Home / Berita / Kisah Penjual Buku di Negeri Perantau

Kisah Penjual Buku di Negeri Perantau

Manusia memilih macam-macam jalan untuk mengisi hidup. Begitu juga dengan Anton yang memilih jalan sepi mengemban misi muskil berdagang buku di Kota Batam, Kepulauan Riau.

KOMPAS/PANDU WIYOGA (NDU) 05-05-2020—Penjual buku bekas, Anton, berpose di depan tokonya di Nagoya, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (5/5/2020). Toko Anton adalah toko buku bekas satu-satunya di kota itu.

Manusia memilih macam-macam jalan untuk mengisi hidup. Begitu juga dengan Anton yang memilih jalan sepi mengemban misi muskil berdagang buku di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Seperti biasa, seorang laki-laki setengah baya duduk di pojok depan tokonya, Selasa (5/5/2020). Di sekelilingnya, ribuan buku usang ditumpuk tak beraturan hampir setinggi atap. Siang itu panas bukan main. Kipas angin kecil dihidupkan untuk mengusir pengap karena debu dan aroma kertas tua.

Mang Anton sedang menunggu seorang pelanggan. Tiga jilid pertama buku Harry Potter disusun rapi di meja sebelah depan ia duduk. Buku-buku itu sudah dipesan si calon pembeli sejak dua hari sebelumnya.

Lewat tengah hari yang dinanti akhirnya datang juga. Perempuan dengan pakaian terusan warna merah muda tanpa lengan masuk ke toko Mang Anton di bilangan Nagoya itu. Tangannya menggenggam beberapa lembar pecahan Rp 50.000.

”Jadi, ini semua berapa?” tanya si perempuan baju merah muda tanpa memeriksa dulu kondisi buku-buku itu.

”Rp 60.000 saja karena yang satu sampul belakangnya sobek,” jawab Mang Anton tersenyum ramah.

Pelanggan itu lalu memberikan dua lembar pecahan Rp 50.000, tetapi Mang Anton tak punya kembalian. Uang itu dikembalikan, si perempuan baju merah muda boleh membayarnya lain hari.

”Lho, gimana kok gitu,” ucapnya dengan cemberut.
”Cincai-lah, besok-besok, kan, bisa,” kata Mang Anton tersenyum ramah.

KOMPAS/PANDU WIYOGA–Tumpukan buku bekas di toko ‘Tobukas’, Nagoya, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (7/5/2020). Toko itu merupakan satu-satunya penyedia buku bekas di Kota Batam.

Meskipun tak jadi dapat uang, kedatangan si perempuan baju merah muda itu membuat Mang Anton sedikit lebih ceria. Ia merasa beruntung karena pada masa sulit di tengah pandemi Covid-19 ini masih saja ada segelintir orang yang sudi berkunjung ke tokonya.

Mang Anton menamai lapaknya Tobukas, sekadar akronim dari frasa Toko Buku Bekas. Namun, kini plang nama toko sudah lenyap entah ke mana. Itu tak jadi masalah, toh semua orang Batam tahu ke mana harus mencari buku bekas, tak ada tempat lain yang menjalankan bisnis serupa di kota itu.

Laki-laki pemalu yang tak suka menyebut usia itu bercerita, Tobukas awalnya adalah usaha penyewaan komik. Ia bekerja di situ pada 2007. Namun, hanya dalam hitungan bulan, lapak itu bangkrut. Si pemilik lalu menawari Mang Anton mengambil alih dan mengubahnya menjadi toko komik bekas.

Ia memberanikan diri mengambil tawaran itu. Tak dinyana, peminat komik bekas ternyata lumayan banyak, jualannya laris manis. Hanya dalam empat bulan, ia sudah bisa mengembalikan pinjaman modal Rp 7 juta dari pemilik lama.

Setelah tiga tahun menjadi penjual komik bekas, Mang Anton merasa ada sesuatu yang kurang. Ia juga ingin menjual novel, ensiklopedia, kamus, dan biografi, pokoknya semua jenis buku yang ada di toko buku lain pada umumnya.

”Aku punya konsep jual buku serius, tetapi ragu apa nanti ada yang beli. Mayoritas orang Batam itu, kan, perantau. Mereka mikir praktis, ke sini untuk kerja dan nyari uang bukan untuk belajar atau baca buku,” ujarnya.

KOMPAS/PANDU WIYOGA (NDU) 05-05-2020–Penjual buku bekas, Anton, melayani pelanggan di tokonya yang terletak di Nagoya, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (5/5/2020). Di toko itu pembeli bisa mendapatkan berbagai jenis buku dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 60.000.

Mang Anton adalah sosok dengan kombinasi unik, gampang ragu sekaligus mudah bertindak setengah nekat. Saat mudik ke Bandung, ia memborong buku bekas dari Pasar Palasari dan Dewi Sartika. Sebelum kembali ke Batam, ia mampir dulu ke Jakarta membeli buku di Pasar Senen dan Blok M.

”Waktu itu naik Kapal (Motor) Kelud dari Tanjung Priok bawa sekitar 200 buku. Pikirku kalau enggak laku, ya, sudah aku baca sendiri saja soalnya waktu itu bukunya banyak yang bagus,” ucapnya.

Tahun 2007 hingga 2014, Tobukas ramai pembeli. Pernah, dalam sehari, Mang Anton mendapatkan pemasukan Rp 4,5 juta. Bisa dibayangkan betapa banyaknya buku yang laku dalam satu hari itu, mengingat sebuah buku hanya dibanderol antara Rp 5.000 dan Rp 60.000.

Mayoritas pembeli di Tobukas adalah pelajar dan pegiat literasi. Jenis yang terakhir kalau datang sudah pasti memborong banyak buku. Mereka biasanya membutuhkan banyak buku cerita bergambar untuk dibagikan kepada anak-anak di pulau-pulau kecil sekitar Batam.

”Kalau ada yang mau bikin gerakan literasi aku kasih murah yang penting sekadar ada pemasukan. Khusus untuk mereka, satu buku aku kasih Rp 2.000 sampai Rp 3.000,” katanya.

HENDRA MAHYUDI UNTUK KOMPAS—Anggota Komunitas Diskusi Dua Pekan tengah berdiskusi di toko buku bekas ‘Tobukas’ di Nagoya, Batam, Kepulauan Riau, Minggu (8/12/2019). Oleh para penggemar buku acara itu rutin digelar dua minggu sekali bertempat di lokasi yang sama.

Masa sulit
Mulai 2014, penggemar buku di Batam yang jumlahnya sudah sedikit menjadi semakin sedikit lagi. Pembeli di Tobukas turun drastis, terutama komik. Anak dan remaja lebih memilih layar gawai atau komputer untuk menikmati komik.

Lebih praktis dan sudah tentu gratis. Untuk menyiasati pendapatan penjualan buku yang anjlok, ia menjual baju bekas di depan Tobukas. Sayangnya, hal itu tak banyak menolong. Kondisi semakin parah, sewa toko Rp 2 juta per bulan mulai macet.

Di tengah masa sulit itu, kata Mang Anton, keajaiban-keajaiban kecil muncul. Pernah ada yang begitu saja meletakkan beberapa kardus buku bekas di depan toko. Ada juga orang entah dari mana tiba-tiba muncul dan memberi banyak sekali buku bekas tanpa mau dibayar.

”Malaikat-malaikat itulah yang bikin aku sering terkenang zaman itu. Kok, bisa-bisanya mereka ngasih buku gratis, padahal aku ini jualan, cari untung juga sama kayak pedagang lain,” ucapnya.

Kebaikan lain muncul dari pemilik toko saat Mang Anton menyatakan ingin menutup usahanya. ”Pokoknya kamu jangan pergi, soal kontrakan enggak usah dipikir yang penting jalan dulu,” katanya mengenang kata-kata pemilik toko. ”Malah waktu pulang, aku dikasih duit.”

Pada periode yang sama, Mang Anton menemukan peluang usaha lain. Kerabatnya di Bandung membutuhkan limbah stik golf untuk diubah jadi joran pancing. Limbah stik golf mudah ditemukan di Batam dan harganya pun sangat murah. Dalam sebulan, paling sedikit ia bisa menjual 100 stik golf dan mendapat keuntungan sekitar Rp 4 juta.

”Sampai sekarang aku masih jual stik golf bekas. Kalau enggak begitu, mungkin sudah lama aku pulang kampung,” ucapnya.

KOMPAS/PANDU WIYOGA—Penjual buku bekas, Anton, tengah merapikan tumpukan buku di tokonya di Nagoya, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (5/5/2020). Ribuan buku dari berbagai jenis dan bahasa ada di toko yang buka sejak 2007 itu.

Komunitas baca
Kondisi Tobukas sedikit membaik pada 2019. Pembeli baru muncul lagi, tak banyak, tetapi cukup untuk membuat toko tetap beroperasi. Bahkan, sejak September 2019, Tobukas rutin menjadi tempat kumpul para penggemar buku yang menamakan diri Komunitas Diskusi Dua Pekan.

Komunitas itu dimotori tiga pemuda, yakni Kasyanto (25), Fathur (26), dan Hendra (30). Tujuannya sederhana saja, mewartakan bahwa membaca buku itu tak melulu sunyi dan membosankan. Di toko buku Mang Anton, dua pekan sekali, belasan pemuda meluangkan waktu bertemu untuk berbagi dan menggali makna dari lembaran-lembaran buku yang baru usai dibaca.

”Tradisi baca dan diskusi belum hidup di Batam. Penggemar buku jumlahnya sangat sedikit, akibatnya toko buku banyak yang tutup karena sepi pembeli,” ujar Kasyanto.

Ia merasa hal ini aneh sekali sebetulnya. Tetangga dekat Batam, Singapura, adalah salah satu negara dengan indeks aktivitas literasi paling baik di dunia. Namun, entah kenapa hal ini tak menular ke Batam.

Meskipun Batam dikenal sebagai surga barang bekas impor, hal ini tak berlaku pada buku. Kasyanto mengatakan, barang bekas dari Singapura yang laku dijual di Batam hanyalah penunjang gaya hidup, misalnya pakaian dan gawai bekas. Di kota ini, buku tak pernah mendapat tempat, apalagi buku bekas.

Kasyanto mencatat, antara 2011 dan 2015, tiga dari empat toko buku besar di Batam tutup. Yang masih bertahan tinggal Gramedia di salah satu pusat perbelanjaan. ”Makanya Mang Anton itu aneh, toko besar saja sudah banyak yang tutup, tetapi dia bisa bertahan,” ucapnya.

Data yang dikeluarkan Pusat Pelaksanaan Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan pada April 2019 menunjukkan, indeks aktivitas literasi di Kepulauan Riau, termasuk Batam, sebenarnya lebih baik dibandingkan dengan daerah lain. Kepri (54,76) berada di peringkat ketiga, di bawah DKI Jakarta (58,16) dan Yogyakarta (56,20). Namun, tiga provinsi itu pun belum mencapai angka 60 untuk kategori tinggi.

Tingkat literasi baca Indonesia memang selalu payah. Laporan Programme for International Assessment pada 2018 menunjukkan, tingkat literasi baca Indonesia berada di posisi ke-72 dari 77 negara dengan skor 371. Indonesia jauh tertinggal dari Singapura yang duduk manis di posisi ke-2 dengan skor 549.

Masa depan
Mang Anton tak pernah mengira Tobukas bisa bertahan selama 13 tahun sampai sekarang. Di tengah kota yang kering ini, orang memang bisa membaca, tetapi sekadar untuk melihat kalender, menengok harga barang, atau mencari alamat.

Selama pandemi Covid-19, situasi menjadi semakin sulit. Pernah selama dua minggu penuh tak ada pembeli sama sekali datang ke Tobukas. ”Sekarang ini kalau dalam sehari ada satu orang yang datang saja aku sudah senang, kok,” kata Mang Anton.

Untuk apa Mang Anton berjualan buku bekas di kota yang tidak membaca? Sampai kapan Tobukas bisa bertahan? Apakah ada yang merasa kehilangan jika toko kecil di sudut kota itu tutup? Pertanyaan itu dan keinginan untuk ganti pekerjaan sudah tak terhitung lagi berapa kali melintas di pikiran Mang Anton. Namun, Tobukas sudah menjadi dunia kecil baginya. Tak kurang dari 12 jam dalam sehari ia berada di sana, tak peduli hari biasa atau tanggal merah sekalipun.

Mang Anton merasa sudah sampai pada tahap selesai dalam hidup. Ia puas dengan semua yang dipunyai sekarang. Begitu pun dengan istri dan satu anaknya yang tak pernah menuntut lebih. Seperti ia sering kali berujar, itu memang tak berlebih, tetapi juga tak kurang.

”Orang enggak bisa menduga apa yang menunggu di depan. Aku nikmati saja. Pasti ada keajaiban-keajaiban kecil yang menolong. Buatku itu romantika hidup. Iya, hidup selalu gitu,” ucapnya.

Oleh PANDU WIYOGA

Editor: KOMPAS CETAK

Sumber: Kompas, 15 Mei 2020

Share
x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: