Home / Profil Ilmuwan / Jason dan Samson, Antara Nobel dan ”Teleport”

Jason dan Samson, Antara Nobel dan ”Teleport”

Jason dan Samson adalah kombinasi yang menarik. Yang satu kecil kurus, serius, pemalu. Yang lain kekar, santai, dengan tawa yang lepas. Dua kali bertemu, Jason selalu mengenakan kemeja rapi, sepatu kanvas, dan berkaus kaki. Sebaliknya, Samson selalu muncul dengan rambut acak-acakan, berjaket hitam, dan bersandal jepit.

Bernama lengkap Jason Kristiano, pada usia belum 20 tahun, risalahnya sudah dimuat di Physical Review C edisi November 2017 keluaran American Physical Society. Ini adalah jurnal fisika paling bergengsi, bahkan risalah seorang doktor pun belum tentu diterima. Jason mahasiswa S-1 Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI).

Samson Clymton (24), mahasiswa S-2 Jurusan Fisika UI, membantu dalam perumusan. Samson sudah menulis dua risalah di jurnal yang sama, dan risalah ketiga dibuat bersama Jason. Samson tak hanya menguji silang dan membetulkan rumus Jason, tetapi juga jadi teman diskusi.

”Dalam fisika teori, apalagi teori seperti ini, mentok kalau dikerjakan sendiri,” kata Terry Mart, guru besar tetap bidang fisika, pembimbing mereka.

Rumus apakah yang mereka hasilkan sampai Physical Review C yang begitu ketat menyeleksi risalah bersedia memuatnya? Jurnal Physical Review C termasuk peringkat atas dalam pangkalan data Scopus. Physical Review C juga masuk Institute for Science Information (ISI)-Thomson yang lebih selektif memasukkan jurnal ke dalam pangkalan datanya. Menurut ISI-Thomson, Physical Review C memiliki impact factor 3,82. Artinya, 10 risalah di jurnal itu dikutip oleh 38 risalah lain dalam dua tahun setelah terbit.

KOMPAS/AGNES ARISTIARINI–Samson Clymton (kiri) dan Jason Kristiano (kanan, berkacamata), fisikawan muda yang telah memperbaiki teori sudut spin partikel fermion.

Jason dan Samson berhasil memperbaiki teori yang agak ”cacat” karena ada kelemahannya, tetapi lebih dari 40 tahun terus dipakai karena tidak ada pilihan. Sederhananya, teori ini tentang partikel yang diketahui punya momentum sudut orbital dan magnetik yang secara gabungan menghasilkan momentum sudut spin.

Pada partikel boson, salah satu klasifikasi partikel menurut spin-nya, rumus mekanika kuantum untuk momentum sudut spin sudah sempurna. Namun, untuk fermion, klasifikasi partikel lain, yang memiliki spin 3/2 dan 5/2, masih diperdebatkan karena kalau dihitung selalu ada sisa, hasilnya tidak nol.

Dapat tantangan
Sampai akhirnya Terry melihat minat Jason dan menawarkan riset teori cacat itu. Maklumlah, di semester kedua, Jason sudah mengambil mata kuliah semester kelima. Di semester ketiga, ia ikut kuliah semester ketujuh. Jadilah Jason lebih awal bertemu Terry.

Tawaran di semester ketiga itu mulai dikerjakan Jason di semester keempat. Buku-buku fisika yang perlu dibaca dia sikat semua. Termasuk The Quantum Theory of Fields karya Steven Weinberg, pemenang Nobel Fisika (1979), yang biasanya menjadi literatur riset tingkat doktoral.

Jason juga rajin mencari di internet hingga menemukan para fisikawan yang mendalami teori tak sempurna itu. Di antaranya Acosta et al yang menulis di jurnal fisika Eropa. Dasar teori Acosta ia gunakan untuk memformulasikan reaksi partikel yang sempurna. Dengan bantuan Samson, tantangan ia selesaikan dalam tiga bulan di awal semester keempat.

Jason dan Samson memang pencinta fisika. Pernah mendaftar D-3 robotik ketika mendapat beasiswa ke Jepang, Samson akhirnya memilih S-1 jurusan fisika di UI. ”Saya suka fisika modern, terutama mekanika kuantum,” ujar Samson.

Asal tahu saja, mekanika kuantum disakralkan karena merupakan pelajaran fisika paling indah sekaligus paling susah.

Namun, Samson baru bertemu Terry ketika mengambil mata kuliah struktur nuklir. Mata kuliah semester kedelapan itu ia ambil di semester keenam. Sejak itu bergabunglah Samson di Laboratorium Fisika Nuklir dan Partikel—tempat Terry menggembleng rumus-rumus—rumah kedua Jason dan Samson sekaligus tempat menyimpan sepatu Samson saat mengajar.

Laboratorium teori itu terletak di lantai empat Gedung Fisika tanpa lift dan hanya cukup diisi empat meja. Dua papan tulis yang terpasang penuh dengan rumus.

Cita-cita
Kecintaan Jason dan Samson berbuah kemenangan dalam lomba-lomba fisika, baik tingkat nasional maupun internasional. Namun, jalan mereka ke fisika dilandasi cita-cita berbeda.

Masuk fisika gara-gara ingin menciptakan mesin teleport, Samson tak menyesal meski sulit mewujudkan cita-citanya. Bergulat dengan rumus-rumus fisika sudah membuat ia bahagia. Samson bahkan tidak ingin segera lulus meski saat ini indeks kumulatifnya 4 dan kalau mau ia mampu menempuh S-2 dalam 1,5 tahun. ”Yang penting bisa memperdalam fisika sebagai fondasi untuk aplikasi ke depan,” katanya.

Sementara Jason ingin menjadi pemenang Nobel Fisika. ”Peluang kecil, tetapi harus optimistis. Apalagi pemenang Nobel dari Indonesia belum ada,” ujarnya.

Belajar fisika setiap saat, ”Itu memang hobi saya,” ucapnya, membuat Jason memutuskan akan total belajar fisika sampai S-3. Ia ingin mengejar S-2 dan S-3 di Amerika Serikat, negeri tempat pemenang Nobel banyak dilahirkan. ”Saya merasa bisa berkontribusi di bidang fisika,” katanya.

Tidak mengherankan jika Jason mengidolakan Richard Feynman, fisikawan AS jagoan fisika partikel, yang mendapatkan Nobel Fisika (1965) bersama Sin Itiro Tomonaga dan Julian Schwinger. Feynman punya banyak penjelasan fisika menarik, salah satunya ”There’s plenty of room at the bottom”, yang meramalkan potensi luar biasa atom pada masa depan.

Di luar urusan fisika, Jason suka menonton film kartun. Sementara Samson suka main gim. Jason suka nasi goreng, sate, dan soto, sedangkan Samson suka nasi padang, nasi warteg, dan mi instan. ”Pokoknya yang bikin kenyang, he-he-he,” katanya.

Apalagi yang mereka kejar?
Uang ternyata bukan segala-galanya. Mereka ingin terus meneliti, mengerjakan hal-hal yang mereka senangi. ”Ngapain hanya mikirin duit. Yang penting tidak menyusahkan orang lain dan diri sendiri,” kata Samson diiringi anggukan Jason.

”Saya juga heran. Tiap hari melihat saya naik turun ojek dan kereta, tetap saja mereka cinta fisika,” ujar Terry.

AGNES ARISTIARINI

Sumber: Kompas, 13 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: