Home / Berita / Kesadaran Warga Menghadapi Gempa Masih Rendah

Kesadaran Warga Menghadapi Gempa Masih Rendah

Kepanikan yang terjadi saat gempa berkekuatan M 6,1 melanda Jakarta dan sekitarnya pada Selasa (23/1) menunjukkan rendahnya pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana geologi ini. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap gempa, dibutuhkan pendidikan dan latihan yang konsisten, selain memperkuat struktur bangunan.

Selain di Jakarta, kesiapsiagaan menghadapi risiko gempa juga wajib disosialisasikan di kota-kota besar lain yang padat penduduk di Pulau Jawa, seperti Surabaya, Semarang, Cirebon, dan Bandung. Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Nasional tahun 2017, kota-kota ini telah diidentifikasi dilalui sesar aktif.

”Gempa (Selasa) kemarin memicu kepanikan karena masyarakat belum tahu bagaimana menghadapinya, terutama mereka yang berada di gedung-gedung tinggi,” kata Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan, di Jakarta, Rabu (24/1).

Dalam kondisi panik, potensi kecelakaan akibat respons masyarakat yang berlebihan menghadapi gempa akan semakin besar. Di Depok, misalnya, seorang perempuan pingsan akibat berdesak-desakan keluar gedung saat gempa. Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, seorang siswi SMK terluka akibat meloncat dari lantai dua gedung sekolah (Kompas, 24/1).

Menganggap aman
Rendahnya kesadaran risiko terhadap gempa di Jakarta, menurut Lilik, disebabkan sebagian besar masyarakat menganggap Ibu Kota aman gempa. Apalagi, gempa tergolong jarang terjadi.

KOMPAS/RATIH P SUDARSONO–Salah satu rumah di Desa Kuta, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, ambruk akibat gempa pada Selasa (23/1). Rumah yang ambruk di desa ini rata-rata dindingnya terbuat dari batako.

Padahal, beberapa kajian terbaru menunjukkan bahwa Jakarta juga rentan terdampak guncangan gempa. Ahli gempa bumi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, mengatakan, Sesar Baribis yang bermula di sekitar Lembang diduga menerus hingga selatan Jakarta.

Dari catatan sejarah, gempa besar juga melanda Jakarta, seperti disebutkan dalam katalog gempa bumi Arthur Wichmann (1918). Wichmann menyebut gempa amat kuat dirasakan di Jakarta pada 5 Januari 1699 sekitar pukul 01.30 saat hujan lebat. Selain merobohkan banyak bangunan, gempa itu juga menyebabkan longsor besar di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Gempa kuat juga tercatat terjadi di Jakarta pada 1780, diduga bersumber dari Sesar Baribis.

Menurut Lilik, gempa pada Selasa lalu juga menunjukkan Jakarta berisiko gempa kiriman dari sumber di Selat Sunda atau Selatan Jawa. Padahal, risiko gempa di kota-kota besar seperti Jakarta lebih tinggi karena banyak gedung bertingkat.

”Masalahnya, mitigasi gempa untuk gedung tinggi tergantung kesadaran pengelolanya. Sejak 2013, baru enam gedung di Jakarta yang pernah melakukan simulasi penanganan gempa dengan inisiasi BNPB,” kata Lilik.

Di kolong meja
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, perlu latihan evakuasi menghadapi gempa bagi masyarakat Jabodetabek dan kota besar yang memiliki gedung bertingkat.

Pelatihan tersebut, menurut profesor riset bidang sosiologi dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Henny Warsilah, termasuk edukasi mengenai tempat berlindung, pengelolaan panik, pelaporan kerusakan bangunan, pemeliharaan tangga darurat, dan aliran listrik yang dimatikan.

Sutopo mengatakan, BNPB telah menyebarluaskan selebaran tentang tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah gempa.

Bagi pengguna gedung bertingkat, tindakan yang harus dilakukan saat terjadi gempa adalah tetap tenang, menghindar dari kaca dan barang yang mudah jatuh dengan berlindung di kolong meja atau mendekat ke konstruksi yang kuat, seperti pilar atau tiang beton. Ketika gempa, jangan menggunakan lift.

”Setelah kondisi tenang, segera keluar bangunan melalui tangga darurat dengan teratur. Kemudian berkumpul di tempat evakuasi sementara hingga kondisi aman,” kata Sutopo.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta Benny Agus Chandra mengatakan, pihaknya sudah menyusun standar prosedur kegempaan bagi pengelola gedung.

Belajar dari gempa di Yogyakarta, Mei 2006, yang memakan ribuan korban jiwa, sejak 2012 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta berupaya meningkatkan kesadaran warga terhadap potensi gempa. ”Hal utama yang kami tanamkan kepada warga adalah gempa tidak membunuh, tetapi bangunanlah yang menyebabkan korban luka dan meninggal,” kata Kepala BPBD DI Yogyakarta Biwara Yuswantana.

Menyadari Bengkulu merupakan kawasan rawan gempa, BPBD Provinsi Bengkulu terus melakukan mitigasi bencana. ”Kami juga sudah menerima bantuan alat pendeteksi gempa,” kata Kepala BPBD Provinsi Bengkulu Sumarno.(AIK/YUN/bay/dim/ram/INK/HLN)

Sumber: Kompas, 25 Januari 2018
—————
Zona Tektonik Selatan Jawa Semakin Aktif

Gempa berkekuatan M 6,1 yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada Selasa (23/1) pukul 13.34 berpusat di Samudra Hindia sebelah barat daya Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Gempa di selatan Jawa ini menandai aktifnya zona tektonik di kawasan ini, sekaligus menjadi peringatan dampaknya bisa mencapai Jakarta.

Pusat gempa di bawah laut, di kedalaman 61 kilometer, pada jarak 67 km arah barat daya Sukabumi. Berdasarkan kedalaman sumber dan dampaknya, kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Daryono, gempa ini diduga terjadi di area intraslab atau dalam Lempeng Eurasia yang tertekan oleh pergerakan Lempeng Indo-Australia.

”Ciri gempa intraslab menciptakan dampak guncangan cukup kuat. Gempa di zona ini seperti yang terjadi di Tasikmalaya pada 15 Desember 2017,” katanya.

Sekalipun kekuatannya tergolong kecil, gempa ini dirasakan cukup kuat di sejumlah kota, seperti Jakarta, Tangerang Selatan, dan Bogor. Gempa juga dirasakan hingga Bandung, Lampung, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aktivitas meningkat
Ahli geodesi kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengatakan, aktivitas kegempaan di zona tektonik selatan Jawa akhir-akhir ini meningkat. Ini terutama terdeteksi setelah gempa M 7,8 yang memicu tsunami di Pangandaran pada tahun 2006. Gempa berkekuatan M 7,3 kemudian terjadi di selatan Tasikmalaya pada 2009 dan M 6,9 juga di selatan Tasikmalaya, dan terjadi lagi di Tasikmalaya pada pertengahan Desember 2017 dengan kekuatan M 6,9.

”Kami belum tahu kenapa ada peningkatan aktivitas di zona ini. Namun, dugaan kami ini bukan melepas energi sehingga mengurangi risiko gempa besar di Zona Megathrust selatan Selat Sunda-Selatan Jawa,” kata Irwan.

Ahli gempa bumi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaya, juga mengkhawatirkan semakin aktifnya zona tektonik di selatan Jawa. ”Meskipun lokasi sumber gempanya berbeda-beda, kalau dari aspek mitigasi bencana, yang harus paling diperhitungkan yang Megathrust selatan Jawa,” katanya.

Peta Gempa Bumi Nasional 2017 mencantumkan potensi gempa berkekuatan M 8,7 bisa terjadi di selatan Jabar. Namun, menurut kajian peneliti gempa ITB, jika segmen gempa selatan Jawa runtuh bersamaan, kekuatannya bisa mencapai M 9,2 atau setara gempa Aceh 2004.

Danny mengatakan, sekalipun data tentang potensi gempa besar di selatan Jawa semakin banyak ditemukan, belum bisa diprediksi kapan dan di mana gempa akan terjadi. Apalagi, sebagian besar zona kegempaan di Indonesia belum terpetakan dengan baik.

Meski demikian, kata Danny, gempa kali ini harus menjadi peringatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bahaya gempa, termasuk Jakarta. ”Jakarta yang relatif jauh dari zona selatan Jawa ternyata juga terguncang kuat. Ini salah satunya dipicu oleh kondisi tanahnya yang lunak dengan batuan dasar yang sangat dalam sehingga memperkuat dampak guncangan gempa,” katanya.

Belum siap
Kepanikan akibat gempa kemarin menunjukkan bahwa warga belum siap menghadapi gempa. Begitu gempa mengguncang, warga yang berada di gedung bertingkat berhamburan keluar gedung. Di kawasan Sudirman Central District Business, Jakarta, misalnya, karyawan langsung berhamburan turun dari gedung dan berkumpul di beberapa ruas jalan.

Profesor riset bidang sosiologi dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Henny Warsilah, mengatakan, warga Jakarta nyaris tidak pernah diedukasi terkait mitigasi gempa.

Di Depok, seorang perempuan pingsan dan seorang ibu hamil mengalami kontraksi sehingga harus dilarikan ke rumah sakit karena panik dan berdesak-desakan dengan warga lain saat keluar gedung. Guncangan gempa yang keras juga menyebabkan seorang siswa SMK Negeri 1 Tanggeung, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, panik dan meloncat dari lantai dua gedung sekolah sehingga terluka.

Tidak ada korban jiwa akibat gempa kemarin. Namun, ratusan rumah dan sejumlah bangunan rusak. Kerusakan paling banyak terdapat di Kabupaten Lebak, yaitu sebanyak 842 rumah yang tersebar di 16 kecamatan.

”Gempa menimbulkan kerusakan terbesar di Kecamatan Malingping, Kabupaten Pandeglang. Sebanyak 330 rumah rusak ringan,” kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lebak Madlias.

Banyaknya kerusakan bangunan tersebut, menurut Guru Besar Teknik Sipil ITB Masyhur Irsyam, menandakan masih lemahnya kualitas bangunan yang ada. Tak hanya bangunan rakyat yang tergolong non-engineering, kerusakan pada bangunan publik, seperti sekolah, menunjukkan buruknya penerapan standar bangunan tahan gempa.

Masyhur mengatakan, gempa ini menjadi peringatan agar masyarakat dan pemerintah memperkuat daya tahan bangunan sehingga tahan gempa. (AIK/UTI/RTS/INK/PIN/BAY/VIO/COK)

Sumber: Kompas, 24 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: