Kematian Tidak Surutkan Rencana Penelitian

- Editor

Rabu, 6 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badak sumatera yang diperangkap di belantara Kutai Barat, Kalimantan Timur, hanya bertahan hidup tiga pekan. Selasa (5/4) pukul 02.50, badak itu mati. Hingga hari ini, penyebab kematiannya diduga kuat akibat infeksi berat pada kaki kiri belakang.

Saat masuk lubang perangkap 12 Maret 2016, kaki badak bengkak dan luka terbuka dengan kedalaman 1 sentimeter, hampir mencapai tulang. Tim dokter hewan gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Yayasan Badak Indonesia (Yabi), Institut Pertanian Bogor (IPB), Taman Safari Indonesia (TSI), dan WWF Indonesia berupaya mengobati luka dengan antibiotik, anti bengkak, dan vitamin.

”Awalnya kami sudah gembira karena kondisi badak baik. Tiba-tiba kondisi drop dan tak tertolong meski dokter-dokter sudah berjuang,” kata Widodo Ramono, Direktur Eksekutif Yabi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat awal tertangkap, tim dokter telah memeriksa kondisi darah dan feses. Hasilnya baik dan tak terdapat penyakit cacingan.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Tachrir Fathoni, yang dihubungi sedang di Labuan Bajo, NTT, memastikan akan melanjutkan pencarian dan penyelamatan badak sumatera di belantara Kalimantan. ”KLHK akan terus melanjutkan upaya perlindungan badak sumatera yang ada di Kutai Barat, Kalimantan Timur,” ujarnya.

Widodo mengingatkan agar pencarian diiringi persiapan matang. Contohnya, menyiapkan boma atau kandang sementara. Kandang suaka (lokasi translokasi) sebaiknya telah disiapkan.

Menurut rencana, pekan depan, badak ini akan ditranslokasi ke Hutan Lindung Kelian Lestari, bekas areal tambang emas Kelian Ekuatorial Mining. Di bekas tambang dan hutan lindung seluas 6.000 hektar itu akan dibangun suaka badak 200 hektar untuk pemantauan dan pemeliharaan.

7a7c92dd25454c6cabc834b0546ca62dBupati Kutai Barat Ismail Thomas prihatin atas kejadian ini. ”Ini pelajaran semua pihak dalam melanjutkan penanganan dan penyelamatan badak-badak di Kutai Barat,” ujarnya.

Kepentingan ilmiah
Pakar Ekologi Satwa Liar IPB Prof Hadi Alikodra mengatakan, kematian itu membuktikan badak sangat sensitif/peka gangguan dan perubahan lingkungan. Pemerhati orangutan dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Yaya Rayadin mengatakan, satwa liar mudah stres saat ditangkap dan dikandangkan.

”Tingkat stres badak lebih tinggi daripada orangutan. Itu bisa terbaca karena badak hanya bisa hidup di hutan yang masih bagus. Adapun orangutan masih bisa hidup di lingkungan sawit, tambang, dan areal hutan tanaman industri,” ujarnya.

Meski risiko sangat besar, Hadi Alikodra mengatakan, penyelamatan badak harus dilanjutkan. Itu karena habitat badak di Kutai Barat, yang diperkirakan berisi 8-20 badak, telah dikepung perkebunan dan pertambangan.

Kepastian penyebab kematian badak betina berusia 10 tahun (diralat KLHK yang sebelumnya menyebut umur 4-5 tahun) akan diketahui setelah pemeriksaan post mortem (otopsi). Badak itu akan diawetkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Temuan badak sumatera di Kalimantan itu penting, di antaranya untuk memperkuat informasi bahwa kedua pulau besar itu dulu pernah satu daratan. (ICH/PRA)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Kematian Tidak Surutkan Rencana Penelitian”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 39 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB