Home / Berita / Kekeringan Turun, Antisipasi Tetap Jalan

Kekeringan Turun, Antisipasi Tetap Jalan

Awal musim kemarau tahun ini, Provinsi Riau menerima curah hujan lebih banyak dibandingkan dengan awal musim kemarau 2014. Dampaknya, jumlah titik panas dari pantauan satelit yang mengindikasikan adanya kebakaran lahan turun. Namun, langkah antisipasi harus tetap dilakukan, termasuk lewat teknologi hujan buatan pada area bergambut. Ini lantaran musim kemarau kedua tahun ini, sekitar Juni-Oktober nanti, berpotensi lebih kering.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) F Heru Widodo saat dihubungi di Jakarta, Senin (30/3), mengatakan, curah hujan yang lebih tinggi pada awal musim kemarau ini harus dimanfaatkan maksimal untuk menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) berupa hujan buatan. Dengan besarnya potensi pembentukan awan, tim hujan buatan pun bisa lebih sering menaburkan garam (NaCl) di udara guna menyemai awan menjadi hujan.

Perbandingan curah hujan di Riau antara Februari 2014 dan Februari 2015 menunjukkan, sifat curah hujan pada dua periode tersebut sesungguhnya sama-sama di bawah normal, tetapi pada Februari 2015 tidak serendah pada Februari tahun lalu. Pada sebagian besar wilayah Riau, sifat hujan Februari 2015 memiliki persentase 30-50 persen terhadap normal, sedangkan sifat hujan pada Februari tahun lalu hanya 0-30 persen terhadap normal. Selain itu, jumlah curah hujan pada Februari tahun ini mencapai rentang 50-100 milimeter sebulan, lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah curah hujan pada Februari 2014 yang hanya mencapai rentang 0-20 mm.

Heru mengingatkan, adanya kontribusi cuaca yang menguntungkan tidak berarti TMC tidak dibutuhkan. “Tujuan utama TMC sejak 2 Maret lalu di Riau bukan pemadaman, melainkan antisipasi kebakaran,” katanya.

d2e4f9a9a38740cc9719b2d4346d96bbNaCl) ke dalam tabung khusus untuk ditaburkan ke awan di atas Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangkaraya, beberapa waktu lalu. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dilakukan untuk menyemai awan menjadi hujan. Airnya ditujukan untuk mengisi embung-embung (lumbung air) guna mengantisipasi dampak kemarau.Kompas/Megandika Wicaksono

Antisipasi tersebut diperlukan lantaran musim kemarau kedua tahun 2015 di Riau kemungkinan besar lebih kering daripada kemarau saat ini. Simpanan air yang memadai harus ada sebelum pasokan awan berkurang pada musim kemarau kedua nanti. Sebagai informasi, karena berada di area khatulistiwa, wilayah Riau dalam setahun mengalami dua kali puncak musim hujan, sekitar Maret-April dan September-Oktober, yakni saat matahari seolah-olah berada di garis khatulistiwa. Dengan demikian, musim kemarau pun terbagi dua karena ada jeda musim hujan.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menambahkan, titik panas (hotspot) di Riau pada periode Februari-April atau musim kemarau pertama rata-rata kurang dari 200 titik per bulan. Kemudian, jumlahnya meningkat pada periode Juni-Oktober menjadi sekitar 600 titik per bulan. “Pada Juni-Oktober inilah bencana asap rawan terjadi,” kata Sutopo.

Sekat kanal
Pada Juni-Oktober yang berpotensi semakin kering akan mempersulit upaya pemadaman jika terjadi kebakaran di lahan bergambut. Apalagi, lahan bergambut berkarakteristik sangat mudah terbakar. Sutopo mengatakan, salah satu langkah untuk mengantisipasi adalah pembuatan sekat kanal.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengoordinasikan program pembangunan sekat kanal yang direncanakan berjumlah 1.000 unit untuk Riau. Harga per unit diproyeksikan Rp 15 juta untuk yang sederhana dan Rp 300 juta untuk yang besar dan permanen. “Total kebutuhan dana masih dihitung karena kami sedang mengidentifikasi daerah mana saja yang membutuhkan,” ujar Sutopo.

Heru menuturkan, sekat kanal berfungsi untuk menahan air guna membasahi lahan gambut sehingga aktivitas pembakaran akan sulit dilakukan, terutama saat musim kering. Agar ada air yang ditahan, pasokan air dari lumbung air (embung) untuk mengisi kanal-kanal harus terjaga. Di sinilah peran tim TMC, yakni menyemai awan menjadi hujan agar dapat mengisi embung-embung.

Nantinya, air di kanal-kanal dan embung-embung tersebut bisa dimanfaatkan oleh Tim Manggala Agni untuk pesawat bom air dalam pemadaman kebakaran lahan. Di sisi lain, ekonomi masyarakat lokal diharapkan meningkat karena banyak ikan di kanal-kanal tersebut yang bisa dipanen warga sekitar. Heru berharap pembangunan sekat kanal selesai pada 15 April agar masih ada sisa waktu untuk mengisikan air ke kanal-kanal tersebut sebelum potensi awan menurun.

Hingga hari Minggu (29/3), yakni hari ke-28 kegiatan pemanfaatan TMC di Riau, tim sudah menebarkan 43,6 ton bahan semai pada awan-awan di sejumlah area bergambut, antara lain Bengkalis, Pelalawan, Siak, dan Dumai. Menurut rencana, kegiatan berlangsung hingga dua bulan.

J Galuh Bimantara
Sumber: Kompas Siang | 30 Maret 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: