Home / Berita / Kambing Pertama Kali Dijinakkan Tahun 8000 Sebelum Masehi di Asia Barat Daya

Kambing Pertama Kali Dijinakkan Tahun 8000 Sebelum Masehi di Asia Barat Daya

Sebuah tim ilmuwan internasional mengungkapkan hasil penelitian terbaru bahwa kambing peliharaan saat ini merupakan hasil domestikasi atau penjinakan di wilayah Bulan Sabit Subur di Asia Barat Daya tahun 8000 sebelum Masehi. Para peternak kala itu melakukan seleksi di antara kambing liar dan kambing ternak.

AP PHOTO–Kambing melintas di dekat perbatasan Turki-Suriah di Kota Tel Abyad, Turki, 5 Oktober 2012. Kambing pertama kali dijinakkan tahun 8000 sebelum Masehi di wilayah Asia Barat Daya, termasuk Turki dan Suriah.

Penelitian berjudul ”Genom Kambing Kuno Mengungkapkan Domestikasi Mosaik di Wilayah Bulan Sabit Subur” itu dimuat di jurnal Science yang juga disiarkan sciencedaily.com. Penelitian antara lain dilakukan Kevin Daly dan Daniel G Bradley dari Kolese Trinitas Irlandia.

Wilayah Bulan Sabit Subur dalam peta modern meliputi wilayah berbentuk bulan sabit di Asia Barat Daya, yaitu Irak, Suriah, Lebanon, Siprus, Jordania, Israel, Palestina, Mesir, serta pinggiran tenggara Turki, dan pinggiran barat Iran.

KOMPAS/RETNO BINTARTI–Tenda-tenda di bawah tebing di Wadi Rum, Jordania, ini merupakan tempat penginapan bagi mereka yang ingin merasakan suasana gurun pasir, 14 September 2015. Jordania adalah salah satu negara tempat awal domestikasi kambing.

Peneliti mengkaji data genom dari 83 kambing purba dari zaman Paleolitik hingga Abad Pertengahan di seluruh wilayah Timur Dekat. Hasil kajiannya, peneliti mendeteksi seleksi awal untuk kebutuhan pigmentasi, perawakan, reproduksi, kemampuan pemerahan susu, dan respons terhadap perubahan pola makan. Dari satu kambing yang didomestikasi dan menjadi sumber daging, susu, dan kulit, kambing sekarang jumlahnya hampir 1 miliar ekor di seluruh dunia.

Bukti paling awal untuk kambing domestik terjadi di wilayah Bulan Sabit Subur di Asia Barat Daya, tempat pertanian tanaman dan penggembalaan hewan dimulai. Sebelum menggiring, pemburu lokal menargetkan kambing liar bezoar dijinakkan. Praktik lokal ini akhirnya menjadi dasar pengelolaan kambing dan pemeliharaan ternak.

”Sama seperti manusia, nenek moyang kambing modern adalah jaring kusut dari untaian leluhur yang berbeda,” kata Daniel Bradley, Guru Besar Populasi Genetika.

ANTARA/NYOMAN BUDHIANA–Warga menggembalakan kambing di Desa Watumbaka, Sumba Timur, NTT, Kamis (22/6/2017). Meski hama belalang hingga saat ini telah mereda, Pemkab Sumba Timur masih bersiaga untuk mengantisipasi kembalinya serangan hama tersebut yang dikhawatirkan dapat menghabiskan tanaman pertanian dan pakan ternak di daerah setempat.

Dengan menggunakan sampel kuno, peneliti mampu menganalisis keragaman genetik populasi kambing yang berbeda pada masa lalu dan merekonstruksi sejarah domestikasi awal. Peternak menjadikan ternak menjadi ratusan jenis yang berbeda. Tampaknya, seperti peternak modern, petani kuno tertarik pada penampilan hewan.

”Kami menemukan bukti bahwa setidaknya sejauh 8.000 tahun yang lalu penggembala tertarik atau menghargai warna bulu binatang mereka,” kata Kevin Daly.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Warga menggiring kambing yang akan disembelih dalam tradisi Dandan Lepen di Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat (14/7/2017). Tradisi itu digelar setiap tahun sebagai simbol menjaga harmoni dengan alam sekitar serta untuk mengajak masyarakat merawat kebersihan Sungai Gethuk yang mengalir di desa itu.

Ada juga indikasi bahwa hewan purba ini telah dipilih untuk dijinakkan karena mengandung enzim hati yang memberikan toleransi yang lebih baik terhadap racun baru. Racun baru itu mungkin berasal dari jamur yang tumbuh pada pakan ternak.

Di Indonesia, kambing juga menjadi hewan ternak yang populer untuk diambil daging dan jerohannya, susunya, dan kulitnya. Kambing yang banyak dipelihara di Indonesia adalah jenis kambing peranakan etawah atau kambing kacang.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 6 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: