Home / Berita / Kebangkitan Kembali Dirgantara Nusantara

Kebangkitan Kembali Dirgantara Nusantara

Indonesia memiliki wilayah darat dan laut amat luas, begitu pula ruang udaranya. Menjaga dan memanfaatkan dirgantara Nusantara tak kalah penting daripada membangun kemaritiman. Di angkasa juga ada kepentingan ekonomi, pertahanan keamanan, dan kedaulatan negara.

Dirgantara juga harus jadi fokus pembangunan transportasi ke depan selain kemaritiman. Demikian penekanan Presiden Joko Widodo saat berpidato pada Forum Inovasi Nasional 2015 di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Maret lalu.

Tahun ini jadi tonggak baru pembangunan kembali kemandirian Indonesia di dunia kedirgantaraan, mencakup penerbangan dan antariksa. Pencapaian itu ditandai selesainya pembuatan pesawat terbang N-219 dan satelit Lapan A2/Orari.

Satelit Lapan A2 berhasil diorbitkan pada 28 September 2015 dari Bandar Antariksa Satish Dhawan di Sriharikota, India. Peluncuran satelit mikro berbobot 76 kilogram buatan para peneliti dan perekayasa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu ditumpangkan pada roket India bersama satelit penelitian astronomi milik Organisasi Riset Antariksa India (ISRO), Astrosat.

Roket milik ISRO bernama Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV)-C30 itu telah 30 kali menjalani misi pengorbitan. Roket itu berhasil diluncurkan ke orbit khatulistiwa pada ketinggian 650 kilometer setelah tertunda sejak 2012.

Bagi Indonesia, keberhasilan misi itu merupakan yang kedua setelah Lapan A1/TUBsat diluncurkan dari tempat sama pada 2007. Satelit Lapan A1 yang kini mengorbit di lintasan polar ialah hasil kerja sama rancang bangun dengan perekayasa dari Universitas Teknik Berlin.

5d635983b1874c6dbcc9b47074f28240KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Pesawat N-219 buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional bersama PT Dirgantara Indonesia (DI) diluncurkan dalam penampilan perdana pesawat N-219 di hanggar PT DI di Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/12). Pesawat itu kembali menandai pencapaian anak-anak bangsa dalam industri penerbangan nasional.

Sementara Lapan A2 adalah satelit pertama murni buatan anak bangsa dan satelit pertama Lapan yang mengorbit di sepanjang khatulistiwa (ekuatorial). Keberadaan Lapan A2 memberi manfaat lebih besar bagi Nusantara yang wilayahnya memanjang, seperdelapan keliling Bumi atau sekitar 5.000 kilometer.

Satelit khatulistiwa bisa melintasi wilayah Indonesia 14 kali sehari, sedangkan satelit polar empat kali sehari. Dengan dimuati instrumen seperti kamera dan video beresolusi 4 meter, satelit itu memberi informasi spasial kondisi permukaan laut dan darat Nusantara. Dilengkapi automatic identification system (AIS), satelit Lapan A2 bisa memantau pergerakan kapal untuk keselamatan transportasi, pertambangan, dan hankam.

Sistem radio yang terpasang berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi pengguna radio amatir atau anggota Orari saat bencana. Dilengkapi automatic packet reporting system (APRS), Lapan A2 bisa melakukan penjejakan obyek bergerak, termasuk terkait banjir dan tsunami.

Kini, AIS dan APRS bisa diaktifkan lewat sistem kendali di stasiun Bumi di Rancabungur, Bogor. Tahun depan, Lapan menargetkan peluncuran Lapan A3 yang masih dalam penyelesaian. Lapan A3 akan menjalani misi pemantauan lahan pertanian, terutama padi. Pengembangannya bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor.

Dalam seperempat abad mendatang, Indonesia merintis kemandirian peluncuran satelit, yakni membuat roket pengorbit dan membangun bandar antariksa dengan alternatif lokasi di Biak dan Morotai. Pembangunan bandar itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.

Bidang penerbangan
Kemandirian Indonesia di bidang penerbangan kembali dibuktikan dengan selesainya pembuatan N-219. Setelah menjalani proses desain dan rancang bangun, prototipe pesawat komuter bermesin dua tipe baling-baling itu keluar hanggar PT Dirgantara Indonesia (DI) pada 10 Desember 2015. Itu menandai selesainya konstruksi dan sistem kendali utama pesawat terbang berkapasitas 19 penumpang itu.

Untuk sampai tahap terbang perdana 2017, prototipe itu mesti dilengkapi sistem pendukung lain, seperti avionik, elektronik, dan interior. Selanjutnya, untuk sertifikasi dua tahun ke depan, pembuatan prototipe kedua dikerjakan.

Pesawat N-219 sekelas di bawah N-250-berpenumpang 50 orang-yang pernah dirancang Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan dibuat PT DI pada 1995. Setelah N-250, industri tersebut mengarah ke pembuatan pesawat jet berpenumpang 130 orang: N-2130.

Dua dasawarsa setelah itu, industri penerbangan terseok-seok dihantam krisis ekonomi 1998 sehingga mengandaskan sertifikasi N-250 dan membuat N-2130 sebatas desain di atas kertas. Pembekuan itu menyebabkan dua prototipe N-2150 jadi monumen dan memaksa PT DI memutuskan hubungan kerja 75 persen atau sekitar 12.000 karyawan.

Pembangunan kedirgantaraan nasional yang antiklimaks pada masa lalu itu menggugah kesadaran untuk tak lagi melihat keluar mengikuti persaingan di pasar internasional yang sengit. Kini, pembangunan berorientasi pemenuhan kebutuhan transportasi udara di dalam negeri.

Pesawat N-219 jadi jawaban atas tantangan kini: pesawat kecil untuk penerbangan perintis yang bisa mendarat di landasan pendek, berumput, bertanah lunak, dan bermedan perbukitan. Itu kebutuhan utama masyarakat negeri kepulauan ini.

Sejauh ini, ketersediaan sarana transportasi udara antarpulau amat minim dan sudah usang. Padahal, warga negeri dengan belasan ribu pulau itu kian butuh sarana angkut udara.

Pembangunan N-219 mendayagunakan sumber daya manusia (SDM), peralatan, mesin, dan dana terbatas. Adapun desain dan pengujian prototipe N-219 dilakukan Lapan yang memiliki divisi penerbangan.

Agar didukung industri komponen, PT DI memprakarsai pembentukan Asosiasi Produsen Komponen Pesawat (Inacom), September lalu. Asosiasi yang diketuai Andi Alisjahbana itu beranggotakan 26 industri komponen, elektronik, manufaktur, perkakas, dan jasa keteknikan.

Pada saat program N-219 berjalan, PT DI merancang N-245 yang diharapkan memenuhi kebutuhan transportasi udara antarkota dan antarprovinsi. Presiden Joko Widodo mendorong PT DI membuat pesawat 50 penumpang.

“Indonesia harus punya sarana transportasi untuk meningkatkan konektivitas serta mengatasi ketimpangan harga komoditas dan ekonomi kawasan timur dan barat. Selain pesawat perintis N-219, perlu pesawat tipe lebih besar,” kata Presiden.

Untuk pengembangan rancang bangun pesawat N-245, PT DI akan memanfaatkan kemampuan yang ada. Pembuatannya berbasis SDM dan fasilitas produksi CN-235, memadukan teknologi desain rancang bangun CN-235, CN-295, dan N-250. Setelah tahap desain sampai produksi, N-245 diharapkan terbang perdana tahun 2018. Itu dipaparkan Direktur Utama PT DI Budi Santoso.

Jika N-245 terwujud hingga sertifikasi, itulah “reinkarnasi” N-250. Itu bukan tak mungkin. Syaratnya, konsistensi dan komitmen pemerintah mendorong produk anak bangsa.
—————————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Desember 2015, di halaman 14 dengan judul “Kebangkitan Kembali Dirgantara Nusantara”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: