Home / Berita / Kolaborasi Riset Peneliti dan Industri Sudah Menjadi Ekosistem di Luar Negeri

Kolaborasi Riset Peneliti dan Industri Sudah Menjadi Ekosistem di Luar Negeri

Kolaborasi riset antara peneliti dan pihak swasta atau industri sudah menjadi hal umum di luar negeri. Itu bertujuan agar hasil riset bisa digunakan dan dinikmati masyarakat secara luas dengan fasilitas yang lengkap.

Salah satu kendala utama dalam ekosistem riset di Indonesia yaitu belum banyak kolaborasi riset antara peneliti dengan pihak swasta atau industri. Padahal, kolaborasi ini sudah menjadi hal umum di luar negeri agar hasil riset bisa digunakan dan dinikmati masyarakat secara luas.

Ekosistem riset yang melibatkan kolaborasi antara peneliti dan industri ini sudah dirasakan langsung oleh Carina Joe, peneliti diaspora Indonesia di Institut Jenner, University of Oxford, Inggris. Carina merupakan salah satu orang Indonesia yang terlibat langsung hingga memperoleh paten dalam pengembangan vaksin Covid-19 yang diproduksi AstraZeneca.

Carina menyampaikan, dari pengalamannya menjadi peneliti di Australia dan Inggris, dua negara tersebut telah mempunyai ekosistem yang mendukung dalam sejumlah riset khususnya di bidang bioteknologi. Selain ketersediaan anggaran, para peneliti juga didukung kolaborasi dengan para ahli dari berbagai bidang untuk bertukar pikiran dan memberikan saran yang tepat.

”Hal inilah yang mendukung proyek supaya berhasil. Kalau riset hanya dilakukan di laboratorium, hasilnya tidak bisa dirasakan untuk kehidupan manusia. Jadi, memang perlu ada kerja sama industri dan peneliti sehingga hasilnya bisa dinikmati masyarakat serta ketersediaan fasilitas yang lengkap,” ujarnya, Minggu (8/8/2021), kepada Kompas.

Carina menjelaskan, kolaborasi antara para peneliti dan transfer teknologi biasanya dilakukan pada tahap terakhir dalam suatu penelitian. Dalam riset bioteknologi, transfer teknologi dilakukan setelah lolos uji klinis tahap I dan II atau saat memasuki uji klinis fase ketiga. Proses uji klinis tahap I dan II masih dilakukan oleh peneliti dalam satu lembaga tersebut karena dosis yang dibutuhkan tidak terlalu banyak dibandingkan dengan uji klinis tahap III.

”Banyak juga riset yang menunggu sampai produk lolos uji klinis III dan baru melakukan transfer teknologi. Hal ini karena dana yang dibutuhkan sangat besar dan dana tersebut biasanya diberikan setelah cukup data,” katanya.

Akan tetapi, khusus saat pandemi Covid-19 dan situasi yang mendesak, proses manufakturing (produksi pabrik) serta transfer teknologi dilakukan secara paralel dengan uji klinis. Proses kolaborasi dilakukan melalui presentasi dengan data yang ada ke perusahaan atau pemerintah yang dianggap mampu dan mempunyai minat untuk memproduksinya secara massal.

Dukungan dan kolaborasi antara peneliti dan industri juga sudah menjadi ekosistem riset di Jepang. Menurut Peneliti di RIKEN Center for Emergent Matter Science (CEMS) Jepang, Satria Zulkarnaen Bisri, Jepang selalu mengintensifkan konferensi ilmiah dan meningkatkan interaksi antar-ilmuwan. Bahkan, dalam konferensi ilmiah tersebut juga dihadiri oleh industri karena mereka yang memegang kunci dalam hilirisasi produk.

Satria mengatakan, hampir semua industri besar hingga Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) di Jepang memiliki laboratorium riset dasar sejak awal berdiri. Hal ini membuat permintaan dan penawaran bisa bersaing karena ekosistem yang muncul memungkinkan tiap industri untuk berinovasi.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menegaskan, guna meningkatkan kolaborasi riset ini, ke depan proses penelitian beserta infrastruktur di Indonesia akan didesain secara terbuka sehingga bisa dipakai oleh swasta.

Dari proses ini secara alami akan memicu interaksi antara peneliti dan swasta. Sebaliknya, penelitian dan infrastruktur yang bersifat tertutup atau hanya digunakan salah satu lembaga tidak akan meningkatkan interaksi maupun kolaborasi.

Seluruh infrastruktur riset dari berbagai lembaga riset juga akan disentralisasi seperti LIPI sehingga pemeliharaan dan manajemen akan dikelola oleh pusat. Pusat akan memfasilitasi peneliti dengan investasi peralatan baru dan menanggung biaya operasional pemeliharaannya. Pada akhirnya upaya tersebut akan membuat para peneliti fokus melakukan pekerjaannya mengingat manajemen riset selama ini kurang terfasilitasi.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: EVY RACHMAWATI, ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 12 Agustus 2021

Share
%d blogger menyukai ini: