Home / Berita / Qysea Fifish, Memotret Bawah Air Tanpa Menyelam

Qysea Fifish, Memotret Bawah Air Tanpa Menyelam

Evolusi pesawat tanpa awak atau drone yang dilengkapi kamera dan dipergunakan untuk pemotretan, kini semakin tak terbendung dalam perkembangan teknologinya. Teknologi drone yang berkembang pesat saat ini, memberikan banyak kemudahan untuk pemotretan, bahkan bagi pilot pemula sekalipun.

KOMPAS/EDDY HASBY–Robot bawah air atau ROV (Remotely Operated Underwater Vehicle) QYSEA Fifish P3 dilengkapi dengan kamera berkemampuan rekam video beresolusi 4K dan resolusi foto 20 megapiksel.

Tidak hanya dari aspek teknologi IT dan aplikasinya saja, drone kini semakin mungil dan ringan gampang dibawa kemana-mana. Selain marak pesawat tanpa (Unmanned Arieal Vehicle/UAV) untuk pemotretan dari udara, berkembang pula drone untuk fotografi dan videografi bawah air, meski tak sederas perkembagan teknologi UAV.

Memotret dan merekam video keindahan bawa laut memang menjadi impian para fotografer dan videografer, yang sayangnya harus membutuhkan kemampuan khusus penyelaman. Profesi sebagai fotografer dan videografer bawah air di Indonesia memang tak sebanyak rekan seprofesinya di darat. Spesialisisi inilah yang membuat foto-foto dan video bawah air bernilai tinggi.

Profesi sebagai fotografer dan videografer bawah air di Indonesia memang tak sebanyak rekan seprofesinya di darat.

Namun, teknologi kini semakin mempermudah fotografer dan videografer untuk mewujudkan impiannya, sehingga bisa memotret di bawah air tanpa harus menjadi penyelam handal. Perkembangan teknologi yang kian terus melaju membuat peran seorang penyelam bisa digantikan dengan adanya robot bawah air ROV (Remotely Operated Underwater Vehicle) atau underwater drone ini.

Robot bawah air ROV, sudah banyak digunakan untuk penelitian selain untuk melakukan pencarian dan penyelamatan bila ada bencana yang berhubungan dengan kedalaman atau di dasar air, juga untuk pemotretan.

KOMPAS/EDDY HASBY–Robot bawah air Fifish P3 produk QYSEA memiliki kemampuan menyelam sedalam 100 meter, dilengkapi dengan kamera video beresolusi 4K dan sebesar 20 megapiksel untuk foto.

Rancang bangun ROV ini juga sudah banyak dilakukan di kalangan akademisi dan peneliti, seperti robot bawah air buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang digunakan dalam pencarian korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di dasar Danau Toba, pertengahan 2018 lalu.

Berbeda dengan drone yang menggunakan gelombang frekuensi udara terbuka, ROV kini masih menggunakan kabel yang berfungsi sebagai pengirim arus energi listrik, pengontrol kendali motor, data sinyal video foto, dan tentunya sebagai penambat ROV itu sendiri.

Seperti halnya dengan drone, ROV juga membutuhkan keahlian pilot atau operator pengontrol agar pesawat dapat bekerja dengan baik di dalam air. Dengan menggunakan kendali kontrol dengan layar sebagai monitor di darat, robot bawa air ini mampu menjelajah di kedalaman laut untuk melakukan pemotretan dan merekam video.

Belum populer
Drone bawah air memang belum sepopuler drone yang berseliweran di langit Nusantara, namun jenis robot bawah air ini sudah banyak diproduksi dan digunakan untuk pemotretan. Sudah banyak ROV yang ada dipasaran saat ini, seperti Titan Geneinno, Power Vision PowerRay, Galdius, Deep Trekker DTG2, Aquabotix Endura 100 SLE mini, dan QYSea Fifish P3.

KOMPAS/EDDY HASBY–Pilot remote robot bawah air atau ROV (Remotely Operated Underwater Vehicle) tengah mengendalikan ROV produk QYSEA Fifish P3, di kolam renang Apartemen Permata Senayan, Jakarta, Selasa (29/1/2019) . ROV ini dilengkapi dengan kamera berkemampuan rekam video beresolusi 4K dan resolusi foto 20 megapiksel.

Namun, hanya segelintir ROV yang masuk ke tanah air, salah satunya adalah produk QYSea seri Fifish P3 rakitan China yang mulai menampakkan wujudnya di Indonesia. “Fifish P3 ini digunakan untuk kebutuhan SAR, survei, pemetaan dan dapat juga digunakan para pengemar fotografi dan videografi yang ingin merekam keindahan bawah laut,“ ujar Hendy Widianto, Direktur ADM Teknologi yang bergerak pada bisnis penyediaan perangkat penyiaran televisi dan film di Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Indonesia merupakan negara maritim dan lautnya begitu luas dan sangat memungkinkan untuk penggunaan robot bawa air ini,” tambah Hendy saat menemani Kompas menjajal ROV ini.

Fifish P3 memiliki kemampuan merekam video dengan resolusi 4K (3840×2160) 25 frame per second (fps)/30fps, Full HD (1920×2160) 25fps/30fps, dan HD (120X720) 25fps/30fps. Resolusi 4K ini sangat mumpuni untuk kebutuhan videografer membuat film. Sedangkan rekam foto resolusi 20 megapiksel (6144×3456) dan 8 megapiksel (3840×2160) dengan rasio 16:9.

Untuk kebutuhan video dan fotografi robotik bawah air, Fifish P3 ditanam sensor 1 inci (13.3mm x 8.8mm) Sony CMOS dengan 20,48 MP effective pixel. Lensa 6,55 mm autofokus berada di bagian depan tubuh berdiafragma f 2,8 dengan kecepatan bukaan rana 1/100-1/5000 dan kepekaan cahaya mulai dari ISO 100-12.800.

KOMPAS/EDDY HASBY–Hasil foto dari kamera robot bawa air QYSEA Fifish P3 dengan ukuran gambar 20 megapiksel (6144 x 3456) perbandingan sisi gambar 16:9.

Ruang penyimpan data menggunakan kartu memori SDHC/SDXC sebesar 32 GB tertanam di dalam tubuh ROV, data foto maupun video hasil rekaman ditransfer menggunakan komputer melalui aplikasi yang terkoneksi dengan Wi-Fi.

Selain kelengkapan kamera, ROV ini dilengkapi 2 lampu kedap air dengan kekuatan 4.000 lumen berada di sisi kiri kanan bagian depan drone. Lampu ini dilengkapi 8 tingkat kecerahan cahaya yang dibutuhkan dengan temperatur warna 5.500 kelvin.

Tubuh Fifish P3 berukuran panjang 49 sentimeter (cm), lebar 13 cm dengan ketebalan 17 cm. Memiliki 3 motor baling-baling, satu berada di tengah badan drone dan dua pada bagian belakang sebagai pendorong. Untuk menjaga kestabilan di dalam air, Fifish P3 dilengkap 9 axis sensor untuk menjaga kestabilan gambar.

Kemampuan menjelajah di bawah air hingga kedalaman 100 meter, dengan kecepatan 5 kilometer perjam dan tenaga baterai mampu bertahan selama 4,5 jam dan setelahnya daya baterai diisi selama 3,5 jam. Robot bawah air ini dikontrol dengan remote mirip dengan remote drone yang terkoneksi dengan Wi-Fi, gawai sebagai monitor dan aplikasi pengontrol.

KOMPAS/EDDY HASBY–Robot bawah air atau ROV (Remotely Operated Underwater Vehicle) QYSEA Fifish P3 dilengkapi dengan kamera berkemampuan rekam video beresolusi 4K dan resolusi foto 20 megapiksel.

Terdapat dua stik pada panel remote control yang berfungsi untuk menggerakkan robot, tombol rekam video dan foto, pengatur kecepatan, pengatur tingkat kecerahan lampu, dan konektor kabel penghubung remote. Juga kabel sepanjang 100 meter sebagai koneksi penghubung remote dengan ROV dalam gulungan yang dapat diulur dan digulung kembali.

Pengaturan terkait dengan teknis fotografi terdapat pada aplikasi gawai yang dapat diunduh di situs resmi Qysea. Gawai dan remote ini terhubung melalui Wi-Fi.

Pada layar monitor di aplikasi Fifish P3 ini terdapat indikator baterai, kompas, indikator kedalaman air, kapasitas kartu memori, resolusi video, posisi sudut derajat ROV di dalam air, dan menu pengaturan untuk rekaman video dan foto. Masih ada sedikit jeda antara tampilan gambar di layar dengan gerakan ROV di air.

Melihat spesifikasi Fifish P3 ini, mulai dari kemampuan kamera, lampu, kabel koneksi tampaknya diperuntukkan penunjang kerja profesional. Harganya pun masih relatif mahal, mencapai Rp 60 juta per unitnya.

Mungkin ada yang sudah mulai bosan terbang dengan drone bisa mencoba ROV ini untuk menikmati pemandangan bawah air yang menawan.–EDDY HASBY

Editor PRASETYO EKO

Sumber: Kompas, 15 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: