Jurnalisme Sepeda

- Editor

Selasa, 12 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam satu dekade terakhir, sepeda, yang mulai tergeser ke pinggir saat revolusi leasing sepeda motor mengalami pasang, kembali mendapatkan tempat. Bukan sebagai alat transportasi biasa, melainkan (ber)sepeda hadir menjadi gaya hidup di tengah gencarnya promosi hidup sehat. Momentumnya bisa dilacak saat jargon Bike to Work dikampanyekan komunitas pekerja kerah putih di kota megaurban seperti DKI Jakarta.

Koran-koran cetak lantas memberikan lembar halaman khusus untuk dunia sepeda dan segala pernik-kronika-kenangan komunitas atau individu yang menghidupkannya. Pikiran Rakyat (Minggu) setiap pekan menghadirkan cerita sepeda di seantero Bandung dan Jawa Barat. Jawa Pos (Minggu) menampilkan hal ihwal sepeda, mulai dari teknologi hingga cerita-cerita unik penjelajahan dengan sepeda di halaman “Cycling Sunday”.

Berbeda dengan dua koran itu, Kompas justru menyatukan sepeda sebagai moda transportasi jalur lambat sekaligus sebagai bagian dari peliputan jurnalistik yang sudah melekat dalam kultur mereka: ekspedisi bertema tanah dan air di Nusantara. Kompas telah menyelesaikan beberapa ekspedisi jurnalistik bertajuk “Jelajah Sepeda” di Nusantara secara ekstensif dan organik. Jelajah yang menarik untuk diingat adalah menyusuri pesisir selatan Pulau Jawa (2010), Bali-Komodo (2012), Manado-Makassar (2014), jelajah sepeda Gunung Tambora NTB (2015), jelajah Kalimantan (2015), dan jelajah sepeda di Papua (2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa yang dilakukan Kompas-juga dilakukan secara mandiri oleh M Ridwan Alimuddin dalam Ekspedisi Bumi Mandar (Radar Sulbar)-saya sebut jurnalisme sepeda. Jurnalisme sepeda adalah bentuk hibrid dua kultur: jurnalistik dan sepeda.

Secara bahasa, jurnalistik adalah jurnal, catatan harian. Nah, ikhtiar mencatat dan menghimpun informasi yang dilakukan terus-menerus serta dilandasi kesadaran dan tanggung jawab etik disebut jurnalisme. Dalam jurnalisme, ada tuntutan kecepatan yang bersifat kini dan di sini. Adapun sepeda merupakan moda transportasi dan bagian dari olahraga. Sekarang peran sepeda bergeser menjadi gaya hidup dalam masyarakat perkotaan. Sepeda menjadi re-kreasi.

Interupsi percepatan
Jurnalisme adalah pola pelaporan jurnal harian yang mengandalkan percepatan, sedangkan kultur sepeda bertumpu pada semangat pelambatan. Istilah percepatan dan pelambatan mulanya dikenal dalam fisika dengan aksentuasi yang berkebalikan. Percepatan dianggap positif dan maju (a=v/t), sementara pelambatan sebaliknya, dicemooh negatif dan mundur.

Dalam konteks jurnalisme sepeda, dua ketegangan itu dipadukan lagi dalam satu semangat baru. Karena itu, dalam jurnalisme sepeda, terdapat ciri-ciri dasar, yakni penjelajahan ruang, dikerjakan secara ekstensif dan intimatif, serta menghadirkan kultur perjalanan yang dilakukan dengan moda sepeda, baik komunal maupun individual. Jurnalisme sepeda, karena itu, bukan peliputan tentang sepeda, melainkan menggunakan prinsip-prinsip sosial sepeda sebagai metode pemberitaan jurnalistik.

Sama-sama penulisan yang dilakukan dalam sebuah perjalanan, tetapi tema yang diurai dalam jurnalisme sepeda bukan sekadar “halaman depan” sebuah kawasan sebagaimana bidikan kamera dan gawai turis umumnya. Obyek liputan dalam jurnalisme sepeda juga bukan melulu di seputar “halaman belakang” yang bikin risau.

Jurnalisme sepeda berada di antara tumbukan keterpesonaan pada sebuah kawasan di satu sisi dan sifat kritikal yang melekat pada jurnalistik di sisi lain.

Di dunia jurnalisme sekarang yang berbasis daring dan moda transportasi yang memberhalakan percepatan, jurnalisme sepeda datang sebagai interupsi. Percepatan dengan sikap tergesa-gesa boleh-boleh saja, tetapi mesti diiringi pelambatan (relaksasi, reflektif, dan interaktif). Kita tak ingin didorong paksa melaju dalam percepatan informasi di dunia digital, yang entah sampai di mana batasannya ini, dengan terus-menerus mengonsumsi kedangkalan dengan segala perniknya.

MUHIDIN M DAHLAN, KERANI @WARUNGARSIP DAN SALAH SATU PENDIRI NEWSEUM INDONESIA
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 April 2016, di halaman 12 dengan judul “Jurnalisme Sepeda”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB