Home / Berita / Astronomi / Jupiter Kemungkinan Memiliki Air

Jupiter Kemungkinan Memiliki Air

Jupiter adalah planet yang istimewa. Dia adalah planet terbesar di Tata Surya. Jupiter juga diduga menjadi planet pertama yang terbentuk di Tata Surya sebagai akumulasi dari material sisa pembentukan Matahari. Karena itu, peneliti sering berpikir bahwa Jupiter memiliki komposisi kimiawi yang mirip dengan Matahari.

Namun, studi selama beberapa dekade terakhir menunjukkan, Jupiter memiliki struktur lebih kompleks dibanding perkiraan semula. Salah satunya, planet gas raksasa itu diduga memiliki air yang indikasinya muncul dari keberadaan bintik merah raksasa yang bertahan beberapa ratus tahun di permukaan Jupiter.

“Sebagian besar bulan-bulan yang mengorbit Jupiter memiliki air. Karena itu, Jupiter seharusnya juga memiliki air,” kata Gordon Bjoraker, astrofisikawan di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat NASA di Greenbelt, Maryland, AS, seperti dikutip space.com, Sabtu (1/9/2018).

NASA, ESA, AND A. SIMON (NASA GODDARD)–Bintik merah raksasa di bagian kiri bawah Jupiter sejatinya adalah badai raksasa yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Dari bulatan raksasa dengan diamater 2-3 kali diameter Bumi itulah para astrofisikawan menduga adanya air di Jupiter.

Sebagai planet terbesar, dengan gaya tarik gravitasi yang besar pula, maka logikanya semua benda yang ada di sekitarnya, termasuk air, akan tertarik pula ke Jupiter. Karena itu, Jupiter juga seharusnya kaya akan air sama seperti bulan-bulan satelitnya.

Dari 79 bulan Jupiter yang sudah ditemukan hingga Juli 2018, sebanyak 53 bulan sudah dikonfirmasi dan diberi nama. Sisanya, 26 bulan masih dalam konfirmasi lebih lanjut sebelum akhirnya diberi nama. Dari bulan yang sudah diberi nama itu, setidaknya yang sudah diketahui memiliki air di permukannya dalam berbagai bentuk antara lain Europa dan Ganymede.

NASA/JPL-CALTECH/SETI INSTITUTE–Europa, bulan atau satelit planet Jupiter ini memiliki permukaan yang dilapisi es. Citra diambil oleh wahana antariksa milik NASA, Galileo, pada akhir 1990-an.

Untuk membuktikan dugaan itu, Bjoraker dan rekannya mengumpulkan data radiasi dari planet Jupiter yang diperoleh dengan menggunakan dua teleskop khusus yang ada di Mauna Kea, Hawaii, AS. Kedua teleskop inferamerah yang ada di Observatorium Keck itu merupakan teleskop inframerah paling sensitif di muka Bumi.

Guna melengkapi data tentang Jupiter yang diperoleh dari teleskop landas Bumi itu, peneliti menambahkan data yang digunakan dengan memakai data Jupiter yang diperoleh wahana antariksa milik NASA Juno yang mengorbit Jupiter sejak 2016. Sebelumnya, Juno yang mengelilingi Jupiter tiap 53 hari sekali itu sudah berhasil memotret bagian dalam awan dari planet gas tersebut.

Hasil studi yang dipublikasikan di The Astronomical Journal pada 17 Agustus 2018 itu menunjukkan adanya kebocoran radiasi termal dari bagian dalam bintik merah raksasa Jupiter.

Bintik merah raksasa
Jika diamati menggunakan teleskop kecil atau binokuler, bintik merah raksasa itu akan terlihat jelas sebagai bulatan besar yang terletak diantara garis-garis putih dan coklat yang berselang-seling di permukaan Jupiter.

Bintik merah raksasa yang berukuran 2-3 kali diameter Bumi itu sebenarnya adalah badai raksasa yang sudah berlangsung ratusan tahun. Sejak pertama kali diketahui manusia ketika teleskop pertama kali ditemukan pada abad ke-17, badai besar itu masih terjadi hingga sekarang.

Di atas awan di wilayah bintik merah raksasa yang bergejolak itu, para peneliti menemukan tanda-tanda kimiawi yang menunjukkan adanya air di Jupiter. Selain itu, berdasarkan pemodelan berbasis teori maupun komputer, jumlah air di Jupiter itu diprediksi cukup melimpah.

Lapisan awan terdalam di bintik merah raksasa itu memiliki tekanan 5 bar atau lima kali tekanan atmosfer di permukaan Bumi. Pada tekanan sebesar itu, suhu udaranya sudah akan mencapai titik beku air.

Selain itu, di kedalaman awan di bintik merah raksasa itu juga terdapat lapisan karbon monoksida. Keberadaan senyawa ini menunjukkan Jupiter juga kaya akan oksigen. Karena awan di Jupiter dikenal dengan banyaknya kandungan hidrogen, maka saat hidrogen itu bereaksi dengan oksigen, terbentuklah air. Namun, berapa jumlah pasti air di Jupiter, perlu studi lebih lanjut.

“Kelimpahan air di Jupiter akan memberitahukan kepada kita bagaimana planet raksasa dibentuk. Namun, itu hanya bisa diketahui jika jumlah air di seluruh planet diketahui,” tambah Steven Levin, ilmuwan dalam misi Juno di Laboratorium Jet Propulsi (JPL) NASA di Pasadena, California, AS.

Jika pengamatan masa depan oleh Juno mengonformasi dan memetakan secara terpeinci keberadaan air di Jupiter, maka teknik serupa dapat dipakai untuk mendeteksi keberadaan air di planet gas raksasa lainnya, seperti Saturnus, Uranus, dan Neptunus.–M ZAID WAHYUDI

SUmber: Kompas, 4 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: