Home / Berita / Jokowi, UGM, dan Arah Bangsa

Jokowi, UGM, dan Arah Bangsa

Saat berbicara dalam acara Lustrum Ke-30 Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Sabtu (30/6/2018) di Yogyakarta, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, arah bangsa dan kebijakan pemerintah saat ini makin dominan ditentukan oleh para alumni Universitas Gadjah Mada (UGM).

Faktor utama tentulah Presiden Joko Widodo, yang merupakan lulusan Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985. Jokowi adalah presiden RI pertama yang berasal dari UGM.

Seiring terpilihnya Jokowi menjadi presiden, makin banyak pula alumnus UGM yang mengisi posisi menteri.

KOMPAS/M FAJAR MARTA–Diskusi kepemimpinan yang digelar dalam rangkaian Lustrum Ke-30 Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, 30 Juni-2 Juli 2018 di Yogyakarta.

Mereka, antara lain, adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Selain itu, ada juga Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy; dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Mohamad Nasir.

Para menteri tersebut tercatat pernah menjadi mahasiswa di UGM, pada tingkatan sarjana ataupun pascasarjana.

Di luar kabinet, sejumlah posisi penting negeri ini yang diduduki alumnus UGM, antara lain, adalah Gubernur Bank Indonesia yang dijabat Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan yang dipegang Halim Alamsyah.

Ternyata, kata Pramono, dominasi alumni UGM tak hanya di posisi puncak, tetapi juga posisi-posisi strategis di bawahnya.

”Posisi eselon 1 di kementerian paling banyak dipegang alumni UGM,” kata Pramono yang jebolan MM FEB UGM tahun 1992. Di tingkat sarjana, Pramono merupakan alumnus Fakultas Pertambangan ITB, lulus 1988.

Untuk posisi dirut dan direksi BUMN, saat ini memang masih didominasi alumni ITB. Namun kata pramono, jika perusahaan-perusahaan lain yang terafiliasi dengan BUMN juga diperhitungkan, alumni UGM tetap yang paling banyak duduk di dewan direksi.

”Jadi, arah bangsa saat ini ditentukan oleh para alumni Gadjah Mada,” kata mantan Wakil Ketua DPR tersebut.

Pembangunan infrastruktur yang menjadi program prioritas pemerintahan Jokowi banyak digawangi alumni UGM. Dua kementerian dengan anggaran paling besar untuk pembangunan infrastruktur, yakni Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan, dipimpin Basuki yang jebolan Teknik Geologi UGM dan Budi Karya yang lulusan Arsitektur UGM.

Hasilnya, pada era pemerintahan Jokowi-lah, jalan tol Trans-Jawa yang membentang dari Merak Banten hingga Banyuwangi Jawa Timur sepanjang 1.150 km dapat terwujud.

Tak hanya masif, pembangunan infrastruktur yang dikomandoi para alumni UGM juga mengusung konsep keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Ini tentu tak terlepas dari nilai-nilai dan kiprah UGM yang sangat merakyat sehingga dijuluki kampus rakyat.

”Orang banyak bilang, untuk apa membangun jalan tol di Papua, siapa yang akan pakai. Tapi persoalannya, kalau tidak dibangun, kapan Papua akan maju setara dengan daerah lain,” kata Pramono.

Pramono juga mencontohkan, banyak orang sangsi dengan rencana Jokowi menerapkan program bahan bakar minyak (BBM) satu harga, yang akan membuat harga BBM di Papua—yang biasanya berlipat-lipat—akan setara dengan harga di Jawa.

”Demi keadilan sosial, Presiden Jokowi bertekad mewujudkannya dan itu berhasil,” katanya.

Menurut Pramono, peran alumni UGM dalam pembangunan dan pemberdayaan bangsa akan lebih dahsyat jika konektivitas dalam jejaring alumni UGM dapat dioptimalkan.

Selain itu, kata Pramono, alumni UGM juga harus lebih percaya diri dan berani tampil ke depan karena pada dasarnya alumni UGM adalah yang terbaik.

KOMPAS/M FAJAR MARTA–Salah satu pendiri MM UGM Bambang Sudibyo (kiri) bersama Menhub Budi Karya Sumadi dan Seskab Pramono Anung di Gedung MM UGM, Sabtu (30/6/2018).

Peringkat
Secara kelembagaan, daya saing dan peringkat UGM juga terus meningkat. Berdasarkan pemeringkatan global Quacquarelli Symonds (QS) World University Rangkings 2019, peringkat UGM naik dari posisi ke-410 menjadi ke-391 universitas terbaik dunia.?? Adapun berdasarkan pemeringkatan Kemenristek Dikti, UGM menduduki peringkat pertama sebagai universitas terbaik di Indonesia.

Menhub Budi Karya Sumadi menambahkan, peningkatan daya saing dan sinergi menjadi kunci memperbesar peran UGM dan para alumninya dalam pembangunan bangsa.–M FAJAR MARTA/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Sumber: Kompas, 1 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Masih Muda tetapi Beruban Pertanda Stres

Stres mempercepat memutihnya rambut. Hal itu terungkap dalam hasil riset yang dipublikasikan jurnal Nature, 23 ...