Home / Berita / Jejak Presiden di Kampusnya…

Jejak Presiden di Kampusnya…

Nyanyian Mars Rimbawan berkumandang di kampus Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Selasa (19/12) sekitar pukul 11.00. Lagu tersebut dinyanyikan untuk menyambut alumnus fakultas tersebut, yaitu Presiden Joko Widodo.

Jokowi merupakan mahasiswa kehutanan angkatan 1980. Kemarin, pemilik nomor induk mahasiswa 1681/Kt itu datang sebagai alumnus yang juga Presiden. Sampai kini, nomor induk mahasiswa itu tetap dipakai Jokowi sebagai lambang tanda tangannya.

Kemarin, rekan-rekan seangkatan Jokowi juga hadir di halaman kampus. Pada awal pidatonya, Presiden memberikan penghormatan kepada dosen pembimbing skripsinya, Kasmudjo (68). ”Yang pertama saya sampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing saya, Pak Kasmudjo. Ke depan Pak Kasmudjo,” ujar Presiden.

Kasmudjo yang saat itu duduk di deretan kursi depan, lalu berdiri dan melangkah ke depan. Jokowi dan Kasmudjo lalu berdiri berdampingan.

Galak
Menurut Presiden, Kasmudjo tergolong dosen pembimbing yang galak. ”Beliau itu, waktu membimbing, seingat saya galak sekali. Tetapi, sekarang bijak sekali, sudah berubah. Saya tidak tahu yang berubah saya, atau Pak Kasmudjo,” katanya.

Untuk mendapatkan gelar insinyur kehutanan dari UGM, Jokowi mengenang harus bolak-balik menghadap Kasmudjo saat menyusun skripsi. ”Saya lupa berapa kali bolak-balik. Begitu maju (menyerahkan naskah skripsi), dibentak, ’Balik!’ Sekarang alhamdulillah, atas bimbingan Pak Kasmudjo selesai skripsi saya,” kata Jokowi.

KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT–Presiden Joko Widodo bertemu teman-temannya semasa kuliah di Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Selasa (19/12). Pertemuan ini terjadi seusai Presiden memberikan kuliah umum pada peringatan Dies Natalis Ke-68 UGM. Di depan mereka, selain bernostalgia, Presiden menyampaikan pandangannya mengenai pengelolaan hutan yang lebih baik.

Sementara itu, Kasmudjo menilai Jokowi sosok yang disiplin. Ketika mengerjakan skripsi, Jokowi juga rajin melakukan konsultasi dengan dirinya. ”Yang jelas, selama menjadi mahasiswa, dia disiplin. Kalau janjian untuk bertemu, selalu ditepati,” ujarnya.

Kasmudjo menambahkan, proses pengerjaan skripsi Jokowi membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Selama proses bimbingan, seingat Kasmudjo, ia tidak terlalu sering mengembalikan draf skripsi Jokowi untuk diperbaiki. ”Tidak terlalu sering dikembalikan kok. Menurut saya, dia cukup bagus (dalam mengerjakan skripsi),” kata Kasmudjo yang kini telah pensiun dari Fakultas Kehutanan UGM.

Setelah lulus dari Fakultas Kehutanan UGM, menurut Kasmudjo, Jokowi masih kerap mengunjunginya. Keduanya kerap membicarakan masalah mebel karena saat itu Jokowi menjadi wirausaha di bidang mebel. Sementara Kasmudjo aktif menjadi pembina bagi usaha kecil dan menengah (UKM) di bidang mebel. ”Kadang saya juga nengok ke tempat usaha mebel dia (Jokowi) di Solo,” ungkapnya.

Sementara itu, teman satu angkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM, Bambang Supriyambodo (57), mengatakan, salah satu hal yang tidak berubah dari Jokowi sejak mahasiswa hingga sekarang adalah kesederhanaannya. ”Saat mahasiswa, dia orang yang sederhana banget, tetapi tetap bergaul dengan banyak teman,” katanya.

Bambang menambahkan, saat aktif di kelompok Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Silvagama di Fakultas Kehutanan UGM, Jokowi juga dikenal sangat peduli pada kelestarian lingkungan.

”Kalau pas naik gunung ada teman yang buang bungkus mi instan, dia selalu marah dan bungkus mi instan yang dibuang itu dia kantongi,” ujar Bambang.

Kepedulian pada lingkungan saat mahasiswa juga ditunjukkan Jokowi dengan melarang teman-temannya memetik dan membawa pulang bunga edelweis yang tumbuh di gunung. ”Dulu, kebanggaan orang yang naik gunung adalah membawa pulang bunga edelweis. Tetapi Pak Jokowi tidak setuju bunga edelweis dibawa pulang. Dia bilang, bunga itu cukup dinikmati,” kata Bambang.

Sebelum meninggalkan kampusnya, Jokowi melihat skripsinya di ruang perpustakaan. Presiden juga menyempatkan diri melihat sejumlah foto dirinya saat mahasiswa. Beberapa foto yang dipamerkan itu antara lain menunjukkan Jokowi dan teman-temannya berada di Gunung Kerinci di perbatasan Provinsi Sumatera Barat dan Jambi.

”Ini foto kami saat mendaki Gunung Kerinci pada tahun 1982 untuk mengikuti ekspedisi yang digelar oleh Silvagama,” kata Bambang sambil menunjukkan salah satu foto.(HRS/NDY)

Sumber: Kompas, 20 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: