Home / Berita / inovasi / Kok Bisa?, Kanal Youtube Berkonten Edukatif nan Menghibur

Kok Bisa?, Kanal Youtube Berkonten Edukatif nan Menghibur

Tidak semua pertanyaan ilmu perlu dijawab dengan mengernyitkan dahi. Melalui kanal Kok Bisa?, Alvin Dwisaputra, Gerald Sebastian, dan Ketut Yoga Yudistira mengajak penonton Youtube menjawab isu sehari-hari dengan gaya bertutur sederhana dan menghibur.

Simak video bertajuk “Kenapa Rupiah Melemah?” yang diunggah di Youtube empat pekan lalu saat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS semakin melemah. Video diawali dari pertanyaan berapa nilai tukar rupiah, apakah hal tersebut disebabkan oleh kesalahan kebijakan Presiden Joko Widodo, dan mengapa tukang bakso langganan mereka suka menaikkan harga. Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan penjelasan historis kondisi perekonomian global dan dampaknya ke Indonesia. Video ditutup narasi kesimpulan yang disuarakan dengan gaya melawak.

Responsnya luar biasa. Ini bisa dilihat dari jumlah penonton yang mencapai 406.934 hingga tulisan ini disusun.

Alvin, Gerald, dan Yoga adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi semester akhir di Universitas Indonesia. Masing-masing memiliki hasrat pada isu pendidikan dan teknologi digital.

“Kanal Kok Bisa? bermula dari kekesalan kami terhadap konten tayangan televisi Indonesia. Rata-rata konten menyuguhkan sinetron remaja berpacaran atau cerita remeh-temeh tentang manusia serigala dan naga. Mengapa penonton tidak mendapatkan isi edukatif?” ujar Gerald yang ditemui Kompas di sela-sela diskusi kreator digital Pop Talk, Sabtu (19/9), di Jakarta.

41eb7dea6e88416a8fbf48a45dee4500KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Video bertajuk “Kenapa Rupiah Melemah?” yang diunggah di Youtube empat pekan lalu saat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS semakin melemah.

Pengembangan kanal ini dimulai sekitar setahun terakhir. Tema konten video diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan sehari-hari yang sering diperbincangkan pengguna media sosial. Lalu, ketiganya melakukan riset melalui informasi di pemberitaan media cetak, elektronik, dan online. Ada pula, riset berasal dari buku-buku pengetahuan.

Alvin berperan sebagai periset materi. Kemudian, materi tersebut dibuat gambar atau ilustrasi oleh Gerald. Tahap akhir yaitu pembuatan animasi (motion graphic) dan isi suara dilakukan oleh Yoga.

“Walaupun konten edukatif, kami tidak mau menyajikan sebuah tayangan yang menggurui. Sebagai anak muda, segala keingintahuan perlu dijawab secara sederhana dan gaya santai,” kata Gerald. Sebanyak 80 persen konten merupakan materi riset dan sisanya lawakan.

Tidak ada kandungan unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Sebaliknya, mereka justru berupaya menerangkan dari perspektif sejarah.

Simak video berjudul Kenapa Orang Batak Galak?Kenapa Orang Padang Pelit? Kenapa Orang Jawa Lambat?.

Dalam video tersebut, Alvin, Gerald, dan Yoga justru berupaya menjelaskan latar belakang budaya Indonesia. Sebagai contoh, mereka mengutip data Badan Pusat Statistik tentang jumlah suku bangsa di Indonesia, yakni 1.340 suku. Selain itu, mereka juga menjelaskan konsep anekdot, suatu kebiasaan orang yang suka mengiyakan satu stereotip berdasarkan pengalaman pribadi.

“Target penonton kanal kami adalah pengguna telepon pintar dan internet berusia 15-24 tahun. Kami tidak mengutamakan kuantitas, tetapi kualitas. Sesuai visi awal yaitu menyuguhkan konten edukatif bagi masyarakat,” ujar Alvin.

Jadwal tayang video adalah Rabu. Sekitar 18 video sudah mereka produksi hingga sekarang.

8ab594a849454519b27e56bc2451cc7cKOMPAS/MEDIANA–Pendiri perusahaan rintisan berbasis teknologi atau startup Kok Bisa?, Alvin Dwisaputra dan Gerald Sebastian, berpose setelah memberikan workshop di Pop Talk, diskusi kreator digital, Sabtu (19/9), di Jakarta. Kok Bisa? mendistribusikan konten-konten edukatif yang mudah dipahami dan menghibur. Konten tersebut dapat ditonton melalui Youtube.

Pada awal berdiri, pelanggan kanal mereka hanya 15 orang. Itu pun berasal dari sanak keluarga dan teman kampus. Lambat laun, jumlahnya bertambah menjadi 100. Saat ini, pelanggan mereka sudah mencapai lebih 40.000.

Promosi dilakukan dari mulut ke mulut. Mereka menggunakan media sosial juga, seperti Facebook, Line, Twitter, dan Instagram.

“Cara memperluas pangsa pasar paling ampuh yaitu melalui forum diskusi Kaskus. Kanal Kok Bisa? sudah lima kali berturut-turut menjadi hot read di forum Kaskus usia 15-24 tahun,” kata Gerald.

Mengembangkan perusahaan rintisan berbasis teknologi tentu bukanlah hal mudah. Menurut Alvin, usaha mereka menghasilkan pendapatan baru-baru ini setelah iklan digital mulai masuk dan antusias penonton cukup tinggi.

Penonton video mereka sudah di atas 100.000 orang. Di luar itu, mereka memperoleh penghasilan dari mengerjakan proyek animasi. “Kami suka menyemangati satu sama lain. Ini passion kami. Bekerja berdasarkan hobi itu jauh lebih menyenangkan,” tuturnya.

Saat ditanya soal cita-cita? Mereka sepakat untuk membuka studio animasi dan terus mengembangkan motion graphic dengan genre edukatif nan menghibur.

MEDIANA

Sumber: Kompas Siang | 22 September 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahadata dan Kesehatan Masyarakat

Pemanfaatan mahadata meningkatkan derajat kesehatan warga. Selain identifikasi risiko medis, data juga untuk pengendalian biaya ...

%d blogger menyukai ini: