Home / Berita / Kematian Tidak Surutkan Rencana Penelitian

Kematian Tidak Surutkan Rencana Penelitian

Badak sumatera yang diperangkap di belantara Kutai Barat, Kalimantan Timur, hanya bertahan hidup tiga pekan. Selasa (5/4) pukul 02.50, badak itu mati. Hingga hari ini, penyebab kematiannya diduga kuat akibat infeksi berat pada kaki kiri belakang.

Saat masuk lubang perangkap 12 Maret 2016, kaki badak bengkak dan luka terbuka dengan kedalaman 1 sentimeter, hampir mencapai tulang. Tim dokter hewan gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Yayasan Badak Indonesia (Yabi), Institut Pertanian Bogor (IPB), Taman Safari Indonesia (TSI), dan WWF Indonesia berupaya mengobati luka dengan antibiotik, anti bengkak, dan vitamin.

”Awalnya kami sudah gembira karena kondisi badak baik. Tiba-tiba kondisi drop dan tak tertolong meski dokter-dokter sudah berjuang,” kata Widodo Ramono, Direktur Eksekutif Yabi.

Saat awal tertangkap, tim dokter telah memeriksa kondisi darah dan feses. Hasilnya baik dan tak terdapat penyakit cacingan.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Tachrir Fathoni, yang dihubungi sedang di Labuan Bajo, NTT, memastikan akan melanjutkan pencarian dan penyelamatan badak sumatera di belantara Kalimantan. ”KLHK akan terus melanjutkan upaya perlindungan badak sumatera yang ada di Kutai Barat, Kalimantan Timur,” ujarnya.

Widodo mengingatkan agar pencarian diiringi persiapan matang. Contohnya, menyiapkan boma atau kandang sementara. Kandang suaka (lokasi translokasi) sebaiknya telah disiapkan.

Menurut rencana, pekan depan, badak ini akan ditranslokasi ke Hutan Lindung Kelian Lestari, bekas areal tambang emas Kelian Ekuatorial Mining. Di bekas tambang dan hutan lindung seluas 6.000 hektar itu akan dibangun suaka badak 200 hektar untuk pemantauan dan pemeliharaan.

7a7c92dd25454c6cabc834b0546ca62dBupati Kutai Barat Ismail Thomas prihatin atas kejadian ini. ”Ini pelajaran semua pihak dalam melanjutkan penanganan dan penyelamatan badak-badak di Kutai Barat,” ujarnya.

Kepentingan ilmiah
Pakar Ekologi Satwa Liar IPB Prof Hadi Alikodra mengatakan, kematian itu membuktikan badak sangat sensitif/peka gangguan dan perubahan lingkungan. Pemerhati orangutan dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Yaya Rayadin mengatakan, satwa liar mudah stres saat ditangkap dan dikandangkan.

”Tingkat stres badak lebih tinggi daripada orangutan. Itu bisa terbaca karena badak hanya bisa hidup di hutan yang masih bagus. Adapun orangutan masih bisa hidup di lingkungan sawit, tambang, dan areal hutan tanaman industri,” ujarnya.

Meski risiko sangat besar, Hadi Alikodra mengatakan, penyelamatan badak harus dilanjutkan. Itu karena habitat badak di Kutai Barat, yang diperkirakan berisi 8-20 badak, telah dikepung perkebunan dan pertambangan.

Kepastian penyebab kematian badak betina berusia 10 tahun (diralat KLHK yang sebelumnya menyebut umur 4-5 tahun) akan diketahui setelah pemeriksaan post mortem (otopsi). Badak itu akan diawetkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Temuan badak sumatera di Kalimantan itu penting, di antaranya untuk memperkuat informasi bahwa kedua pulau besar itu dulu pernah satu daratan. (ICH/PRA)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Kematian Tidak Surutkan Rencana Penelitian”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: