Home / Artikel / Jamu

Jamu

Kita tahu “jamu”itu kata benda, dan “jejamu”, minum jamu, kata kerja.Kata benda dan kata kerja itu merujuk pada satu makna: kesehatan.

Dalam konteks lain: penyembuhan. Kesehatan dan penyembuhan berhubungan langsung dengan survival. Ketika potret kesehatan masyarakat buruk, fasilitas obat-obatan dan pengobatan umum terbatas, sakit dan kematian menjadi ancaman nyata; dan paling menakutkan, apalagi bila kehidupan ekonomi masyarakat bersangkutan juga parah. Dengan begitu, survival dalam posisi di ujung tanduk.

Agar manusia survive dalam tata kehidupan yang sulit tadi, muncul budi daya,usaha, langkah, atau upaya, karena manusia tak boleh menyerah pada kesulitan secara fatalistik begitu saja.Dari akar kata budi daya, sekaligus dari proses panjang yang ditempuh serta hasilnya,maka terbentuk makna kebudayaan. Maka jelas, jamu itu salah satu wujud hasil pemikiran, kreasi, dan penciptaan dalam suatu masyarakat. Biasanya, terutama masyarakat tradisional, yang selalu dihadapkan pada segenap keterbatasan fasilitas untuk sehat,dan untuk survive tadi.

Dilihat dari satu aspek yang lebih khusus,yaitu ketika jamu diterima makin luas dan makin luas di dalam masyarakat, dan kebiasaan orang minum jamu, atau “jejamu” makin melembaga, maka terbentuklah tradisi pembuatan jamu, pada satu sisi dan tradisi minum jamu di sisi lain.Sesudah jamu diterima pasar, dan dikonsumsi, maka pelan-pelan terbentuklah tradisi. Bila hal ini makin diterima di masyarakat yang lebih luas dan makin melembaga, mapanlah posisi budaya jamu tradisional yang kita gunakan dalam bahasa sehari-hari sekarang.

Konsep ini lahir sesudah terjadi perubahan-perubahan sosial yang cepat dan menukik di dalam masyarakat.Tata kehidupan dan cara-cara pengelolaan hidup menjadi semakin berkembang, semakin maju dan modern, dan muncullah obat dan sistem pengobatan modern.Pertemuan dua dunia ini terjadi dengan nyaman dan aman, tapi ada kalanya diwarnai ketegangan dan penuh semangat saling mengejek. Saya akrab dengan jamu sejak kecil.Dan sesudah dewasa, saya pun belajar sedikit antropologi kesehatan, yang membuat apresiasi saya pada jamu makin bagus.

Saya hormat betul pada tradisi dan jamu tradisional tanpa menyingkur— mana mungkin—apa yang modern. Selagi bisa, saya membela semua jenis produk nasional kita agar tak tergilas di pertarungan pasar bebas yang tak sehat.Tanpa menyinggung siapa-siapa, saya harus menekankan lagi bahwa saya menyukai sirih, bukan untuk bergaya melainkan untuk kebutuhan sehat. Saya juga makan cengkih, bukan hanya untuk hangat, melainkan juga untuk penyegar aroma napas. Ini kebutuhan mendalam, bukan lifestyleyang mudah luntur.

Orang lain bolehlah gemar mobil mewah atau apa,saya tak akan bersikap sinis. Maka hak saya untuk menyukai sirih jangan dianggap gangguan.Suka sirih dan cengkih ini hasil pendidikan Mbah Tjokro, ahli jamu, yang hidup lebih lima puluh tahun lalu. Saya membantu menyiapkan bahanbahan, antara lain sirih,cabe— bukan cabai atau lombok— cengkih, bunga sirih, daundaun legundi—pahit melebihi brotowali—adas pulawaras, jinten,kunir, jahe,lempuyang, merica hitam, merica biasa, babakan pule, bengle, dan ada juga brotowali, yang diramu tersendiri.

Unsur-unsur dari alam itu diramu dan dipipis dengan watu gandik, batu bulket, disiapkan khusus, dan dengan batu hitam ceper, sebagai landasan pemipisan. Mipis itu intinya menumbuk hingga halus lembut semua unsur tadi, sesudah dikombinasikan satu sama lain dengan ukuran dan pencampuran sesuai kebutuhan. Saya masih bocah dan belum paham bagaimana resepnya. Hingga hari ini, resep jamunya tak ada yang tahu, dan sudah hilang bersama Mbah Tjokro, yang sejak lama menghadap Tuhan.

Tak ada seorang pun penerus di keluarga kami. Juga di antara para tetangga. Saya dilatih di dalam antropologi, dan memahami,bahwa apa yang agung, dan mulia, macam jamu Mbah Tjokro,bisa mati, bisa lenyap, tanpa bekas. Ini bisa terjadi karena himpitan modernitas yang agresif dan meluas. Bisa juga karena kondisi manusia: usia beliau terbatas. Maka di kampungku, jamu tradisional itu mati secara alamiah. Kematian ini patut disayangkan, tapi tak perlu ditangisi.Apa yang hidup akhirnya memang mati.Tapi apa yang hidup punya naluri mempertahankan kehidupannya.

Di tempat lain, di mana jamu masih hidup,saya ikut melindungi dan mempertahankan hidupnya. Untuk apa saya melakukan ini? Mungkin untuk bakti pada pusaka bangsa. Kita menganggap jamu bagian dari pusaka itu. Mohon dicatat, pusaka bukan hanya senjata macam keris atau tombak. Dalam tradisi keraton,perempuan,juga putri boyongan, dianggap pusaka kedaton juga.Selebihnya, saya berbakti pada masyarakat, pada bangsa,pada negara yang harus merawat pusaka tadi agar tak dicaplok bangsa lain. Hutan tropis kita mahakaya akan bahan-bahan obat atau jamu yang sudah dicuri bangsa lain dan diam-diam dipatenkan.

Kita harus bangkit. Jamu bukan hanya menyehatkan badan, tapi juga menyehatkan ekonomi perajin cilik. Pabrik besar? Jelas lebih sehat ekonominya. Sebagai bagian dari tradisi, jamu direkam atau diabadikan dalam buku-buku. Banyak variasi buku tentang jamu,diselingi mantra-mantra. Jamu biasa, yang diminum harian; jamu khusus bikin langsing, bikin kulit lembut bersinar seperti betis Ken Dedes yang berkilau; dan juga jamu penguat gairah dan tenaga seksual.

Kitab primbon juga memuat jamu.Keraton Yogya menerbitkan juga sebuah buku megah: Kraton Yogya: The History and Cultural Heritage.Di dalamnya adapenjelasanmengenaijamu. Ini membuktikan, di kampung saya jamu mati, dan saya tak menangis.Tapi di tempat lain, di mana jamu hidup,dan menghidupi, saya membela hak hidupnya.

Kalau kalah? Melawan. Kalah lagi? Melawan lagi. Tetap kalah? Melawan terus. Masih kalah? Saya akan belajar,apa rahasia yang membuat musuh itu menang. Dan dengan ilmu rahasia itu, lawan saya kalahkan.?

M SOBARY
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.com

Sumber: Koran Sindo, 17 Oktober 2011

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Stroomnet PLN Saingi IndiHome Telkom, Apa Kabar Sinergi BUMN?

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara terbuka menabuh genderang perang terhadap pelaku usaha jaringan internet ...

%d blogger menyukai ini: