Home / Berita / Kombinasi Kebakaran Hutan dan Pandemi Covid-19 Sangat Fatal

Kombinasi Kebakaran Hutan dan Pandemi Covid-19 Sangat Fatal

Dampak kebakaran hutan dan lahan pada kesehatan masyarakat saat ini jauh lebih tinggi karena bersamaan dengan pandemi Covid-19. Karena itu, upaya pencegahan kebakaran lahan mesti menyeluruh.

REKAM NUSANTARA/FAIZAL ABDUL AZIZ–Asap membubung dari lokasi kebakaran di lahan yang baru dibuka di Desa Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, Senin (18/11/2019).

Dampak kebakaran hutan dan lahan pada kesehatan masyarakat saat ini jauh lebih tinggi karena bersamaan dengan pandemi Covid-19. Kebakaran yang terjadi berulang tiap tahun dengan konsentrasi polusi udara tinggi menjadikan warga setempat memiliki risiko jauh lebih tinggi jika terkena penyakit yang disebabkan virus korona (corona virus) tersebut.

Untuk itu, pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara menyeluruh mendesak dilakukan. Salah satunya, pemerintah mesti mempersiapkan tempat perlindungan bagi warga rentan serta menyediakan masker berkualitas minimal N95 bagi warga setempat.

”Masyarakat harus dilindungi, jangan diberikan masker yang biasa-biasa saja,” kata Budi Haryanto, Guru Besar Kesehatan Lingkungan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Kamis (30/4/2020), dalam diskusi virtual bersama Koalisi Ibu Kota.

Masker yang saat ini dibutuhkan warga yang bertempat tinggal di daerah rawan terdampak asap kebakaran adalah masker N95. Bahkan, ia menyebut masker medis—apalagi masker kain—tak cukup untuk menyaring partikel asap kebakaran hutan dan lahan.

Budi Haryanto memaparkan, partikel asap kebakaran hutan dan lahan berupa debu halus atau PM2,5 (berukuran kurang dari 2,5 mikrometer). ”Partikel haze ini bisa menembus masuk ke saluran pernapasan karena berukuran PM2,5,” ucapnya.

Ia menyebutkan, masyarakat yang tinggal di daerah langganan asap, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, bertahun-tahun selalu menghirup polusi kabut asap. Kejadian itu bisa berlangsung dua hari berturut-turut, bahkan seminggu ataupun beberapa jam dalam sehari, dengan konsentrasi asap sangat pekat.

Karena tragedi kabut asap terus berulang, berbagai penyakit kronis, seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), asma, dan gangguan fungsi paru, rentan diderita masyarakat. Kondisi saluran napas yang sensitif ini bisa menjadi penyakit bawaan atau komorbiditas.

”Percepatan gejala akan lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami pencemaran dosis tinggi seperti ini. Risikonya akan sangat fatal,” ujarnya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO—Membuka lahan dengan cara membakar hingga kini masih banyak ditemui di sejumlah daerah, antara lain di Desa Cemaga Selatan, Bunguran Selatan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Minggu (16/2/2020). Sejumlah lahan di daerah itu rawan terjadi kebakaran karena terdapat semak belukar bercampur rumput kering yang mudah terbakar.

Risiko kematian
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang juga Badan Nasional Penanggulangan Bencana akan menangani karhutla dan Covid-19 secara bersamaan, apalagi di semua provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan tersebut terdapat kasus positif Covid-19. Di Riau yang mulai muncul titik panas, menurut data Gugus Tugas, ada empat orang meninggal akibat Covid-19 dan 41 kasus terkonfimrasi per 29 April 2020.

Budi Haryanto menunjukkan hasil riset terkini yang dilakukan Harvard University yang dikeluarkan April 2020. Hasil riset itu menyatakan, risiko kematian Covid-19 bisa mencapai 4,5 kali lebih banyak di wilayah polusi PM2,5 tinggi. Setiap peningkatan 1 mikrogram per meter kubik PM2,5 bisa meningkatkan 15 persen kematian Covid-19. Hal senada pada sebulan sebelumnya juga ditemukan peneliti di Italia.

Hasil skripsi mahasiswa bimbingannya tahun lalu menunjukkan 23 persen perempuan dewasa di Jakarta mengalami gangguan fungsi paru. Masih menurut hasil skripsi mahasiwa bimbingannya yang lain tahun lalu, 56 persen pria dewasa sopir angkutan umum di Jakarta menderita gangguan fungsi paru. Dalam waktu dekat, ia pun akan merilis kajiannya terkait angka kematian akibat Covid-19 di Jakarta dan pencemaran udara di Jakarta.

Juru Bicara Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu mendesak pemerintah segera bergerak menyediakan rumah perlindungan (shelter) bagi masyarakat rentan, seperti ibu hamil, anak-anak, dan warga lanjut usia. ”Harus dilengkapi air purifier (pemurni udara), penyejuk ruangan, dan oksigen,” ucapnya.

DOKUMENTASI HUMAS POLDA RIAU–Anggota Kepolisian Daerah Riau bersama sukarelawan pemadam kebakaran hutan dan lahan memadamkan kebakaran di Pulau Rupat, Bengkalis, Riau, Selasa (25/2/2020).

Bondan dan Budi Haryanto pun meminta agar pencegahan karhutla dimasifkan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Upaya pemerintah saat ini, yaitu memanfaatkan bibit awan potensial untuk menurunkan hujan buatan (teknologi modifikasi cuaca), juga agar diimbangi dengan pengawasan di tingkat tapak serta menjaga gambut tetap lembab atau basah.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 1 Mei 2020

Share
x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: