Home / Berita / Klimatologi; Membaca Tanda-tanda El Nino Kuat

Klimatologi; Membaca Tanda-tanda El Nino Kuat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi kekuatan El Nino yang saat ini moderat bakal berubah status menjadi kuat pada Agustus 2015. Itu didukung analisis lembaga meteorologi di sejumlah negara maju. Sejumlah tanda menunjukkan, El Nino tahun ini berpeluang lebih kuat dibanding tahun 1997, yang disebut-sebut El Nino paling kuat.
Pihak BMKG memprediksi nilai indeks ENSO (El Nino Southern Oscillation) pada Agustus menjadi 2,20 derajat celsius dan tetap kuat hingga Desember. Semakin tinggi nilai indeks, tingkat keparahan El Nino kian kuat.

“Meski lebih kuat, kita bisa mencegah dampak separah tahun 1997 terulang, asalkan semua sektor bergerak cepat mengantisipasi dan memitigasi,” ujar Kepala BMKG Andi Eka Sakya saat jumpa media “Kekeringan dan El Nino 2015” di Jakarta, Kamis (30/7).

El Nino adalah gejala penyimpangan berupa peningkatan suhu muka laut secara signifikan di Samudra Pasifik sekitar ekuator, khususnya bagian tengah dan timur. El Nino dikatakan kuat saat nilai indeks ENSO sudah lebih dari 2 derajat celsius, yang menunjukkan suhu muka laut di Samudra Pasifik berselisih 2 derajat celsius dibandingkan dengan suhu rata-rata normalnya.

Seiring dengan kenaikan status kekuatan, jumlah uap air yang tersedot ke Pasifik tengah dan timur kian besar sehingga potensi kekeringan lebih tinggi dibandingkan jika El Nino tetap moderat. Salah satu dampaknya, awal musim hujan di sebagian besar Indonesia bisa mundur ke November atau Desember.

Wilayah-wilayah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur pun terpantau tidak menerima hujan lebih dari 60 hari atau masuk kekeringan ekstrem. Pada sisi lain, BMKG memperkirakan ketersediaan air tanah di sejumlah wilayah selatan ekuator akan defisit parah pada Agustus dan September, antara lain Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Bintik matahari
Kemunculan El Nino kuat tahun ini, menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Edvin Aldrian, telah diprediksi tahun 2012 ketika terjadi puncak kejadian bintik matahari. Dari data historis periode El Nino kuat sejak 65 tahun lalu, fenomena itu muncul 2-3 tahun setelah terjadi bintik matahari. “Jeda waktu terjadi karena proses akumulasi penyerapan energi dari matahari oleh samudra, sebelum akhirnya dilepas dalam bentuk penghangatan suhu muka laut,” jelas Edvin.

Kaitan bintik matahari dan flare di permukaan Matahari terhadap kejadian El Nino memang ada. Itu disampaikan Thomas Djamaluddin, pakar astronomi dan astrofisika yang juga Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Itu karena Matahari sebagai sumber energi Bumi suhu di permukaannya tergolong sedang dibanding bintang lainnya, yaitu sekitar 6.000 derajat celsius.

Energinya berasal dari reaksi nuklir di intinya yang panasnya sekitar 20 juta derajat celsius, dipancarkan dalam berbagai jenis gelombang: gelombang radio, inframerah (menghangatkan Bumi), cahaya tampak (menyebabkan siang jadi terang), ultraviolet (membakar kulit jika berjemur lama), sinar X dan gamma.

836df00823d94320879194fa5e64232bMatahari yang menyimpan energi sangat besar itu terkadang mengalami ledakan besar di permukaannya (flare).  Energi saat ledakan itu setara dengan 10 juta ledakan bom atom.

Fenomena El Nino menyebabkan anomali cuaca di banyak negara, yaitu kekeringan di Indonesia, Australia, Amerika Tengah, dan daerah Laut Karibia. Kondisi sebaliknya terjadi di kepulauan Pasifik tengah, Amerika Serikat bagian selatan, Cile, Argentina, Uruguay, dan Brasil, yang mengalami banyak hujan.

Pengamatan satelit Tiros-N milik Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) menunjukkan, El Nino meningkatkan suhu troposfer secara global. Pengamatan suhu global oleh satelit ini 1979-1992 mengindikasikan adanya pengaruh aktivitas matahari di samping fenomena El Nino/La Nina (kebalikan dari El Nino). Suhu cenderung meningkat saat aktivitas matahari maksimum atau ada El Nino dan cenderung minimum saat aktivitas matahari minimum atau ada La Nina. Suhu rata-rata musim kering di dua kota di Indonesia yang dianalisis (Padang dan Jakarta) menunjukkan pola perubahan mirip dengan suhu global itu.

Dampak El Nino di Indonesia terlihat gejala nyatanya pada Februari, berupa peningkatan suhu muka laut di timur ekuator Pasifik timur. Dampaknya biasa terjadi Juni-November, yaitu musim kemarau panjang. Berkurangnya hujan dan meningkatnya suhu udara membuat kian parahnya kekeringan di Indonesia saat El Nino.

Wilayah Indonesia yang tak terdampak El Nino hanya Sumatera bagian utara karena dilewati angin monsun dari Australia ke Asia, meski relatif sedikit membawa massa air dari benua gersang ini.

Melihat kecenderungan kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik, NOAA menyatakan El Nino 1997 mirip El Nino 1982. Sementara itu, Edvin melihat, pada pola El Nino tahun 2015, peningkatan indeksnya sama dengan tahun 1997.

El Nino tidak mempunyai periodisitas tetap, tetapi berkisar 2-7 tahun. “Aktivitas matahari pun periodenya sebenarnya tidak konstan, berkisar 9,5-12 tahun dengan rata-rata 11 tahun,” lanjut Thomas.  Namun, bukti-bukti empirik menunjukkan frekuensi kejadian El Nino lebih banyak saat aktivitas matahari minimum daripada saat aktivitas matahari maksimum.

Seabad terakhir ada sebelas kejadian El Nino (1877, 1891, 1902, 1913, 1923, 1932, 1953, 1963, 1976, 1986, dan 1997) pada saat aktivitas matahari minimum. Itu hampir dua kali lipat dibanding enam kejadian (1884, 1905, 1918, 1946, 1957, dan 1969) pada saat aktivitas matahari maksimum. Apakah itu kebetulan? Para peneliti belum bisa menjawab dengan pasti.

Prediksi kejadian El Nino memasukkan model hubungan laut-atmosfer dan mengamati beberapa parameter terkait: tekanan di permukaan laut, angin permukaan, suhu permukaan laut, suhu udara permukaan, dan fraksi liputan awan.

Ada beberapa mata rantai yang dapat menjadi penghubung dalam menyusun suatu mekanisme fisis kejadian El Nino, yang mungkin akan melibatkan faktor aktivitas matahari. Suhu udara permukaan telah diketahui berkaitan dengan aktivitas matahari. Variasi aktivitas 11 tahunan tampak pada analisis variasi suhu udara permukaan 20 tahun terakhir ini.

Namun, untuk data jangka panjang, variasi suhu udara permukaan lebih tampak jelas dipengaruhi variasi panjangnya siklus aktivitas matahari, 9,5-12 tahun. Variasi anomali suhu permukaan laut global dengan periode 83 tahun ternyata juga terkait variasi jangka panjang aktivitas matahari yang berperiode 80-90 tahun, yang disebut Siklus Gleissberg.–YUNI IKawati dan J Galuh bimantara
————————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Juli 2015, di halaman 14 dengan judul “Membaca Tanda-tanda El Nino Kuat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: