Home / Berita / Ketika Generasi Milenial Menjadi ”Chemowarrior”

Ketika Generasi Milenial Menjadi ”Chemowarrior”

”Dilan, kamu tahu enggak? Kemoterapi itu jauh lebih berat ketimbang rindu. #Dian1991.” Demikian status Dian di akun Facebook miliknya pada 29 Januari 2018.

Adalah Radian Nyi Sukmasari (26), jurnalis kesehatan yang memiliki akun Facebook itu. Perempuan berkacamata yang akrab dipanggil Dian itu didiagnosis menderita kanker payudara stadium III B. Setelah bertahun-tahun membuat tulisan kesehatan, termasuk kanker, ia pun menjalani kemoterapi. Pengalamannya menjalani kemoterapi hampir delapan jam ia bagikan dalam akun Facebooknya.

Banyak rekannya bertanya bagaimana rasanya kemoterapi. ”Sakit? Enggak. Selama chemowar, badan gue enggak terasa apa-apa, bisa kirim artikel dan foto-foto. Makan masih mau, bahkan gue minta di-pesenin zuppa soup. Habis chemowar pun badan masih oke,” ujarnya.

Perjuangan dimulai saat kemoterapi selesai. Malam setelah menjalani kemoterapi, ia tak bisa tidur. ”Badan kayak di-gebukin orang sekampung,” ujarnya.

Cerita itu berawal saat Mei 2017 ada benjolan di bagian kanan payudaranya. Ia diperiksa dan menjalani biopsi pada Juni dan hasilnya negatif kanker. Ia disarankan menjalani pemeriksaan enam bulan kemudian.

Seiring waktu, benjolan di payudaranya membesar, mengeras, dan kadang nyeri. Ia tak menemukan gejala kanker payudara seperti payudara bersisik atau seperti kulit jeruk, perubahan bentuk puting, atau keluarnya darah dan cairan. Namun, ia merasa sakit di ketiak, mudah lelah, dan stamina tubuh turun.

Setelah dibiopsi kembali pada Desember lalu, ia didiagnosis kanker payudara stadium III. Hasil pemindaian dengan positron emission tomography (PET) menunjukkan, kanker payudaranya menyebar ke kelenjar getah bening dan paru-paru.

Dian shock dan menangis. Akhirnya ia memfokuskan pikiran pada terapi. Dukungan keluarga, sahabat, dan tempat kerja menguatkan dirinya.

Secara nasional, menurut Riset Kesehatan Dasar, prevalensi kanker pada 2013 mencapai 1,4 persen atau 347.792 penderita. Adapun prevalensi kanker payudara 0,8 persen disusul kanker leher rahim 0,5 persen. Prevalensi kanker tertinggi terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta (4,1 persen), Jawa Tengah (2,1 persen), dan Bali (2 persen).

Berdasarkan estimasi Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012, kejadian kanker pada perempuan di Indonesia 134 per 100.000 dengan kasus terbanyak pada perempuan adalah kanker payudara, yakni 40 per 100.000.

Di Aceh, misalnya, prevalensi kanker 1,4 per 1.000. Artinya, dalam 1.000 orang ada 1-2 orang terkena kanker. Menurut Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Aceh Abdul Fatah, jenis kanker yang banyak diderita warga Aceh adalah serviks, payudara, dan mata. Umumnya penderita baru berobat setelah memasuki stadium IV. Padahal, jika dideteksi dini, peluang sembuh besar.

Usia muda
Kanker bisa menyerang penduduk di segala usia. Erindia Deviana (26), teman kuliah Dian, mengaku tak menyangka Dian didiagnosis kanker payudara stadium IIIB di usia muda. Sahabatnya yang lain terkena kanker leher rahim. Padahal, semula ia dan sejumlah temannya menganggap tak perlu periksa kesehatan karena masih muda.

Sebagai bagian dari generasi milenial, Erindia selalu mencari informasi kesehatan melalui mesin pencari Google dalam jejaring dunia maya, termasuk informasi kanker. Ia mendapati sumber informasi kesehatan berlimpah, tetapi bingung mana informasi yang benar.

Erindia berharap, sosialisasi informasi kesehatan lebih menyentuh generasi milenial. Kanal informasi yang dipakai bisa lewat aplikasi, laman kesehatan, dan penyampaian langsung pada komunitas anak muda.

Menurut Dian, generasi milenial umumnya memiliki pengetahuan cukup tentang kanker. Namun, itu perlu ditambah agar lebih paham dan tergerak menerapkan pola hidup sehat. Ia kerap mengingatkan orang sekitarnya untuk melakukan sadari, periksa payudara sendiri. ”Minimal, jika kanker payudara terdeteksi dini, penanganannya lebih mudah. Misalnya, butuh operasi tanpa perlu kemo yang efeknya luar biasa,” ujarnya.

Aplikasi
Untuk memudahkan deteksi dini kanker, kini tersedia aplikasi telepon pintar berupa tanya jawab untuk mendeteksi kanker payudara, paru, usus besar, dan mulut rahim. Aplikasi Deteksi Dini Kanker itu digagas Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) Cabang Semarang. Peluncuran aplikasi bertepatan dengan peringatan Hari Kanker Sedunia bertema ”We Can I Can”, di Kota Semarang, Minggu (4/2).

Ketua Perhompedin Cabang Semarang C Suharti menjelaskan, aplikasi telah tersedia di Playstore. Aplikasi itu memuat informasi seputar kanker, mulai dari cara menekan risiko kanker, alur pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA), mamografi, endoskopi, penyakit menular seksual, hingga aksi pola hidup bersih dan sehat.

Pengguna aplikasi juga bisa deteksi dini empat jenis kanker, yakni payudara, paru, usus besar, dan serviks. Mereka diminta menjawab sekitar 20 pertanyaan seputar kondisi tubuh dan kebiasaan sehari-hari. Pertanyaan akan mengarah pada faktor risiko, tanda, dan gejala. Hasil deteksi akan muncul setelah seluruh pertanyaan dijawab.

”Dengan aplikasi ini seluruh masyarakat bisa lebih paham tentang penyakit kanker. Kesadaran deteksi dini dapat menurunkan angka prevalensi yang cukup tinggi terutama di Jawa Tengah,” kata C Suhartini.

Menurut Ketua Yayasan Kanker Indonesia Aru W Sudoyo, aplikasi itu membuat deteksi dini kanker lebih mudah. Harapannya, aplikasi tersebut disempurnakan dengan menambah fitur kolom pertanyaan untuk pengguna aplikasi. ”Mereka bisa mengirim pertanyaan seputar kanker yang akan dijawab. Akses komunikasi perlu dipermudah agar keingintahuan masyarakat bisa terjawab,” kata Aru.

Ketua Cancer Information and Support Center (CISC) Semarang Cahyaning Puji Astuti menambahkan, aplikasi itu membantu pengidap kanker yang ragu konsultasi ke dokter atau malu bergabung dengan komunitas. Banyak pasien memilih pengobatan alternatif atau herbal sehingga baru datang ke dokter saat kondisinya parah.

Aru menjelaskan, beberapa jenis kanker harus diwaspadai. Kanker paling sering menyerang perempuan adalah kanker payudara, serviks, dan usus besar. Adapun kanker yang kerap menyerang pria adalah paru, usus, dan prostat. Angka kanker bisa ditekan bukan dengan obat atau alat medis canggih, melainkan dengan menerapkan pola hidup sehat dan deteksi dini.

Angka kejadian kanker di Indonesia hanya bisa ditekan lewat kesadaran warga untuk hidup sehat dan deteksi dini. Hasil terapi kanker yang terdeteksi lebih dini lebih baik ketimbang kanker stadium lanjut.

Pada peringatan Hari Kanker Dunia yang jatuh setiap tanggal 4 Februari, ditekankan pentingnya pencegahan, dukungan bagi pasien kanker, menghilangkan stigma, dan akses pengobatan merata. Dukungan dan motivasi dibutuhkan pasien kanker. Diagnosis kanker bukan berarti vonis mati bagi penderita kanker, termasuk Dian. (ADH/KRN/AIN)

Sumber: kOmpas, 5 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: