Home / Sosok / Kevin Kumalaputra; Bioplastik yang Ramah Lingkungan

Kevin Kumalaputra; Bioplastik yang Ramah Lingkungan

Kevin Kumalaputra menikmati Bali yang bersih sebelum ia hijrah ke Amerika Serikat tahun 1998. Namun, belakangan, salah satu tujuan wisata terbaik dunia itu justru dirundung banyak sampah plastik. Prihatin atas kondisi itu, ia memproduksi bioplastik dari sari pati singkong, jagung, dan ampas tebu yang ramah lingkungan.

Kevin (31) mengibaratkan, sebelum tahun 1998, orang bisa surfing gembira di ombak lautan. Sekarang, surfing seperti di atas ombak sampah plastik. Dulu, ia bisa menyelam menikmati keindahan taman bawah laut Bali. Kini, diving untuk memunguti plastik.

Apa mau dikata, itulah gambaran ekstrem yang nyata. Kenyataan itu mendorong Kevin mencari solusi. Dia pun mencoba menciptakan produk bioplastik ramah lingkungan dan membuka kantor utama dengan laboratorium kecil di Bali.

Kantong keresek bioplastik disobek kecil-kecil, lalu dimasukkan ke dalam akuarium. Potongan-potongan itu bisa menjadi santapan bagi ikan. Kenapa begitu? Karena plastik itu dari sari pati singkong, jagung, dan ampas tebu sehingga ramah lingkungan.

Begitu pula beberapa produk temuan lain, seperti sedotan minuman, gelas kopi (coffee cup) berikut tutupnya, kotak styrofoam, dan kertas berlapis plastik atau lilin. Sepintas produk itu terlihat serupa plastik pada umumnya, tetapi sebenarnya semua itu dibuat dari bahan alami sehingga ramah lingkungan.

Kevin mulai uji coba tahun 2009. Ia membuat studi kelayakan tentang parahnya polusi plastik dan menjajaki potensi serta kemungkinan untuk mengatasi polusi plastik. Selama proses itu, latar belakang pendidikannya cukup membantu dalam bekerja.

Perjalanan studi Kevin memang memberikan modal ilmu pengetahuan. Tujuh tahun ia kuliah kedokteran di Amerika Serikat. Pendidikan S-1 biologi dengan fokus mikrobiologi memberi kemampuan bagaimana menganalisis komponen-komponen atau unsur biomassa.

Menurut Kevin, ilmu ini memberikan dua pemahaman tentang selulosa dan amilosa. Selulosa memberi manfaat baik, yaitu produk bioplastik bisa diserap secara alami menjadi kompos saat masuk ke dalam tanah. Amilosa berfungsi mengubah material agar memiliki karakteristik lebih baik daripada plastik biasa.

Bagi Kevin, bioplastik harus memiliki kemampuan durabilitas (ketahanan) sekaligus eco-friendly (ramah lingkungan). Kalau sekadar tahan tetapi tak ramah lingkungan, itu sama saja mereproduksi plastik yang ada di pasaran. Namun, kalau sekadar ramah lingkungan tanpa ketahanan, bioplastik itu bakal cepat jebol.

“Tingkat ketahanan bioplastik ini mencapai 85 persen, sedangkan daya tampungnya 4,5 kilogram. Ternyata produk ini justru dilirik untuk pasar ekspor. Terus terang saya kurang diapresiasi di pasar dalam negeri. Inilah karya anak bangsa yang disepelekan,” kata Kevin.

Memang harga produk itu lebih mahal daripada plastik biasa yang beredar di pasaran. Itu terjadi karena produk organik menggunakan bahan baku premium dari aneka tumbuhan. Plastik biasa terbuat dari petroleum yang cikal bakalnya dari fossil fuel atau energi tak terbarukan.

Meminjam waktu
Bagi Kevin, hidup di dunia ini hanyalah meminjam waktu dari anak dan cucu kita. Apa yang akan ditinggalkan buat anak-anak dan cucu kalau semua masih menggunakan fossil fuel?

Kevin mengambil ampas singkong yang masuk kategori industrial grade cassava untuk bahan baku bioplastik. Material ini biasanya untuk suplemen pakan ternak. Ada juga bahan baku dari ampas tebu (bagas), yang biasanya buangan pabrik gula.

Pemuda ini menyebut dirinya sebagai pemulung. “Saya ambil sampah sari pati dan memprosesnya menjadi produk bernilai tambah,” ucapnya. Ada yang diproses sendiri di pabriknya di Tangerang, Banten, tetapi untuk produk tertentu diproses oleh mitra di China. Produk tertentu itu diproduksi di negara lain semata-mata mempertimbangkan efisiensi biaya produksi.

Ampas tebu dari Indonesia dikumpulkan, lalu diekspor ke China untuk diproses menjadi produk jadi. Produk itu lantas diimpor kembali ke Indonesia untuk dipasarkan, terutama di pasar luar negeri. Soalnya, hanya sebagian kecil hotel di dalam negeri yang tertarik.

Kevin menjelaskan, gelas kopi yang beredar dan digunakan masyarakat, bahkan di restoran terkemuka, sering disebut tidak berbahaya. Padahal, 60 persen coffee cup itu terbuat dari plastik. Itu berbeda dengan bioplastik produksi Kevin yang menggunakan bahan baku alami, seperti ampas tebu, pati singkong, dan pati jagung. Pati jagung berbentuk bubuk.

Kevin mengembangkan gelas kopi murni dari pati jagung, termasuk bagian penutup gelasnya. Sesuai pengakuan lembaga sertifikasi di Amerika Serikat, gelas tersebut akan terurai menjadi kompos dalam waktu 180 hari. Ini menjadi nilai tambah bagi lingkungan.

Berdasarkan penelitian Kevin, dengan cuaca lebih panas dan curah hujan tinggi di Indonesia, produk itu bahkan bisa terurai menjadi kompos dalam 60 hari.

Ancaman sampah plastik
Sekarang ini, produk yang beredar di pasaran disebut degradable plastic. Sekitar 80 persen memang sudah menggunakan plastik khusus, tetapi sesungguhnya masih tergolong plastik. Produk itu hanya disuntik zat metal agar sewaktu masuk ke tanah bisa terurai dalam dua tahun.

Namun, apa yang terjadi? Pecahan kemasan itu berpotensi dimakan binatang, seperti ayam, sapi, atau kambing, bahkan tumbuhan, yang ujung-ujungnya dikonsumsi manusia. Plastik jenis itu akan memengaruhi kondisi dan kesuburan tanah karena metal yang disuntikkan bisa dikategorikan kobalt dan terkadang magnesium.

“Inilah yang disebut microplastic pollutions. Ini jauh lebih berbahaya dari plastik itu sendiri. Tidak bisa dihindari hewan,” ujar Kevin.

Di beberapa benua, kemasan plastik degradable sudah dilarang karena dampak buruknya besar. Kita tidak cukup berkampanye dengan slogan reduce, reuse, dan recycle. Slogan 3R itu hanyalah melodi indah. Kita perlu replace dengan jangkauan lebih lebar. Konsumen tidak usah mengubah kebiasaan sehari-hari, tetapi pelaku usahalah yang harus mengganti bahan-bahan dari plastik dengan nabati. Itu termasuk penyedia jasa perhotelan dan restoran.

Kevin memberikan ilustrasi menarik. Jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa. Panjang sedotan plastik biasanya 20 sentimeter. Apabila satu orang menggunakan satu sedotan plastik, berarti lebih kurang sedotan itu akan tersusun menjadi sekitar 50.000 kilometer.

Lebih jauh, sedotan plastik sepanjang itu berarti sama dengan 1,2 kali panjang garis khatulistiwa di bumi ini yang lebih kurang 41.000 kilometer. Jika kondisi itu dibiarkan, epidemik plastik menjadi ancaman nyata bagi Indonesia dan dunia.

KOMPAS/STEFANUS OSA TRIYATNA

KEVIN KUMALAPUTRA

Lahir:
Jakarta, 21 Mei 1985

Orangtua:
Kuky Kumala dan Tina Kohar

Pendidikan:
Bachelor of Arts Ilmu Biologi University of Southern California (2003-2007)
Minor in Business Administration University of Southern California (2003-2007)
Doctor of Oral-Maxillofacial Surgery University of California Los Angeles (2007)
Magister Manajemen Universitas Bina Nusantara (2014-2016)

Pengalaman:
Co-founder PT Nirwana Alam Hijau (Avani) (2014-sekarang)
Co-founder PT Tritunggal Orasa Prima Alam Semesta (Uncle Mao’s) (2015-sekarang)
Co-founder dan Managing Director PT Berkat Karya Utama (2011-sekarang)
Presiden Direktur PT Mitra Bina Sejahtera (2009-2014)
Chief of Operational Officer CV Algaetech Indonesia (2009-2012)

STEFANUS OSA TRIYATNA
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 April 2017, di halaman 16 dengan judul “Bioplastik yang Ramah Lingkungan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: