Jupiter Kemungkinan Memiliki Air

- Editor

Selasa, 4 September 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jupiter adalah planet yang istimewa. Dia adalah planet terbesar di Tata Surya. Jupiter juga diduga menjadi planet pertama yang terbentuk di Tata Surya sebagai akumulasi dari material sisa pembentukan Matahari. Karena itu, peneliti sering berpikir bahwa Jupiter memiliki komposisi kimiawi yang mirip dengan Matahari.

Namun, studi selama beberapa dekade terakhir menunjukkan, Jupiter memiliki struktur lebih kompleks dibanding perkiraan semula. Salah satunya, planet gas raksasa itu diduga memiliki air yang indikasinya muncul dari keberadaan bintik merah raksasa yang bertahan beberapa ratus tahun di permukaan Jupiter.

“Sebagian besar bulan-bulan yang mengorbit Jupiter memiliki air. Karena itu, Jupiter seharusnya juga memiliki air,” kata Gordon Bjoraker, astrofisikawan di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat NASA di Greenbelt, Maryland, AS, seperti dikutip space.com, Sabtu (1/9/2018).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

NASA, ESA, AND A. SIMON (NASA GODDARD)–Bintik merah raksasa di bagian kiri bawah Jupiter sejatinya adalah badai raksasa yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Dari bulatan raksasa dengan diamater 2-3 kali diameter Bumi itulah para astrofisikawan menduga adanya air di Jupiter.

Sebagai planet terbesar, dengan gaya tarik gravitasi yang besar pula, maka logikanya semua benda yang ada di sekitarnya, termasuk air, akan tertarik pula ke Jupiter. Karena itu, Jupiter juga seharusnya kaya akan air sama seperti bulan-bulan satelitnya.

Dari 79 bulan Jupiter yang sudah ditemukan hingga Juli 2018, sebanyak 53 bulan sudah dikonfirmasi dan diberi nama. Sisanya, 26 bulan masih dalam konfirmasi lebih lanjut sebelum akhirnya diberi nama. Dari bulan yang sudah diberi nama itu, setidaknya yang sudah diketahui memiliki air di permukannya dalam berbagai bentuk antara lain Europa dan Ganymede.

NASA/JPL-CALTECH/SETI INSTITUTE–Europa, bulan atau satelit planet Jupiter ini memiliki permukaan yang dilapisi es. Citra diambil oleh wahana antariksa milik NASA, Galileo, pada akhir 1990-an.

Untuk membuktikan dugaan itu, Bjoraker dan rekannya mengumpulkan data radiasi dari planet Jupiter yang diperoleh dengan menggunakan dua teleskop khusus yang ada di Mauna Kea, Hawaii, AS. Kedua teleskop inferamerah yang ada di Observatorium Keck itu merupakan teleskop inframerah paling sensitif di muka Bumi.

Guna melengkapi data tentang Jupiter yang diperoleh dari teleskop landas Bumi itu, peneliti menambahkan data yang digunakan dengan memakai data Jupiter yang diperoleh wahana antariksa milik NASA Juno yang mengorbit Jupiter sejak 2016. Sebelumnya, Juno yang mengelilingi Jupiter tiap 53 hari sekali itu sudah berhasil memotret bagian dalam awan dari planet gas tersebut.

Hasil studi yang dipublikasikan di The Astronomical Journal pada 17 Agustus 2018 itu menunjukkan adanya kebocoran radiasi termal dari bagian dalam bintik merah raksasa Jupiter.

Bintik merah raksasa
Jika diamati menggunakan teleskop kecil atau binokuler, bintik merah raksasa itu akan terlihat jelas sebagai bulatan besar yang terletak diantara garis-garis putih dan coklat yang berselang-seling di permukaan Jupiter.

Bintik merah raksasa yang berukuran 2-3 kali diameter Bumi itu sebenarnya adalah badai raksasa yang sudah berlangsung ratusan tahun. Sejak pertama kali diketahui manusia ketika teleskop pertama kali ditemukan pada abad ke-17, badai besar itu masih terjadi hingga sekarang.

Di atas awan di wilayah bintik merah raksasa yang bergejolak itu, para peneliti menemukan tanda-tanda kimiawi yang menunjukkan adanya air di Jupiter. Selain itu, berdasarkan pemodelan berbasis teori maupun komputer, jumlah air di Jupiter itu diprediksi cukup melimpah.

Lapisan awan terdalam di bintik merah raksasa itu memiliki tekanan 5 bar atau lima kali tekanan atmosfer di permukaan Bumi. Pada tekanan sebesar itu, suhu udaranya sudah akan mencapai titik beku air.

Selain itu, di kedalaman awan di bintik merah raksasa itu juga terdapat lapisan karbon monoksida. Keberadaan senyawa ini menunjukkan Jupiter juga kaya akan oksigen. Karena awan di Jupiter dikenal dengan banyaknya kandungan hidrogen, maka saat hidrogen itu bereaksi dengan oksigen, terbentuklah air. Namun, berapa jumlah pasti air di Jupiter, perlu studi lebih lanjut.

“Kelimpahan air di Jupiter akan memberitahukan kepada kita bagaimana planet raksasa dibentuk. Namun, itu hanya bisa diketahui jika jumlah air di seluruh planet diketahui,” tambah Steven Levin, ilmuwan dalam misi Juno di Laboratorium Jet Propulsi (JPL) NASA di Pasadena, California, AS.

Jika pengamatan masa depan oleh Juno mengonformasi dan memetakan secara terpeinci keberadaan air di Jupiter, maka teknik serupa dapat dipakai untuk mendeteksi keberadaan air di planet gas raksasa lainnya, seperti Saturnus, Uranus, dan Neptunus.–M ZAID WAHYUDI

SUmber: Kompas, 4 September 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB