Kebijakan Pemerintah Belum Berbasis Riset

- Editor

Kamis, 7 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembuatan kebijakan pemerintah dengan mengacu pada hasil riset belum sepenuhnya terwujud. Hal ini disebabkan masih lemahnya budaya riset dan menulis di kalangan akademisi.

Hal itu mencuat dalam Seminar Nasional Rethinking Research: Policies and Practices, Rabu (6/4), di Auditorium LIPI, Jakarta. Seminar menampilkan Deputi II Kantor Staf Presiden RI Yanuar Nugroho serta Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir.

Menurut Yanuar, jika semua kebijakan berdasarkan hasil riset, masalah reklamasi Benoa dan lainnya mungkin tidak ada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, tenaga ahli Knowledge Sector Initiative (KSI), Fred Carden, memaparkan, masih lemahnya penggunaan hasil riset dalam pengambilan kebijakan sejalan dengan lemahnya posisi akademik Indonesia secara global. Hal ini tecermin dari jumlah publikasi internasional peneliti Indonesia yang masih minim.

Sementara policy journal diagnostic study yang dikerjakan Inaya Rakhmani, Fajri Siregar, dan Melia Halim menunjukkan, tidak ada jurnal nasional yang memengaruhi pembuatan kebijakan. Hal ini disampaikan 61 akademisi Indonesia yang disurvei. Selain itu, dari wawancara dengan empat pejabat Bappenas juga terungkap bahwa jurnal akademik atau jurnal terkait kebijakan tak selalu diperlukan untuk mengambil kebijakan.

Para pejabat lebih memilih mendapatkan data sekunder dari kementerian atau data resmi dari institusi pemerintah lainnya. Tapi, mungkin saja mereka melihat jurnal jika mencari rekomendasi kebijakan.

Beberapa masalah
Dalam paparan mereka, Inaya Rakhmani yang juga Ketua Puskakom UI dan Teguh Kurniawan menunjukkan masalah yang dihadapi peneliti Indonesia sehingga jumlah penelitian dan publikasi ilmiah di jurnal yang terakreditasi internasional rendah. Kenyataannya, 90 persen penelitian tentang Indonesia tak dilakukan oleh peneliti Indonesia.

Setelah ada kebijakan perguruan tinggi negeri berbadan hukum, menurut Inaya, kampus lebih leluasa mengelola dan menerima dana non-APBN. Namun, hal ini malah mendorong kampus hanya mengembangkan jumlah mahasiswa, tetapi tak dibarengi dengan pertumbuhan jumlah pengajar. Kalaupun ada perekrutan pengajar, kebanyakan dilakukan secara tertutup atau semitertutup sehingga posisi dosen hanya diisi almamater saja.

Akademisi cenderung disibukkan urusan mengajar dan membimbing mahasiswa. Sangat sulit pengajar kembali berkuliah di tempat lain.

Teguh Kurniawan yang mengkaji hambatan riset di empat perguruan tinggi di Indonesia bersama Sri Hartati Suradijono, Ari Probandari, Didin Syafrudin, dan Hana Panggabean menyampaikan, hal-hal yang menyulitkan adalah berbelitnyaPersyaratan Riset dan terbatasnya waktu pelaporan. (INA/C02)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 April 2016, di halaman 12 dengan judul “Kebijakan Pemerintah Belum Berbasis Riset”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB