Home / Berita / Kamera Lumix GH5;Paripurna dalam Satu Tekanan Rana

Kamera Lumix GH5;Paripurna dalam Satu Tekanan Rana

Kenangan 15 tahun lalu sungguh sebuah pembelajaran. Pundak kiri menyandang kamera video mini DV untuk merekam video dan pundak kanan menyandang kamera DSLR untuk membuat foto. Format hasilnya pun berbeda, satu dalam bentuk pita kaset mini DV, satu lagi dalam bentuk digital JPEG.

Sejak dikembangkannya kamera DSLR yang mampu merekam gambar bergerak atau video pada tahun 2007, seorang fotografer saat itu sudah mulai diuji kemampuannya oleh pasar. Tidak hanya bekerja dalam satu format, membuat atau merekam foto semata, tetapi juga sudah memasuki ruang dunia videografi.

Kini, di tengah era serba daring (online) dan berkembangnya platform multimedia, kemampuan seorang fotografer dituntut mampu menggunakan teknologi medium yang menghasilkan dua format, beku (foto) dan bergerak (video).

Konsep foto jurnalistik pun mulai berevolusi cara penyajiannya dan bermutasi menjadi visual journalism serta istilah the decisive moment (momen puncak) yang sangat populer di kalangan fotografer, mulai berpadu dengan visual moment.

Arus perkembangan teknologi yang begitu deras membuat fotografer mau tidak mau wajib menambah pengetahuan dalam meningkatkan kecakapannya. Permintaan pasar akan konten video kini semakin pesat, terutama untuk kebutuhan media daring. Pasar dan teknologi yang terjadi saat ini seakan menjadi parameter yang menakutkan apabila tidak pandai-pandai menyikapi zaman.

Perkembangan kamera analog menuju kamera digital single lens (DSL), dan dari foto ke video, kerap menimbulkan pro kontra serta dilema yang memengaruhi perubahan ideologi dan sikap profesionalisme dalam pekerjaan.

Dari bergerak ke beku
Dunia multimedia, kamera menjadi sarana yang mampu menghasilkan dua format sekaligus, foto dan video. Untuk melengkapi kedua kebutuhan foto ataupun video, produsen kamera di dunia terus-menerus melakukan riset dan berlomba memberikan kemudahan sesuai dengan fungsi dan manfaatnya serta tren teknologi yang berlaku.

Tahun 2017, satu produsen kamera digital single lens mirrorless (DSLM) menanamkan fitur kemudahan pada sensor dan aplikasi untuk bekerja dalam dua format, video sekaligus foto yang mampu menyimpan data mentah (RAW data) yang besar.

KOMPAS/EDDY HASBY–Fitur 6K Photo Lumix GH5 memberikan kemudahan untuk merekam foto dengan obyek bergerak cepat.

Kamera Lumix GH5, kamera mirrorless yang dikembangkan Panasonic, memberikan kemudahan bagi fotografer beranjak memasuki dunia multimedia. Seakan impian 15 tahun lalu itu kini menjadi kenyataan.

Impian memiliki perangkat yang mempermudah seorang fotografer bekerja menghasilkan dua format sekaligus, foto dan video dalam satu kartu, memori, terjawab sudah.

Fasilitas 6K Photo ditunjang dengan venus engine image processor dan digital live MOS sensor resolusi 20.3 megapiksel yang ditanam di kamera Lumix GH5 ini membuat kamera ini mampu bekerja dengan kecepatan tinggi untuk melakukan rekaman foto dan video berkualitas dengan ukuran data yang besar.

Istilah 6K Photo ini adalah kemampuan GH5 dalam merekam gambar dengan kecepatan tinggi secara terus-menerus tanpa batas, mengumpulkan 30 bingkai gambar per detik dengan kapasitas data per foto sebesar 18 megapiksel format JPEG. Kemampuan 6K menghasilkan gambar dengan perbandingan 4:3 resolusi gambar 4.992 x 3.774 piksel dan 3:2 resolusi 5.184 x 3.456 piksel.

Sementara fasilitas 4K Photo yang ada di kamera ini mampu merekam gambar dengan kecepatan 60 bingkai gambar per detik diekstrak menjadi JPEG sebesar 8 megapiksel.

Mengambil gambar
Kesibukan merekam video terkadang membuat fotografer lupa merekam foto. Ini sering terjadi pada saat di lapangan akibat sempitnya waktu atau momen terjadi seketika. Padahal, konsep multimedia, foto (still) amat penting, terutama untuk kebutuhan media cetak.

Kamera ini menjawab kebutuhan elemen multimedia apabila fotografer lupa merekam foto. Fotografer dapat melakukan pulling still image dari klip atau footagevideo pada menu yang ada di kamera secara langsung. Format data video diekstrak jadi data foto berformat JPEG.

Untuk kebutuhan menahan guncangan dari kebiasaan fotografer menggenggam kamera DSLR dan DSLM dengan kedua telapak tangan (handheld) pada saat merekam video, maka ditanam sistem stabilisasi gambar atau image stabilizer pada kamera ini.

Teknologi gyro sensor pada sistem Dual IS 2 yang terdapat di dalam kamera ini membantu fotografer, terutama pewarta foto yang tidak membawa tripod, untuk kebutuhan merekam video.

Performa efek slow motion 180 fps (frame per second/bingkai per detik) di kamera ini cukup mengagumkan. Pilihan variable frame rate (VFR) terbentang dari 2 fps hingga 180 fps, dapat bekerja pada frekuensi sistem PAL dan NTSC, berformat rekaman MOV dan MP4, dan Full HD (1920 x 1080). Hasil rekaman gerakan lambat ini dapat dilihat di layar monitor kamera secara langsung.

Untuk melakukan teknis pengambilan transisi fokus atau mengubah fokus pada video ataupun foto, mode auto-focus flexible (AFF) mampu melakukan perpindahan fokus secara cepat akurat, dari satu titik obyek ke obyek lainnya.

Dengan fasilitas layar sentuh di kamera, fokus dapat dikontrol dengan telunjuk jari dengan mudah.

Tak ada jarak
Mengamati fitur dan fasilitas di kamera ini, konsep dari beku (foto) ke bergerak (video) atau sebaliknya tak ada lagi jarak. Besarnya data foto dan video hasil rekaman hampir tak jauh beda, yang memisahkan hanya jeda waktu per detik.

Soal perkembangan kebutuhan besarnya ukuran data foto dalam 30 fps dan 60 fps dari klip video tinggal menunggu waktu saja. Dan format 6K atau mungkin lompatan 8K akan hadir di tubuh DSLM atau media rekam visual lainnya di masa mendatang.

Namun, perlu diingat, teknologi hanya sarana dalam membantu menyelesaikan pekerjaan sesuai kebutuhan dan fungsinya. Konsep, ide, dan kreativitas serta yang paling dasar adalah story telling (bercerita) merupakan tatanan utama dalam berkarya di bidang visual. Kini kerja bagi fotografer dan videografer hanya ada satu tekanan rana.(EDDY HASBY)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 April 2017, di halaman 26 dengan judul “Paripurna dalam Satu Tekanan Rana”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: