Jamur, Alternatif Sumber Pangan Tinggi Protein

- Editor

Rabu, 14 Oktober 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pekerja memanen jamur tiram di salah satu tempat budidaya jamur di Desa Urutsewu, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (14/9/2020). Musim kemarau membuat kelembaban udara berkurang sehingga berdampak pada turunnya hasil panen jamur di tempat itu hingga 40 persen dibanding saat musim hujan. Penyiraman jamur dengan menggunakan air ditingkatkan dua kali lipat selama kemarau untuk mempertahankan jumlah hasil panen.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
14-09-2020

Pekerja memanen jamur tiram di salah satu tempat budidaya jamur di Desa Urutsewu, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (14/9/2020). Musim kemarau membuat kelembaban udara berkurang sehingga berdampak pada turunnya hasil panen jamur di tempat itu hingga 40 persen dibanding saat musim hujan. Penyiraman jamur dengan menggunakan air ditingkatkan dua kali lipat selama kemarau untuk mempertahankan jumlah hasil panen. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko 14-09-2020

Rata-rata jamur pangan mengandung 19-35 persen protein. Dari 20 jenis asam amino esensial, sembilan di antaranya ada di jamur. konsumsi jamur di Indonesia masih rendah. Jamur bisa menjadi alternatif pangan saat pandemi.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO—Jamur tiram di salah satu tempat budidaya jamur di Desa Urutsewu, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (14/9/2020). Musim kemarau membuat kelembaban udara berkurang sehingga berdampak pada turunnya hasil panen jamur di tempat itu hingga 40 persen dibanding saat musim hujan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jamur bisa menjadi pilihan pangan fungsional dengan kandungan protein yang tinggi. Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat, jamur juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan rumah tangga.

Peneliti budidaya jamur pangan Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2B LIPI) Iwan Saskiawan menyampaikan, jamur mengandung nilai gizi yang amat tinggi. Hal itu lantaran kandungan dalam jamur yang berisi protein nabati dengan asam amino esensial, antioksidan, immunomodulator atau senyawa peningkat daya tahan tubuh, serta serat dengan kandungan prebiotik.

“Jamur memiliki kandungan asam amino esensial yang setara dengan susu, kentang, dan timun. Kemudian dari indeks nutrisinya juga setara dengan kacang kedelai, bayam, dan susu. Berbagai jenis jamur pangan juga mengandung protein yang tingi,” katanya di Jakarta, Rabu (7/10/2020).

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti LIPI, rata-rata jamur pangan mengandung 19-35 persen protein lebih tinggi, jika dibandingkan dengan beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen). Selain itu, dari 20 jenis asam amino esensial, sembilan di antaranya dapat ditemukan di jamur. Kandungan lemak pada jamur pun sekitar 72 persen merupakan lemak tidak jenuh.

Jamur juga mengandung berbagai jenis vitamin, antara lain B1 (thiamine), B2 (riboflavin), niasin, dan biotin. Selain itu, berbagai jenis mineral juga ditemukan dalam jamur, seperti kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, selenium, dan tembaga. Jumlah kandungan seratnya yang berkisar antara 7,4 hingga 24,6 persen sehingga sangat baik untuk pencernaan.

Konsumsi jamur
Dengan berbagai keunggulan nutrisi tersebut, jamur juga termasuk jenis pangan dengan harga terjangkau. Beberapa jenis jamur pangan pun bisa dikembangkan di Indonesia. Meski begitu, konsumsi jamur di masyarakat masih rendah.

Konsumsi jamur pangan di Indonesia hanya sebesar 0,18 kilogram per kapita per tahun. Jumlah ini sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Perancis (4,5 kilogram per kapita per tahun), Jepang (3,5 kilogram per kapita per tahun), dan Australia (3,0 kilogram per kapita per tahun).

“Hal ini menjadi tantangan kita. Selain konsumsi yang masih rendah, produktivitas dan pengembangan jamur sebagai produk pangan fungsional juga masih kurang. Padahal, budidaya jamur sangat mungkin dilakukan di Indonesia, bahkan untuk skala kecil dan rumah tangga,” ujar Iwan.

Ketahanan pangan
Direktur Eksekutif Asia Pacific Centre for Ecohydrology (APCE)-UNESCO Category II Centre (C2C) Ignasius Dwi Atmana Sutapa menuturkan, budidaya jamur yang optimal di Indonesia juga dapat mendukung ketahanan pangan keluarga, terutama di saat daya beli masyarakat menurun seperti di masa pandemi ini. Kemandirian untuk menghasilkan bahan pangan secara mandiri juga dapat mengatasi ketergantungan pada sumber pangan impor.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, pandemi telah memengaruhi ketahan pangan keluarga di Indoenesia. Pengaruh itu terlihat dari adanya perubahan konsumsi pangan, baik dari pilihan belanja dan pengolahan pangan. Penurunan kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan yang diperlukan pun menurun akibat pandemi.

“Ketahan pangan nasional dapat dicapai apabila komponenan pangan seperti ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas pangan dapat dipenuhi mulai dari satuan terkecil masyarakat yakni keluarga,” tutur Ignasius.

Menurut dia, jamur seharusnya bisa dikembangkan sebagai salah satu komoditi pangan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat. Budidaya jamur juga sekaligus dapat mendukung capaian tujuan pembanguan berkelanjutan, terutama untuk tujuan tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, serta kehidupan sehat dan sejahtera.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 7 Oktober 2020

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 50 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB