Jumlah Peneliti Minim di Kebun Raya

- Editor

Jumat, 20 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggaran Riset Potensi Flora Terbatas
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia terus mendorong pembangunan kebun raya di daerah-daerah. Namun, setelah kebun raya terbangun dan koleksi tumbuhan bertambah, riset tentang potensi manfaat flora terbatas karena jumlah peneliti minim.

Padahal, tumbuhan koleksi kebun raya menyimpan potensi untuk memenuhi kebutuhan pangan. obat, dan energi-jika diteliti secara berkelanjutan-di tengah menipisnya sumber energi seperti minyak dan batubara. “Makhluk hidup adalah ‘emas’ masa depan karena jumlahnya tak tarbatas asal tidak dipunahtmn.” ucap Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI Didik Widyatmoko, saat dihubungi, Kamis (19/5).

Jumlah peneliti sangat minim sehingga pemanfaatan tumbuhan sebagai bagian dari sumber daya hayati dan diseminasi hasil riset kurang cepat. Saat ini di Indonesia ada 30 kebun raya, 5 dikelola LIPI, 23 oleh pemda, 1 oleh perguruan tinggi, dan 1 oleh swasta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Didik mengatakan, ”Satu peneliti idealnya menangani satu suku tumbuhan,” ujarnya. Jumlah koleksi saat ini ada 9000-an Jenis tumbuhan dari sekitar 400 Suku. Jumlah peneliti LIPI di lima kebun raya 126 orang.

Kebun Raya Bogor sebagai yang tertua berusia 199 tahun pada Rabu (18/5) memiliki sebagian besar koleksi, yakni sekitar 7000 jenis dari 210 familia. Jumlah peneliti di sini hanya 51 orang, 24 persen dan ideal.

Moratorium
Setahun terakhir jumlah peneliti tidak bertambah akibat kebijakan moratorium penerimaan aparatur sipil negara peneliti. Tahun ini LIPI mengusulkan penerimaan 250 peneliti, tak hanya untuk kebun raya.

Dia mengatakan, meski LIPI tidak mampu memenuhi kebutuhan peneliti pada kebun raya di daerah-daerah, fungsi riset masih bisa berjalan dengan melibatkan perguruan tinggi.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Kebun Raya Kuningan Maryono mengatakan, Kebun Raya Kuningan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tidak punya peneliti. Jumlah petugas minim bahkan untuk operasional sehari-hari, Kebun raya seluas 155 benar ini hanya punya 25 pegawai, 5 orang di antaranya PNS.

Kebun raya tersebut memiliki koleksi 750 jenis tumbuhan dari 189 suku. Fungsi riset berjalan menggunakan tenaga mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi. di antaranya Universitas Kuningan, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Salah satu flora andalannya adalah ceremai gunung. Namun, menurut Maryoto, belum ada riset tentang potensi manfaat dari flora koleksi kebun raya itu.

Hal sama dilakukan Kebun Raya Baturraden di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kepala Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Baturraden Ammy Rita Manalu mengatakan, riset berjalan karena ada penelitian mahasiswa. Misalnya, dari Universitas Negeri Jenderal Soedirman, Purwokerto, Universitas Muhammadiyah, Purwokerto, dan Universitas Negeri Yogyakarta. Pihaknya telah membimbing lebih dari 15 judul penelitian.

Anggaran terbatas
Hal lain, soal anggaran untuk riset potensi manfaat flora di kebun raya terbatas. Penyebabnya kata Didik, lantaran pemerintah cenderung pragmatis sehingga memprioritaskan pendanaan riset yang cepat memberi hasil. Padahal, untuk tahu ada tidaknya manfaat suatu jenis tumbuhan perlu riset bertahun-tahun.

Anggaran Kebun Raya Bogor yang seluas 87 ha total Rp 50 miliar per tahun Sebanyak Rp 34 miliar dari pemerintah dan Rp 16 miliar dari penghasilan kebun raya. Sebagai perbandingan, Singapore Botanic Gardens di Singapura, dengan luas 4 hektar, anggarannya 10 kali lipat anggaran Kebun Raya Bogor.

Dari dana pemerintah itu, Rp 3 miliar untuk riset, termasuk perbaikan peralatan dan perjalanan ekplorasi. Biaya perjalanan untuk enam orang di Aceh, misalnya, menghabiskan Rp 150 juta. Dari penghasilan kebun raya, Rp 50 juta dipakai untuk menambah riset per peneliti.

Meski kecepatan riset kurang memadai, kata Didik, penambahan kebun raya tetap penting. Sebab, perlindungan tumbuhan Tanah Air berpacu dengan kerusakan lingkungan.

Jumlah tumbuhan terancam punah yang dikoleksi kebun raya baru 145 spesies dari total 590 spesies. Target 2011-2020 Global Strategy for Plant Conservation suatu negara adalah mengonservasi 70 persen jenis tumbuhan.

Hal itu sulit tercapai karena Indonesia terdiri atas 17000 pulau. Biaya eksplorasi amat mahal. Saat ini total belanja penelitian dan pengembangan nasional 0,09 persen dari produk domestik bruto. (J06)

Sumber: Kompas, 20 Mei 2016

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB