Kandidat Jenis Baru Tambora

- Editor

Jumat, 15 Mei 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menunggu Pengakuan dari Komunitas Internasional
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang mengikuti Tim Ekspedisi NKRI di Gunung Tambora menemukan 6 spesies fauna baru dan 1 spesies flora baru. Tim juga menginventarisasi berbagai jenis flora dan fauna endemis serta makhluk mikrobiologi yang mengungkap sebagian kekayaan alam setempat.

Temuan itu dipaparkan Koordinator Peneliti LIPI pada Ekspedisi NKRI Cahyo Rahmadi beserta timnya serta Letkol (Inf) Yuri Elias Mamahi yang mewakili TNI AD, Selasa (12/5) di Jakarta. LIPI menurunkan 14 peneliti bidang serangga, reptil/amfibi, flora, mikrobiologi, ekologi, dan dua peneliti Kebun Raya Purwodadi.

1d9b27c2d8074420a7ed119c34c009ffTemuan spesies baru itu didapat dari 2 spesies cicak hutan (Cyrtodactylus sp), 2 spesies ngengat (Ernolatia sp dan Xyleutes sp), 2 spesies arachnida (Sarax sp dan Stylocellus sp), dan 1 spesies tumbuhan (Monophyllaea). “Temuan ini akan memberikan kontribusi pada pengetahuan keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya Gunung Tambora,” kata Enny Sudarmonowati, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, dalam kesempatan terpisah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Cahyo mengatakan, penelitian lapangan 16-30 April 2015, yang bertepatan dengan peringatan 200 Tahun Letusan Besar Tambora, menghasilkan 230 spesies ngengat (kupu-kupu malam), 10 arachnida (laba-laba), 27 hymenoptera (tawon), 21 reptilia, 4 amfibi, 46 burung, dan 10 mamalia (termasuk musang dan kelelawar). Peneliti flora mengoleksi 393 spesimen tumbuhan dari 250 jenis tumbuhan yang terdiri dari 13 fungi (jamur), 9 bryophyte (lumut), 5 lichen, 56 pteridophyte (paku-pakuan), 168 jenis gymnospermae dan angiospermae, serta mengoleksi 68 nomor koleksi hidup untuk Kebun Raya Purwodadi.

Temuan-temuan itu melengkapi inventarisasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Barat. Kajian BKSDA untuk mengkaji kelayakan Gunung Tambora sebagai taman nasional yang ditetapkan pemerintah pada April 2015.

“Menurut kami, sangat layak Gunung Tambora, terutama dari jalur pendakian Kawinda To’i, jadi taman nasional. Kondisi hutan masih bagus. Tak seperti jalur pendakian lain, seperti Pancasila yang sebagian sudah hutan produksi dan Doro Peti yang sudah dilalui mobil jip,” kata Cahyo.

Asep Sadili, peneliti ekologi, menjelaskan, kondisi kekayaan flora dalam setengah hektar mencapai 22 spesies. Kondisi ini sangat baik dengan flora jenis Elaeocarpus batudulangi sebagai spesies endemik. Flora itu memiliki karakter mayoritas daunnya menguning dan gugur, ciri hutan daerah kering.

LIPI juga menemukan 6 jenis burung endemis dan 3 burung migran. Jenis burung endemis itu di antaranya cekakak tunggir putih (Caridonax fulgidus) dengan paruh oranye.

Cahyo yang mengkaji kalacemeti mengatakan, temuan arachnida (laba-laba) jenis stylocellus merupakan catatan penemuan pertama di Lesser Sunda. Ia menemukan serangga kecil itu pada ketinggian 600 meter di dedaunan dan kayu lapuk.

Kepastian jenis baru
Awal Riyanto, peneliti reptil dan amfibi, yakin dua cicak hutan di Tambora itu jenis baru. Bentuk jarinya seperti busur/melengkung. Dari ciri-ciri morfologi, dua spesies tersebut diketahui sangat berbeda dengan lima spesies cicak hutan yang tercatat menghuni Lesser Sunda.

Kepastian spesies baru itu, dalam ilmu taksonomi ditentukan ketika penelitian dimuat dalam jurnal ilmiah. Waktunya bisa 3 bulan hingga 2 tahun tergantung dari peneliti dan editor atau keputusan para ahli internasional.

Sementara itu, peneliti mikrobiologi Heddy Julistiono mengoleksi 41 isolat bakteri asam laktat dari tumbuhan Ficus rasemosa, Uvoria sp, Pittosporum moluccanum, Stephania japonica, Rubiaceae, dan Cambretum sp. Temuan tersebut masih akan diteliti lebih lanjut untuk mengetahui sifat probiotik yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan antimikroba, peningkatan ketahanan tubuh, antikanker, dan aktivitas sel saraf. (ICH)

———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Mei 2015, di halaman 14 dengan judul “Kandidat Jenis Baru Tambora”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 42 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB