Karang Buktikan Laut Atlantik Minim Polusi Nitrogen

- Editor

Jumat, 5 Oktober 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Riset terhadap karang otak berumur 130 tahun yang ditemukan di Samudera Atlantik bagian utara, dekat pantai timur Amerika Serikat, memberi kabar menggembirakan. Menurut hasil riset yang dipimpin Universitas Princeton, hasil pengukuran nitrogen pada rangka koral menunjukkan polusi nitrogen kurang signifikan dari perkiraan sebelumnya. Studi dipublikasikan secara daring dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.

“ Hal yang mengejutkan, kami tak melihat peningkatan polusi nitrogen pada Samudera Atlantik bagian utara dalam beberapa dekade lalu,” kata Xingchen (Tony) Wang, yang melakukan pekerjaan sebagai bagian dari doktornya dalam geosains di Princeton dan sekarang menjadi mahasiswa pascadoktoral di California Institute of Technology.

PENELITI–Kandungan kalsium karbonat pada kerangka karang otak atau karang batu (Diploria labyrinthiformis) dikaji akan kandungan nitrogennya. Ini untuk mengetahui tingkat polusi nitrogen di laut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Riset sebelumnya di Universitas Princeton menemukan pencemaran nitrogen tinggi di bagian lautan terbuka lainnya di Laut Cina Selatan. Itu seiring dengan peningkatan dramatis dalam produksi batubara dan penggunaan pupuk di China selama dua dekade terakhir.

Dalam studi baru, para peneliti melihat sampel kerangka karang yang dikumpulkan di laut terbuka sekitar 620 mil timur benua Amerika Utara di dekat pulau Bermuda. Wilayah itu dianggap amat dipengaruhi nitrogen udara yang dilepaskan dari sumber daratan AS seperti kendaraan dan pembangkit listrik.

“Meskipun tim tidak menemukan bukti bahwa nitrogen buatan manusia sedang meningkat, para peneliti mencatat variasi nitrogen yang berhubungan dengan tingkat yang diharapkan dari fenomena iklim alami yang disebut Osilasi Atlantik Utara,” kata Wang dalam Sciencedaily, 1 Oktober 2018.

Hasilnya berbeda dengan model komputer yang dipublikasikan sebelumnya yang memprediksi peningkatan signifikan polusi nitrogen buatan manusia di Atlantik Utara. Hasil riset ini menunjukkan langkah pengendalian pencemaran AS berhasil membatasi jumlah emisi nitrogen yang dihasilkan manusia yang masuk ke laut.

“Temuan kami memiliki implikasi penting bagi masa depan dampak nitrogen manusia di Samudra Atlantik bagian utara,” kata Wang.

Kerusakan ekosistem
Jika emisi berlanjut pada tingkat ini, hasil riset mereka menunjukkan, Atlantik bagian Utara yang terbuka akan terpengaruh polusi nitrogen dalam beberapa dekade ke depan. Nitrogen, saat dalam bentuk yang tersedia secara biologis dan dipasok berlebihan, bisa memicu pertumbuhan berlebih tumbuhan dan alga.

Parahnya, hal itu bisa mengakibatkan kerusakan ekosistem yang parah karena laut jadi zona mati yang terbentuk ketika mikroorganisme mengonsumsi semua oksigen di dalam air, tidak menyisakan apapun untuk ikan. Produksi pupuk dan pembakaran bahan bakar fosil pun sangat meningkatkan produksi nitrogen yang tersedia secara biologis, sejak awal abad ke-20.

Ketika dipancarkan ke atmosfer, nitrogen tetap dapat mempengaruhi lautan jauh dari daratan. Namun, dampaknya terhadap laut sulit dipelajari karena tantangan yang terlibat dalam pengamatan jangka panjang di laut terbuka.

Karang batu atau “Scleractinian” adalah organisme berumur panjang yang membangun kerangka kalsium karbonat saat tumbuh. Karang-karang menyerap nitrogen dari air di sekitarnya dan menyimpan sebagian kecil dalam kerangka mereka. Kerangka memberikan catatan alami emisi nitrogen.

Untuk membedakan jenis nitrogen buatan manusia (antropogenik) atau nitrogen dari jenis yang terjadi secara alami, para peneliti memanfaatkan karakter atau sifat nitrogen masing-masing. Nitrogen versi yang lebih berat dikenal sebagai 15N, mengandung satu neutron lebih banyak daripada 14N yang lebih ringan. Nitrogen antropogenik memiliki rasio lebih rendah dari 15N ke 14N daripada nitrogen di lautan.

“Sudah lama impian saya untuk memakai nitrogen dalam kerangka karang untuk merekonstruksi perubahan lingkungan masa lalu; berkat Tony, kita sekarang melakukannya,” kata Daniel Sigman, Profesor Ilmu Geologi dan Geofisika Dusenbury di Princeton.

Wang mengembangkan metode yang sensitif dan tepat untuk mengukur rasio 15N-ke-14N memakai spektrometer massa, yang seperti skala kamar mandi untuk menimbang molekul. Untuk mengumpulkan sampel karang di Samudera Atlantik Utara, Wang dan Anne Cohen, ilmuwan asosiasi dalam geologi dan geofisika di Woods Hole Oceanographic Institution, memimpin tim pada tahun 2014 ke Bermuda.

Para peneliti mengambil inti sepanjang 23 inci dari karang otak hidup (Diploria labyrinthiformis) sekitar 10 kaki di bawah permukaan di Hog Reef, sekitar enam mil dari pulau utama. Para peneliti menegaskan, limpasan nitrogen Bermuda bukan faktor di lokasi dengan mengukur kadar nitrogen di plankton yang mengambang di dekatnya.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 5 Oktober 2018

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 24 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB