Home / Tokoh / Jalan Keselarasan Suhirman Djirman

Jalan Keselarasan Suhirman Djirman

Semua ukuran keberhasilan intelektual sudah dia capai. Kehidupan pribadi Dr Suhirman Djirman (71) seperti penuh. Namun, ada ruang kosong dalam dirinya yang harus diisi.

Rumah tua beratap asbes, berhalaman luas di Kompleks Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Bogor, Jawa Barat, itu terasa teduh. Separuh halaman dirimbuni pepohonan, sisanya dihampari rumput dan tanaman hias.

Di samping rumah ada dua bangunan sederhana. Di bagian depan untuk kegiatan waktu luang istrinya, Hartati Suhirman (70), antara lain memberikan kursus bahasa Inggris. Di bagian belakang ada dojo untuk berlatih aikido dan meditasi.

Dojo Pelangi dibangun tahun 2002, berukuran 5 meter x 13 meter, merupakan simbol keberagaman yang diyakininya sebagai kehakikian alam semesta.

”Seminggu sekali di sini ada latihan meditasi dan aikido,” ujar Suhirman, fasilitator berbagai pelatihan terkait spiritual leadership, ”Dojo ini didirikan dengan tujuan ikut serta, biarpun sedikit, dalam gerakan pengembangan karakter.”

”Tidak penting berapa orang yang datang. Dua, lima, atau 40 sama saja, ukurannya bukan jumlah, melainkan kemauan berlatih.”

Jalan panjang
Aikido lebih dari seni bela diri, lebih dari filosofi. Aikido adalah seni menggapai transformasi personal. Maka, yang utama adalah latihan pribadi, terutama terkait karakter.

Berbeda dengan seni bela diri lainnya, aikido membongkar konsep dualisme: tak ada pertarungan, tak ada kalah-menang. Prinsip aikido adalah keselarasan, bukan bertarung atau menyerang, melainkan bertindak tepat, ”hadir di sini, kini”. Lalu membiarkan teknik mengalir secara alamiah, menyelaraskan dengan irama semesta.

”Seni bela diri ini secara spiritual sangat dalam,” tutur Suhirman, ”Begitu kita berserah dan pasrah kepada Yang Maha Pengasih, kekuatannya luar biasa.”

Pemahaman itu terbentuk lewat jalan panjang. Aikido menuntunnya meniti lintasan yang tak pernah dibayangkan.

Seusai bertugas sebagai Kepala Kebun Raya Indonesia tahun 1997, dia berlatih aikido di Jakarta, tiga kali seminggu selama lima tahun. Saat itu dia tiba pada situasi mental, ”murid siap, guru datang”. ”Sensei saya, Tri Sahade heran mengapa saya begitu committed,” kenangnya.

Pertemuannya dengan salah satu jenis seni bela diri dari Jepang itu berakar jauh. Ketika belajar di Portsmouth, Inggris, dia hampir memukul induk semangnya karena berang mendapati anjing milik induk semang tidur di atas sajadah. Untung dia ditahan temannya.

”Lima menit kemudian, tim dari kepolisian datang,” lanjut dia, ”Saya jelaskan duduk soalnya, tetapi mereka memperingatkan agar saya tidak berkelahi.”

Peristiwa itu sangat membekas. ”Kalau tak ada teman yang menahan, saya pasti langsung dideportasi, tidak selesai MSc apalagi PhD.”

Suhirman muda yang menekuni karate dan silat mulai mempertanyakan apa gunanya punya keahlian bela diri. Kekuatan otot berpotensi menjerumuskan kalau kita tak mampu menahan arogansi dan tuntutan ego.

Dia menemukan aikido setelah tenggelam di perpustakaan, mencari referensi tentang ilmu bela diri yang lembut dan melatih pengendalian diri. Namun, tak ada guru dan tempat berlatih. Untuk mengusir kebosanan belajar, dia mulai melukis, kegiatan yang tanpa disadari menuntun dia berdialog dengan diri. Di Inggris, lukisan-lukisan impresionisnya pernah terpampang pada beberapa pameran.

Menyapa hati
Menjadi ilmuwan adalah cita-cita sang ibu yang terpatri dalam diri Suhirman sejak kecil. ”Saya bisa mencapai semua, insinyur, master, lalu doktor. Bangga saat meraihnya, tetapi cuma sebentar.”

Pencapaian intelektual tak bisa memenuhi ruang kosong dalam dirinya. Dia berhasil menggapai puncak karier, mengantarkan tiga anaknya mandiri, dan berbahagia dalam kehidupan yang dihangatkan kehadiran empat cucu. Namun, pergulatan dalam dirinya tak berhenti. Dia semakin sadar, ada tujuan hidup yang lebih substansial.

”Yaitu, kembali seutuhnya kepada Sang Pencipta,” ujarnya, ”Semua orang, tanpa kecuali, punya kesempatan itu, tetapi banyak yang justru berpaling.”

Mengikuti intuisinya, ia mulai ikut latihan membongkar cara pikir pegawai negeri. Pikiran dia diprogram ulang dengan Neuro Linguistic Programming (NLP) untuk menghidupi kehidupan pada masa pensiun. Ia merasa harus merintis jalan menjadi guru, terkait spiritual leadership.

Persoalannya, ia tak paham arti spiritual. Ia hanya tahu spiritualitas sebatas intuisi. ”Sebagai ilmuwan, saya mencari spiritualitas yang bisa dijelaskan dengan sains, tetapi ternyata bukan itu jalannya.”

Ia seperti dituntun mencari isi karena merasa ”gelasnya masih kosong”. Ia ikuti berbagai latihan, sampai suatu hari bertemu guru yang membimbingnya berlatih menyapa hati, pusat semesta kecil di dalam diri, melalui meditasi.

Untuk itu, dia perlu melepas kelekatannya pada sains, pengetahuan lain, dan apa pun. Hening tak membutuhkan sains dan teknik. Hening merekah dalam keberadaan diri, tak berkaitan dengan menjadi, dengan pencapaian, dan apa pun. Hanya apa adanya. ”Caranya sederhana, rileks, melepas, dan senyum.”

Itu pun tak mudah. Sebagai ilmuwan yang dunianya serba serius dan analitis, rileks dan tersenyum dengan ringan tak mudah dia lakukan. Namun, secara perlahan, hambatan itu teratasi. Saat pikiran diam, hati memancar. Ajaib, ruang kosong di dalam dirinya mulai terisi.

Setiap dini hari, menjelang shalat subuh ia mengawalinya dengan senyum kepada hati dalam hening yang dalam, merasakan keberlimpahan cinta-Nya. ”Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan karena sangat personal.”

DR Suhirman Djirman, sensei AikidoKompas/Maria Hartiningsih (MH)Kini ia menggunakan NLP, hipnoterapi, dan spiritualitas untuk membantu orang yang stres dan tak tahu arah hidup karena trauma. Semua gratis karena, ”Saya senang bisa membantu.”

Teman-temannya tersebar, lintas agama, lintas etnis, lintas bangsa, yang memiliki keprihatinan sama, dan menjalani beragam laku spiritual untuk kebaikan dan perbaikan diri agar bumi ini menjadi tempat yang lebih baik.

Di Dojo Pelangi, seseorang tak sekadar belajar aikido sebagai seni bela diri. Seperti dia katakan, ”Latihan aikido pada dasarnya untuk menghadapi serangan dan tekanan, seperti hidup ini. Di dojo, kita belajar menghadapinya dengan rileks, melepas, dan senyum. Tiga hal itu yang menghubungkan hati kita dengan Sang Pemilik Hidup”.

Suhirman Djirman
? Lahir: Surabaya, 30 Desember 1942
? Pendidikan:
– Institut Pertanian Bogor
– MSc dan PhD bidang Biodeterioration of Materials, University of Portsmouth, Inggris, 1977-1983
? Pengalaman:
– Ahli Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
– Kepala Kebun Raya Indonesia, 1990-1997
– Penasihat Spiritual Leadership pada dua perusahaan di Jakarta dan Yogyakarta
? Karya buku antara lain: “Manfaat Aikido bagi Pembinaan Spiritual Leadership”, 2007

Oleh: Maria Hartiningsih

Sumber: Kompas, 2 Agustus 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: