Home / Berita / Samson Mati di Tepi Pantai

Samson Mati di Tepi Pantai

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menduga kematian badak jawa pejantan bernama Samson pada Senin lalu karena kematian wajar. Ini karena tidak ditemukan luka infeksi.

Selain itu, cula yang masih utuh menandakan kematiannya bukan akibat perburuan. Meski demikian, kementerian masih menunggu hasil nekropsi yang dikerjakan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Mamat Rahmat, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Kamis (26/4/2018) di Jakarta, mengatakan, bangkai badak Samson ditemukan Senin pagi di tepi pantai depan kantor pos resor Karang Ranjang. Badak dewasa ini diperkirakan sudah tua, sekitar 30 tahun, karena memiliki cula besar berukuran panjang 25 cm dan lebar 20 cm.

BALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON–Badak jawa bernama Samson ditemukan mati di tepi Pantai Karang Ranjang, Senin (23/4/2018).

Kematian badak pejantan ini kerugian besar karena komposisi rasio pejantan dan betina di Ujung Kulon tidak ideal, yaitu 1 pejantan untuk 0,8 betina. Artinya, saat betina matang telur dan siap kawin dengan cara mengeluarkan feromon, terjadi persaingan antarpejantan yang bisa berakibat infeksi hingga kematian.

Badak Samson dikenali dari ciri khas robekan pada telinga sebelah kiri. Ini merupakan badak ke-37 yang terekam kamera tersembunyi pada tahun 2012.

KOMPAS/DIAN DEWI PURNAMASARI–Petugas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Banten memperlihatkan alat video trap yang dipasang di sekitar kawasan konservasi TNUK. Video trap merekam aktivitas binatang yang ada di sekitar taman nasional, terutama badak Jawa yang langka.

Mamat mengatakan, kematian badak pejantan ini kerugian besar karena komposisi rasio pejantan dan betina di Ujung Kulon tidak ideal, yaitu 1 pejantan untuk 0,8 betina. Artinya, saat betina matang telur dan siap kawin dengan cara mengeluarkan feromon, terjadi persaingan antarpejantan yang bisa berakibat infeksi hingga kematian.

Sekretaris Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Herry Subagiadi mengatakan, badak jawa (Rhinocerus sondaicus) merupakan spesies langka. Di Ujung Kulon, badak ini hanya tersisa 67 ekor.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 26 April 2018
——————
Hasil Nekropsi, Samson Mati karena Torsio Usus

BALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON–Petugas menemukan bangkai badak jawa yang teridentifikasi bernama Samson di Pantai Karang Ranjang, Minggu (22/4/2018), di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon.

Tim dokter WWF Indonesia dan Patolog Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor telah merampungkan nekropsi atau pembedahan setelah kematian atas bangkai badak jawa yang ditemukan pada 22 April 2018 di tepi Pantai Karang Ranjang, Taman Nasional Ujung Kulon. Pejantan badak jawa dewasa yang teridentifikasi bernama Samson ini diduga mati akibat kholik atau torsio usus.

”Kesimpulan awal, penyebab kematian badak ini adalah kholik atau torsio usus, yaitu usus besar dan usus kecil terpuntir (torso), mengakibatkan kerusakan pada usus besar, hingga bakteri mikroflora usus menghasilkan racun dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh badak,” kata Sri Estuningsih, patolog Fakultas Kedokteran Hewan IPB, dalam siaran pers yang dikirimkan WWF Indonesia, Jumat (27/4/2018).

Itu hasil nekropsi pengamatan organ bagian dalam badak Samson. Pada organ dalam ginjal, paru, hati, limpa, dan usus terdapat perubahan warna dan mengalami pembusukan. Ini ditandai dengan konsistensi organ yang sudah lunak menyerupai bubur dan perubahan warna organ, serta terdapat gas.

BALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON–Badak jawa bernama Samson ditemukan mati di tepi Pantai Karang Ranjang, Senin (23/4/2018).

Pada rongga tubuh toraks dan abdomen ditemukan banyak cairan transudat. Pada usus ditemukan adanya bagian usus yang terpuntir antara usus halus dan usus besar yang menyebabkan terjadinya rupture usus bagian sekum.

Isi usus sebagian terhambur mengenai dinding serosa usus yang ditandai adanya sisa makanan menempel pada serosa usus dan dinding badan (peritoneum). Di dalam saluran pencernaan terdapat cacing berbentuk bulat yang ditemukan dalam jumlah banyak.

Seperti diberitakan, pada Senin pagi, beberapa jam setelah penemuan bangkai badak itu, Sri Estuningsih bersama Zulkifri dan Gita Alvernita, tim dokter hewan WWF Indonesia, melakukan investigasi forensik bangkai. Hasilnya, pada pengamatan luar, kondisi bangkai badak masih utuh, cula masih menempel pada kepala, tidak ada tanda-tanda luka pada tubuh.

Kondisi bangkai menunjukkan sudah terjadi pembusukan yang ditandai dengan pengeluaran gas disertai busa dari celah kulit badak, kulit, dan cula mudah terlepas. Pada bagian mata, mulut, hidung, alat kelamin, dan anus berwarna merah. Ditemukan juga telur lalat, belatung pada permukaan kulit di bagian kaki depan dan belakang.

BALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON–Petugas menemukan bangkai badak jawa yang teridentifikasi bernama Samson di Pantai Karang Ranjang, Minggu (22/4/2018), di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon.

Tim juga tidak menemukan tanda adanya penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit yang bersifat akut. Kurnia Khairani, Project Leader WWF Indonesia, kantor Ujung Kulon, menegaskan, pihaknya mendorong pemerintah untuk segera merampungkan Strategi Konservasi Badak 2018-2023.

Ia juga mendorong pemerintah fokus untuk mengembangkan populasi kedua badak jawa selain di Ujung Kulon. Pengembangan populasi dilakukan untuk mencegah punahnya badak jawa disebabkan penyakit epidemi yang masif, bencana alam, seperti tsunami atau gempa bumi.

Penyakit infeksius yang bersifat epidemik dikhawatirkan dapat menyebar secara cepat ke seluruh populasi badak jawa apabila kondisi hanya single populasi, yaitu hanya ada di Ujung Kulon. Oleh karena itu, pengembangan populasi kedua harus segera menjadi prioritas strategi konservasi badak jawa ke depan.

KOMPAS/DIAN DEWI PURNAMASARI–Petugas Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, memperlihatkan alat video trap yang dipasang di sekitar kawasan konservasi taman nasional. Video trap merekam aktivitas binatang yang ada di sekitar taman nasional, terutama badak Jawa yang langka.

Kematian Samson merupakan salah satu dari dinamika populasi badak jawa yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Pembelajaran penting dari kematian ”Samson” ini adalah penanganan kematian badak jawa berlangsung lebih cepat dan efisien dibandingkan sebelumnya.

Respons cepat ini tidak terlepas berkat adanya Unit Monitoring Badak dan Kesehatan Badak yang menjadi tulang punggung pengelolaan populasi badak jawa di Ujung Kulon.

Proses koordinasi Balai Taman Nasional Ujung Kulon bersama para mitra, termasuk WWF Indonesia, mampu merespons secara cepat proses penanganan, mulai dari evakuasi, investigasi forensik yang melibatkan tenaga ahli dari pihak universitas, hingga proses publikasi sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 27 April 2018
——–
Habitat Baru Badak Jawa Mendesak Direalisasikan

BALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON–Seekor badak jawa yang teridentifikasi bernama Samson, Senin (23/4/2018) ditemukan mati di Pantai Karang Panjang di Kabupaten Pandeglang, Banten. Kematian badak itu diduga wajar meski masih menunggu hasil nekropsi.

Kebutuhan habitat baru bagi badak jawa sudah sangat mendesak. Fauna langka yang tersisa 67 ekor ini hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon dengan ancaman perkawinan sedarah, penularan penyakit ternak, dan rasio jenis kelamin yang tak ideal.

Pilihan lokasi saat ini mengerucut pada Cagar Alam Cikepuh di Sukabumi, Jawa Barat. Di situ tak ditemukan pesaing badak jawa dan terdapat banyak tanaman pakan bagi badak jawa.

“Kajian masih terus kami intensifkan. Secara fisik seharusnya tidak ada masalah (di Cikepuh),” kata Herry Subagiadi, Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kamis (26/4/2018) di Jakarta.

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan hewan soliter yang diperkirakan menghuni daratan pegunungan bagian selatan Jawa. Namun tekanan lahan dan perburuan di masa lalu membuat keberadaannya hanya tersisa di Ujung Kulon.

Ancaman perkawinan sedarah
Mamat Rahmat, Kepala Balai TN Ujung Kulon, menambahkan, ancaman perkawinan sedarah bisa terjadi karena keterbatasan luas habitat. Ia mengatakan perkawinan sedarah ini sedang diantisipasi dalam riset balai bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Eijkman Institute.

“Konservasi eksitu sangat diperlukan untuk breeding stock (persediaan makanan),” kata dia.

Tim kesehatan yang diterjunkan secara rutin di Ujung Kulon menemukan kandungan penyakit berbahaya pada kotoran kerbau. Hal ini berbahaya karena masyarakat setempat melepas kerbau peliharaan ke alam.

Di dalam hutan itu, kerbau menggunakan kubangan sama dengan badak jawa. “Ditemukan anthraks pada kotoran kerbau. Tapi masih negatif pada kotoran badak,” kata Mamat.

Tantangan lain, yaitu rasio jenis kelamin pada badak jawa yang tidak ideal. Dari 67 individu – masih termasuk pejantan bernama Samson yang ditemukan mati Senin kemarin – terdiri 24 betina, 30 pejantan, dan 13 anak (7 pejantan dan 6 betina). Jumlah ini ditambah 2 anak badak (anak indukan bernama Puri dan Dewi) yang terekam kamera tersembunyi pada Februari 2018 dan masih belum diketahui jenis kelaminnya.

–Anak dan induk badak jawa (Rhinoceros sondaicus) terekam kamera tersembunyi di Taman Nasional Ujung Kulon pada Februari 2018.

Idealnya, kata dia, rasio jenis kelamin badak 1 pejantan untuk 4 betina. Saat betina matang telur dan siap kawin dengan cara mengeluarkan feromon, terjadi persaingan antarpejantan yang bisa berakibat infeksi hingga kematian.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 27 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: