Home / Berita / Kewirausahaan Diharap Kurangi Penganggur

Kewirausahaan Diharap Kurangi Penganggur

Ilmu kewirausahaan akan mulai diajarkan kepada siswa Sekolah Menengah Kejuruan pada tahun ajaran baru 2018/2019. Hal itu sebagai upaya menciptakan pengusaha muda untuk memangkas jumlah penganggur lulusan jenjang SMK.

Direktur Pembinaan SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan M Bakrun mengatakan, lulusan SMK paling mendominasi tingkat pengangguran di Indonesia, yakni 11,4 persen. Menurut Bakrun, hal itu disebabkan tidak ada keseimbangan antara kebutuhan tenaga kerja dan jumlah lulusan di SMK. Oleh karena itu, pihaknya ingin mendorong agar para lulusan SMK nantnya bisa berwirausaha sendiri.

NIKOLAUS HARBOWO–Kepala Subdit Kurikulum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdkibud) Mochamad Widiyanto (kiri) dan Direktur Pembinaan SMK, Kemdikbud M Bakrun melakukan konferensi video bersama SMK seluruh Indonesia dengan tema “Revitalisasi Kelas Model Kewirausahaan dan Produk Kreatif SMK Melalui Mata Pelajaran Simulasi dan Komunikasi Digital” di gedung Kemdikbud, Senin (26/2).

“Saat ini lulusan SMK dinilai belum bisa bekerja sesuai dengan yang menjadi harapan industri. Karena itu, kami ingin dorong mereka untuk memahami proses berwirausaha semasa sekolah agar embrio pengusaha muda itu muncul setelah mereka lulus,” ujar Bakrun seusai melakukan konferensi video bersama SMK seluruh Indonesia dengan tema “Revitalisasi Kelas Model Kewirausahaan dan Produk Kreatif SMK Melalui Mata Pelajaran Simulasi dan Komunikasi Digital” di gedung Kemdikbud, Senin (26/2).

Ilmu kewirausahaan itu telah dimasukkan ke dalam Revisi Kurikulum 2013 (K-13). Ada dua mata pelajaran yang dimunculkan, yaitu “Simulasi dan Komunikasi Digital” untuk kelas I SMK, dan “Produk Kreatif dan Kewirausahaan” untuk kelas II sampai IV SMA. Kedua mata pelajaran itu saling bersinergis satu sama lain.

Pada mata pelajaran “Simulasi dan Komunikasi Digital”, siswa akan diajarkan soal pengembangan kewirausahaan yang berkaitan dengan usaha dalam jaringan (daring/online) dan juga pengajaran mengenai proses pemasaran produk melalui sistem daring.

Sedangkan, pada mata pelajaran “Produk Kreatif dan Kewirausahaan”, siswa akan diajarkan mengenai pengembangan produk yang sesuai dengan kemauan pasar.

Direktorat Pembinaan SMK telah bekerja sama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) sebagai tenaga pendidik dari kedua mata pelajaran tersebut. Setidaknya, Hipmi telah ada di sekitar 500 kabupaten/kota yang tersebar di seluruh Indonesia. Pengajaran lebih dipilih menggunakan wirausaha langsung daripada guru produktif di SMK agar siswa mendapatkan ilmu yang implementatif.

“Kalau guru yang belum mengajar itu belum pernah berwirausaha, agak berat juga, hasilnya pasti tidak optimal. Pembimbingan akan dicoba Hipmi yang sudah biasa melakukan wirausaha. Jadi juga sekaligus memotivasi para siswa,” tutur Bakrun.

Bakrun mengaku, tidak mudah untuk membentuk wirausaha. Namun, ia berharap, dengan upaya tersebut, setidaknya setiap tahun sebesar 2 persen dari sekitar 1,5 juta siswa lulusan SMK bisa menjadi pengusaha muda.

Menyesuaikan era
Kepala Subdit Kurikulum Kemdikbud Mochamad Widiyanto mengatakan, saat ini zaman semakin digital, sehingga kurikulum juga harus dapat menyesuikan dengan kebutuhan dari perkembangan tersebut. Oleh karena itu, ia juga menekankan perlunya sikap inovatif dan kreatif dari para siswa dalam memunculkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

NIKOLAUS HARBOWO DARI KOMPAS–Kepala Subdit Kurikulum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdkibud) Mochamad Widiyanto (kiri) dan Direktur Pembinaan SMK, Kemdikbud M Bakrun melakukan konferensi video bersama SMK seluruh Indonesia dengan tema “Revitalisasi Kelas Model Kewirausahaan dan Produk Kreatif SMK Melalui Mata Pelajaran Simulasi dan Komunikasi Digital” di gedung Kemdikbud, Senin (26/2).

“Tantangan makin berat. Apa yang diajarkan sekarang di kurikulum belum tentu di lapangan dua hingga tiga tahun di lapangan kerja masih ada. Karena itu, selain kurikulum harus menyesuikan, siswa juga dituntut bisa berwirausaha sendiri dan melihat peluang ke depan,” ujar Widiyanto.

Adapun, mata pelajaran “Simulasi dan Komunikasi Digital” akan diadakan selama tiga jam per minggu. Sedangkan, mata pelajaran “Produk Kreatif dan Kewirausahaan” akan diadakan selama 7-10 jam per minggu.

Selain itu, Direktorat Pembinaan SMK juga bekerja sama dengan Sekretariat Organisasi Menteri-menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMEO) untuk memilih 100 SMK yang akan dilatih oleh wirausaha-wirausaha sukses atau disebut maestro.

Direktur Sekretariat SEAMEO Gatot Hari Priowirjanto mengatakan, dengan belajar dari maestro, siswa memiliki dua pilihan, yakni mereka akan ikut membesarkan produk dari maestro dengan menjadi reseller atau mereka memilih membuka usaha sendiri.

“Sasaran kami agar sang maestro mengajari anak-anak utnuk bisa membuka usahanya sendiri dan berjualan online. Pada dasarnya adalah menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan omzet yang tinggi pula,” ujar Gatot.(DD18)

Sumber: Kompas, 28 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: