Home / Berita / Kebijakan Terkait Antisipasi Perubahan Iklim tak Bisa Ditunda

Kebijakan Terkait Antisipasi Perubahan Iklim tak Bisa Ditunda

Angka catatan konsentrasi gas rumah kaca tahunan kembali menciptakan rekor baru. Artinya, angka itu selalu naik. Kebijakan pengurangan emisi gas rumah kaca tak bisa ditunda lagi.

Konsentrasi gas-gas rumah kaca yang dominan memengaruhi perubahan iklim terus merangkak naik. Setiap tahun tercipta rekor baru.

Catatan tahun ini menyamai kondisi sekitar 3-5 juta tahun lalu ketika suhu bumi secara global lebih tinggi sekitar 2 derajat Celsius dibandingkan suhu di era Pra-Industri.

“Terakhir kali konsentrasi gas CO2 serupa saat ini adalah saat suhu Bumi 2-3 derajat Celsius lebih tinggi, dan permukaan laut global 10-20 meter lebih tinggi dari pada sekarang,” ujar Sekjen Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization-WMO), Petteri Taalas seperti dikutip The Guardian, Kamis (22/11/2018).

Dari laporan yang dimuat dalam WMO Greenhouse Gas Bulletin tersebut dilaporkan, pencatatan in situ (setempat) gas-gas CO2 (karbondioksida), CH4 (metana), dan N2O (nitro oksida) mengalami kenaikan dan mencatat rekor baru.

Konsentrasi gas CO2 yaitu 405,5±0,1 bagian per sejuta (ppm) atau lebih tinggi 46% dari pada konsentrasi di era Pra-Industri, sekitar tahun 1750. Konsentrasi gas CH4 yaitu 1859±2 bagian per satu miliar (ppb), naik 157% dari era Pra-Industri. Sementara, konsentrasi gas N2O tercatat 329,9±0,1 ppb naik 22% dari Pra-Industri

Peneliti Ernst-Georg Beck yang meneliti konsentrasi gas CO2 menulis, rata-rata konsentrasi CO2 pada abad ke-19 adalah 321 ppm. dan konsentrasi gas CO2 pada abad ke-20 mencapai 339 ppm. Kenaikan rata-rata konsentrasi gas CO2 dalam satu abad(!) hanya 5,9%!

Laporan WMO tersebut adalah hasil pengamatan yang dilakukan di bawah Program Pengamatan Atmosfer (GAW). Pencatatan dilakukan menggunakan alat pencatat di permukaan bumi, di pesawat terbang, dan di kapal, di tambah pencatatan di stasiun pencatat GRK pembanding. Di Indonesia ada tiga lokasi yaitu di Kototabang, Sumatera Barat; Desa Bariri di Lore Lindu, Sulawesi Tengah; dan di Sorong, Papua Barat.

Lebih dingin
Rata-rata kenaikan saat ini setara dengan kenaikan rata-rata dalam satu dekade terakhir. Tingkat kenaikan lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2015-2016. Apakah kemudian hal itu merupakan keberhasilan dari upaya penurunan emisi GRK yang dilakukan manusia?

Menurut anggota panel ahli tentang perubahan iklim (IPCC) Edvin Aldrian yang juga ilmuwan meteorologi dan klimatologi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), hal itu terjadi karena pengaruh El Nino. Ttahun 2015, terjadi El Nino yang menyebabkan kebakaran hutan besar di Indonesia.

“Saat terjadi El Nino suhu laut lebih dingin. Hal itu mengubah daya larut air terhadap gas-gas. Dengan suhu lebih dingin maka pelepasan emisi dari gas-gas termasuk gas rumah kaca mengecil, sehingga emisi berkurang,” jelasnya.

Gas-gas rumah kaca adalah gas-gas yang memberikan efek rumah kaca: memerangkap radiasi panas sehingga tetap ada di permukaan bumi, tidak terpantul ke atmosfer.

Gas CO2 adalah mencakup 66% GRK yang dilepaskan manusia dari aktivitasnya. Gas ini bertanggung jawab atas 82% kenaikan radiasi panas di bumi.

Gas karbondioksida terutama dari pembakaran bahan bakar fosil, dan proses produksi semen, deforestasi, dan perubahan fungsi lahan. Pihak WMO mencatat, dari kegiatan manusia pada 2007-2016, sekitar 44% emisi CO2 terakumulasi di atmosfer, 22% di laut, dan 28% di daratan. sekitar 5% tidak terdeteksi.

Gas CH4 berkontribusi sekitar 17% dari radiasi panas di permukaan bumi. Sekitar 40 persen CH4 adalah hasil emisi alamiah. Sekitar 60 persen adalah hasil kegiatan manusia seperti pertanian, peternakan, dan eksploitasi bahan bakar fosil.

Sedang NO2 berkontribusi 6% pada radiasi panas. Sumber emisi NO2, 60 persen dari proses alamiah, dan 40 persen dari aktivitas manusia.

Beratus tahun
Saat ini fakta-fakta tentang gas-gas GRK sebenarnya amat mengkhawatirkan.

“Gas CO2 menetap di atmosfer selama ratusan tahun dan di lautan bahkan lebih lama lagi,”” ujar Wakil Sekjen WMO Elena Manaenkova.

“Saat ini tidak ada keajaiban untuk bisa menghilangkan semua dampak CO2 dari atmosfer,” tambahnya. “Setiap derajat kenaikan pemanasan global amat berarti. Demikian juga setiap bagian per sejuta (CO2),” tegasnya.

Masalahnya, dengan sifat-sifat GRK yang mampu menetap ratusan tahun, maka upaya mengurangi emisi GRK bisa dikatakan tidak akan banyak menolong.

Kesepakatan Paris tahun 2015 menegaskan setiap negara anggota Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) berkomitmen berkontribusi pada penurunan emisi. Negara-negara Eropa telah menjadualkan penghapusan penggunaan bahan bakar fosil. Menurut Edvin, setiap kali Indonesia berhasil mengambil alih perusahaan eksploitasi minyak, “Harus dipikirkan dampak ekonominya terkait dengan persoalan perubahan iklim,” katanya.

Pesan penting dari buletin GRK WMO kali ini adalah: kita tak bisa membuang waktu lagi. Mempertaruhkan kebijakaPesan penting dari buletin GRK WMO kali ini adalah: kita tak bisa membuang waktu lagi. Mempertaruhkan kebijakan yang “sadar perubahan iklim” dengan tetap mempertahankan kepentingan politik tertentu tak bisa lagi menjadi pilihan.–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 24 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...