Karya Ilmiah; Giatkan Penelitian sampai Tahap Aplikasi

- Editor

Rabu, 4 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penelitian ilmiah mahasiswa di jenjang magister dan doktoral sejatinya tak hanya berhenti di meja ujian, tetapi juga harus dikembangkan hingga bisa diterapkan di masyarakat. Selama ini, penelitian ilmiah di perguruan tinggi cenderung hanya sekadar memenuhi persyaratan kelulusan mahasiswa di jenjang tertentu, tanpa memikirkan jangka panjang.

“Umumnya penelitian di perguruan tinggi hanya untuk mengejar kelulusan. Kalau sudah dapat kredit poin, nilai kelulusan bagus, itu dianggap sudah cukup,” kata Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristek dan Dikti Jumain Appe, Selasa (3/5), di Makassar, Sulawesi Selatan.

Jumain hadir di Makassar sebagai penguji eksternal dalam promosi doktor mahasiswa pascasarjana Universitas Hasanuddin, Nasruddin Aziz. Nasruddin dalam penelitiannya memanfaatkan gas buang mesin penggilingan padi untuk pengeringan hasil pertanian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jumain mengatakan, hasil penelitian di perguruan tinggi perlu pengembangan agar benar-benar bisa diterapkan. Hasil penelitian harus terus-menerus diuji dan dioptimalkan agar dapat digunakan dalam skala ekonomi.

Salah satu peran Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi adalah menjembatani hasil penelitian perguruan tinggi atau lembaga penelitian untuk masuk ke sektor industri. Di sini perguruan tinggi berperan menghasilkan penelitian yang bisa segera diaplikasikan menjadi penting.

Kesejahteraan rakyat
Nasruddin yang lulus dengan yudisium cum laude menyatakan hasil penelitiannya yang memanfaatkan gas buang sebagai sumber energi alternatif dapat segera diterapkan. “Hasil penelitian ini diharapkan berperan dalam konservasi energi, meningkatkan efisiensi pasca panen, mengurangi waktu tunda antara masa panen dan pengeringan, serta pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Nasruddin merancang penukar kalor berbasis gas buang mesin diesel yang terintegrasi dengan unit penggilingan padi untuk pengeringan hasil pertanian. Gas buang yang digunakan berasal dari mesin diesel berkapasitas 120 HP sebagai pembangkit daya untuk unit penggilingan padi. Dari hasil perhitungan, energi gas buang mampu mengeringkan 2 ton gabah kering panen pada temperatur udara pengering 53 derajat celsius selama delapan jam. (NAR/LAM)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Mei 2016, di halaman 13 dengan judul “Giatkan Penelitian sampai Tahap Aplikasi”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB