Home / Berita / Kefasihan Digital Perempuan Indonesia Memprihatinkan

Kefasihan Digital Perempuan Indonesia Memprihatinkan

Kefasihan digital kaum perempuan Indonesia masih memprihatinkan. Dari 26 negara, tingkat kefasihan kaum perempuan Indonesia berada di peringkat ke-25, setingkat di atas India. Padahal, kefasihan dibutuhkan guna membantu penyetaraan jender karena memberikan konektivitas dan aksesibilitas bagi perempuan.

Menurut Fuad Sahid Lalean, Managing Director-Resources, Technology Consulting Accenture Consulting, di Jakarta, Kamis (22/2), kefasihan digital adalah cara seseorang untuk memanfaatkan teknologi untuk menjadi produktif. Misalnya, bagaimana perempuan dapat menggunakan teknologi untuk terlibat dalam e-dagang.

Tingkat kefasihan digital atau digital fluency perempuan Indonesia itu diperoleh dari penelitian yang dilakukan Accenture tahun 2017. Peringkat kefasihan digital perempuan tertinggi diduduki oleh Amerika Serikat, Belanda, Australia, Nordik, dan Inggris. Empat negara yang menduduki peringkat terbawah adalah Meksiko, Filipinia, Indonesia, dan India.

ELSA EMIRIA LEBA UNTUK KOMPAS–Suasana ”Bincang CEO: Mendukung Kepemimpinan Perempuan di Industri STEM”, di Jakarta, Selasa (22/2).

Penyebab rendahnya kefasihan digital kaum perempuan dinilai akibat mereka masih menggunakan teknologi dan produk digital sebagai konsumen. Perempuan, misalnya, hanya menggunakan media sosial untuk berinteraksi. Selain itu, kurikulum pendidikan Indonesia dinyatakan belum beradaptasi dalam era digital saat ini.

”Padahal, kefasihan digital dapat membuat seseorang lebih berpengetahuan dan terkoneksi. Hal itu juga meningkatkan outcome mereka dalam pendidikan, pekerjaan, dan pemajuan,” tutur Fuad dalam pembukaan ”Bincang CEO: Mendukung Kepemimpinan Perempuan di Industri STEM”.

Ia melanjutkan, pemajuan perempuan yang dimaksud dalam konteks ini adalah peningkatan peran perempuan sebagai seorang pemimpin. Ketika perempuan menjadi pemimpin, ia akan proaktif dan berambisi dalam kariernya serta mampu membuat keputusan berdasarkan informasi yang dapat ia peroleh.

Dengan demikian, ujarnya, penyetaraan jender dapat terwujud dalam berbagai bidang, seperti pekerjaan, karena perempuan akan semakin berperan. Hal tersebut dapat terjadi karena kefasihan digital, strategi karier, dan penggunaan teknologi dapat mengurangi kesenjangan upah hingga 35 persen menurut penelitian Accenture tersebut.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan MacKinsey Global Institute tahun 2015, usaha bersama di kalangan sektor pemerintah, swasta, dan publik untuk mendorong kesetaraan jender berpotensi memberikan dampak ekonomi pada tahun 2025. Dampak tersebut berupa tambahan PDB senilai 12 triliun dollar AS secara global.

Minister-Counselor for Economic, Investment, and Infrastructure Steven Barraclough menambahkan, semua negara menghadapi tantangan yang dihadapi dalam mendorong penyetaraan jender. Namun, ia percaya akan muncul hal yang luar biasa jika tantangan tersebut berhasil diatasi.

”Di Australia, misalnya, dulu sulit untuk mengakses internet di daerah terpencil sehingga kami menciptakan Wi-Fi. Lalu, di Jakarta sering macet sehingga muncul ojek daring,” ucapnya. Terobosan baru selalu muncul ketika ada tantangan.

Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sujatmiko menyatakan, pemerintah terus berupaya untuk mendorong penyetaraan jender. Saat ini, jumlah penduduk perempuan hampir sama dengan laki-laki, yaitu 49,8 persen.

”Perempuan dan anak-anak harus diberdayakan agar pada tahun 2020-2040 kita dapat menikmati bonus demografi, bukan bencana demografi,” ujarnya.

Bonus demografi adalah kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih banyak daripada nonproduktif.

Bidang STEM rendah
Tingkat partisipasi perempuan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) baru mencapai 30 persen. President Indonesia Business Coalition for Women Empowerment Shinta Widjaja Kamdani menyebutkan, industri STEM masih jarang diminati kaum perempuan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2017 menunjukkan, terdapat 131,55 juta orang tersedia dalam pasar tenaga kerja. Tingkat partisipasi perempuan sekitar 55 persen, lebih rendah dibandingkan laki-laki 83,1 persen.

Adapun dalam sektor formal, hanya ada 37,4 persen pekerja perempuan, dengan jumlah pekerja laki-laki 62,6 persen. Dalam bidang STEM, hanya terdapat 30 persen pekerja perempuan.

”Bahkan, perempuan lulusan bidang STEM jarang bekerja sesuai latar belakang akademik mereka. Kebanyakan mengambil pekerjaan di bidang manajemen atau administrasi,” ujar Shinta.

Padahal, lanjutnya, wanita ketika terlibat dalam STEM dapat membantu bangsa berkompetisi dalam era revolusi digital 4.0. Berdasarkan catatan Kompas, revolusi industri 4.0 adalah transformasi digital yang mengombinasikan kecerdasan buatan, data raksasa, komputasi awan, serba internet, robotik, dan cetak tiga dimensi.

CEO dan President Director PT Ilthabi Rekatama serta Vice Chairman for Telematics, Research, and Technology Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Ilham Habibie menyatakan, semakin banyak perempuan yang berkontribusi di bidang STEM akan memberikan variasi ide dalam menciptakan inovasi. ”Diversifikasi latar belakang, umur, dan jender penting bagi inovasi,” lanjutnya.

Sujatmiko menyatakan, pemerintah memang belum fokus memikirkan jumlah partisipasi perempuan secara khusus dalam bidang STEM. Namun, pemerintah secara umum berusaha meningkatkan keterampilan masyarakat di bidang itu dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas sekolah vokasi.

Butuh panutan
Fuad menyatakan, perempuan membutuhkan tokoh perempuan yang dapat menjadi contoh sehingga mereka dapat terinsiprasi menjadi lebih baik. ”Anak perempuan usia 11 tahun banyak yang tertarik di bidang STEM, tetapi mulai menurun pada usia 15 tahun,” katanya.

Menurut dia, hal tersebut terjadi karena citra dunia STEM yang hanya untuk laki-laki. Tokoh panutan perempuan dibutuhkan sehingga citra tersebut dapat berubah.

Shinta W Dhanuwardoyo, Founder dan CEO Bubu, sebuah perusahaan teknologi, menyatakan, dirinya mengidolakan Betti Setiastuti Alisjahbana. Betti adalah pendiri QB International dan CEO IBM Indonesia pada 1999-2008. Cara tersebut membantu dia terinspirasi bahwa perempuan dapat terjun ke bidang STEM. (DD13)

Sumber: Kompas, 23 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: