pulau Komodo, Manggarai Barat, NTT.–Kompas/Heru Sri Kumoro
untuk Jelajah Terumbu Karang–caption: Ich

KOMPAS/HERU SRI KUMORO –Petugas jagawana TN Komodo, Kamis (31/8/2017), mengambil gambar komodo yang sedang bersantai di bawah rindang pohon, dekat Pos Loh Liang, Pulau Komodo, Manggarai Barat, NTT.

Komodo yang tersebar di Pulau Komodo, Rinca, Nusa Kode, Padar, dan Gili Motang di Taman Nasional (TN) Komodo memiliki ukuran tubuh lebih besar atau mencapai 2-3 meter saat dewasa. Di pulau-pulau berekosistem savana ini, komodo memangsa rusa dan kerbau liar.

”Komodo di daratan besar Flores ini hidup di area-area hutan lindung. Kami pernah cek ada yang areanya dikuasai masyarakat,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno, Rabu (27/3/2019), di Jakarta, menanggapi penggagalan penyelundupan komodo ke luar negeri dari Surabaya.

Ditjen KSDAE telah memerintahkan tim untuk mengambil sampel komodo untuk diuji genetika oleh tim pakar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Ini dilakukan untuk mengetahui komodo berasal dari daratan besar Flores atau dari dalam kawasan TN Komodo.

”Kalau dilihat ukurannya sih sepertinya dari daratan besar Flores,” kata Wiratno, yang pernah bertugas sebagai Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah Nusa Tenggara Timur.

Terkait habitat komodo di daratan besar Flores— dari Manggarai Barat, Bajawa, hingga kawasan Taman Wisata Alam Taman Laut 17 Pulau Riung, ia memerintahkan BKSDA Jawa Timur bersama organisasi Komodo Survival Program untuk memetakan dan mendata kembali wilayah tersebut.

”BKSDA agar berkomunikasi dan membantu pemerintah daerah dalam perlindungan area-area habitat komodo ini,” katanya.

DITJEN KONSERVASI DAN SUMBER DAYA ALAM DAN EKOSISTEM KLHK–Komodo tak hanya ada di kawasan Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, NTT. Di daratan besar Pulau Flores bagian utara pun dihuni spesies komodo yang berukuran lebih kecil. Tampak sebaran komodo di Flores dari Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kawasan ekosistem esensial
Habitat komodo di luar kawasan ini, lanjutnya, layak menjadikan area sebagai kawasan ekosistem esensial. Perlindungan area berstatus KEE berada di pemerintah daerah sehingga membutuhkan kolaborasi dan kesepahaman di daerah terkait arti penting biota ini.

Wiratno mengatakan, keberadaan komodo di KEE bisa dimanfaatkan pemerintah daerah untuk menciptakan destinasi wisata baru. Selain membagi berkah komodo yang selama ini relatif hanya dinikmati masyarakat sekitar Labuan Bajo di Manggarai Barat, upaya ini pun untuk mengurangi tekanan terhadap komodo liar di TN Komodo.

Beberapa waktu lalu dalam rapat terkait rencana penutupan Pulau Komodo dari aktivitas wisata, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemprov NTT Alexander Sena mengatakan, wisata komodo agar dilakukan hati-hati untuk tetap menjaga sifat liar komodo. Pihaknya bersama pemkab dan pemangku kepentingan lain masih membahas terkait detail pengelolaan wisata tersebut.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 27 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: