Home / Berita / Jerit “Pengerih Terakhir” pada “Hantu Laut”

Jerit “Pengerih Terakhir” pada “Hantu Laut”

“Nelayan ngeri menuju daratan rumahnya sendiri, sebab takut bertemu si buah hati yang bertanya bagaimana biaya sekolah mereka. Dia begitu rindu senyum dan kehangatan bini di rumah tangga, tapi terjepit dengan hutang di kedai dekat rumah,”

Baris puisi berjudul “Pengerih Terakhir” ini terdengar beradu dengan suara arus yang menggapai bibir tepi pantai Bandar Bakau, kawasan ekowisata yang dikelola komunitas masyarakat setempat di Dumai, Riau. Saat itu Teater Bendera dan anak-anak Sekolah Alam (Umah Pumpun) di bawah payung Pecinta Alam Bahari, pengelola Bandar Bakau, menjadi pertunjukan pamungkas Hari Mangrove Sedunia yang diadakan Mangrove Ecosystem Restoration Alliance.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Hari Mangrove Internasional–Sejumlah pemain teater memainkan pertunjukan Hantu Sampah dalam perayaan Hari Mangrove Internasional yang berlangsung di Bandar Bakau, Dumai, Riau, Sabtu (27/7/2019). Melalui pertunjukan seni budaya ini, masyarakat diajak untuk melihat nasib nelayan yang kian tertekan oleh pencemaran lingkungan akibat sampah, limbah, dan kerusakan ekosistem mangrove.

Di bawah terik matahari, tiga lembar halaman puisi karya Darwis Muhammad Saleh, seniman dan pengelola Bandar Bakau, menjadi jiwa dalam pertunjukan teater Hantu Laut yang dipertontonkan pada panggung tepi pantai. Jauh dari suasana horor, pertunjukan tersebut menjadi kontemplasi kehidupan nelayan yang berlomba-lomba menyambung hidup di tengah kerusakan dan pencemaran lingkungan.

“Reklamasi pantai makin menjadi–jadi menebas bakau dan api-api, penghijauan alam ala kadar sebab bapak manajer lagi tak di tempat, tumpahan-tumpahan minyak menyelemak pesisir, didukunkan dengan backing-an…” lanjut Acha Syanila Syuhada, pembaca puisi tersebut.

Sedikit banyak puisi yang dibacakan di depan pejabat Pemprov Riau, Pemkot Dumai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, korporasi, dan masyarakat setempat tersebut menempelak banyak orang. Kalimat-kalimat itu secara vulgar menyebutkan berbagai fakta yang dihadapi nelayan saat ini.

Darwis Muhammad Saleh, mengatakan bait demi bait puisi karyanya didapatkan dari hasil kontemplasi usai mengikuti pertemuan bersama sejumlah pihak. “Itu yang terekam dari kehidupan nelayan yang semakin sulit,” katanya.

Puisi ini bukan yang pertama kali dibacakan. Pada bulan April lalu saat memperingati hari Nelayan, puisi dalam teater ini pun sempat dibacakan. Namun suasana saat lalu tersebut berbeda karena pejabat pemda setempat enggan menghadirinya dan hanya mengutus staf.

Bagi nelayan di Dumai yang menggantungkan hidup dari menangkap ikan di sekitar perairan dekat karena berlayar hanya sehari, kondisi ekosistem pesisir lokal sangatlah penting. Semakin sehat kondisi pesisir, kian menyokong langsung penghidupan mereka.

Ekosistem mangrove
Sejak Dumai berkembang karena menjadi pelabuhan dan kawasan industri yang terdekat dengan Malaka di Semananjung Malaysia, pembangunan infrastruktur pantai sangat masif. Ekosistem mangrove yang menjadi tempat pembesaran, peneluran, dan ruang hidup berbagai ikan, kepiting, dan udang dibabat untuk menjadi pelabuhan maupun area pabrik.

Hutan mangrove di Bandar Bakau itu berada paling dekat dengan pusat kota di Dumai dan sebagian dari 26 ha mangrove sekitar kota yang tersisa. Bila nelayan setempat yang dipelopori Darwis Muhammad Saleh tak getol menolak pembangunan perluasan pelabuhan, Dumai mungkin sudah kehilangan mangrovenya. Bukannya tak mungkin keberadaan nelayan hanya tinggal cerita digantikan lalu-lalang kapal-kapal tanker dan kapal-kapal barang.

Didi Trianto, dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Bagansiapi-api di wilayah Dumai dan Rokan Hilir menjadi saksi kegetolan Darwis yang menggandeng masyarakat setempat menjadi para pembibit dan penanam mangrove. Berulang kali area tersebut sempat diratakan dan menyisakan sedikit pepohonan mangrove, namun bibit mangrove terus ditanam.

“Yang sekarang kelihatan itu mangrove generasi dua dan generasi ketiga yang ditanam di sela-sela pohon mangrove yang selamat dari perataan tanah untuk pelabuhan,” kata dia.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Diselamatkan dari Konversi Lahan–Kawasan hutan mangrove seluas 26 ha di Dumai, Riau ini diselamatkan dari perubahan fungsi bagi kawasan industri. Lahan yang telanjur terbuka ditanami kembali dengan mangrove dan digunakan untuk ekowisata masyarakat yang mendukung perekonomian langsung maupun meningkatkan hasil perikanan. Tampak suasana Bandar Bakau yang dikelola warga setempat, Sabtu (27/7/2019).

Selama hampir 20 tahun, warga terus diliputi rasa cemas karena status kawasan mangrove yang bisa sewaktu-waktu digunakan untuk kepentingan pelabuhan maupun industri, komunitas masyarakat sejak tiga tahun ini merasa tenang. Ini karena Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui SK 903 tahun 2016 tentang Kawasan Hutan Provinsi Riau, menetapkan kawasan mangrove setempat sebagai hutan produksi terbatas.

Dengan status ini, masyarakat setempat bisa memiliki pengelolaan secara legal untuk memanfaatkan hutan mangrove. Diantaranya bisa melalui perhutanan sosial dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yaitu jasa lingkungan berupa ekowisata yang kini pun telah dilakukan masyarakat.

Jadi selain menjadi nelayan yang menangkap ikan baik dengan jala, pancing, maupun pengerih (perangkap ikan/bubu), masyarakat mendapatkan tambahan pendapatan dari tiket masuk, parkir, maupun warung jajanan.

Namun permasalahan lebih lanjut masih menjadi tantangan. Perrmasalahan lingkungan berupa sampah menghantui wilayahnya maupun 130 kilometer panjang pantai Dumai. Karena itu lah dalam teatrikal kemarin, mereka mengangkat judul Hantu Laut.

“Ini teriakan kami yang melihat permasalahan lingkungan yaitu sampah,” kata Rizqi Kurniawan, sutradara teater itu yang juga Pembina dan pengajar di Sekolah Alam di Bandar Bakau.

Sampah seperti kantong plastik dan kemasan sampai sedotan terbawa air laut pasang dan menyangkut di akar-akar napas tanaman mangrove. Beberapa riset pun menunjukkan “bekapan” plastik pada akar napas ini bisa mematikan bagi mangrove.

Berbagai informasi dampak sampah plastik bagi fauna laut, burung laut, hingga mikroplastik bagi ikan dan manusia masuk dalam narasi teaternya. Tanaman mangrove yang kering – diperankan siswi Sekolah Alam- dan ikan-ikan yang mati – diperankan siswa Sekolah Alam –menggambarkan kondisi itu.

Sang Hantu Laut yang diperankan Aidon Diago, mahasiswa semester 10 Sekolah Tinggi Ilmu Admiistrasi Dumai tersebut membekap sang Ratu Ikan dan membunuh anak-anaknya. Singkatnya, setelah manusia menyadari kesalahannya dan memperbaiki perilaku serta membersihkan alam dari sampah, laut pun berangsur kembali berseri.

“Hantu laut berupa sampah itu berasal dari sampah kita yang menakutkan bagi lautan,” kata Rizqi. Jadi apakah manusia yang memiliki akal budi untuk mengelola bumi ini malah menjadi “hantu” yang menakutkan bagi penghuni laut?–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 3 Agustus 2019

Share
x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: