Jadikan Pengurangan Risiko Bencana Investasi

- Editor

Sabtu, 13 September 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintahan Baru Diharapkan Memikirkan Serius
Pemerintahan mendatang diminta menjadikan pengurangan risiko bencana sebagai arus utama pembangunan. Itu karena Indonesia adalah salah satu bangsa paling rentan bencana. Tanpa menyiapkan diri, kerugian akibat bencana bisa menggagalkan target pembangunan.

”Hingga kini, pengurangan risiko bencana belum eksplisit dimasukkan visi dan misi Joko Widodo dalam sembilan programnya atau Nawa Cita,” kata Sekretaris Jenderal Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) Eko Teguh Paripurno, di Jakarta, Jumat (12/9).

Pengurangan risiko bencana sangat penting karena, dalam sepuluh tahun (2004-2013), negeri ini dilanda beragam bencana besar. Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), ada 11.274 bencana menewaskan 193.240 jiwa, 205 juta jiwa terdampak dengan total kerugian Rp 126,7 triliun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Badan Geologi Surono mengatakan, sekalipun potensi bencana di Indonesia amat tinggi, pengurangan risiko bencana belum jadi arus utama pembangunan. ”Konfigurasi tektonik Indonesia yang ada di pertemuan tiga lempeng dunia membuat negara ini jadi negara dengan jumlah gunung api terbanyak di dunia, yaitu 127 gunung api,” katanya.

Di Indonesia juga ditemui zona penunjaman, punggungan, lipatan, dan sesar aktif sehingga rentan gempa bumi dengan sumber di darat dan laut. ”Yang sering diikuti tsunami,” kata Surono.

Sementara itu ahli tsunami dari Badan Pengkajian Dinamika Pantai-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko mengatakan, meski belum ada dasar kuat secara ilmiah, secara empiris perulangan bencana katastropik di Indonesia sangat mungkin terjadi. ”Coba dari deret waktu dan kejadian, tsunami Aceh 2004, tsunami Pangandaran 2006, tsunami Mentawai 2010, dan berikutnya hanya soal waktu. Masalahnya, apakah kita siap?” tuturnya.

Bukan arus utama
Meskipun berisiko tinggi, menurut Surono dan Widjo Kongko, pengurangan risiko bencana belum jadi arus utama pembangunan. Apalagi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga kini masih identik dengan penanggulangan bencana, bukan pengurangan risiko. ”Karena mitigasi bencana belum dianggap investasi,” kata Surono.

Kondisi ini sama dengan temuan Gutomo Bayu Aji, peneliti ekologi manusia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Temuannya, arus utama Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2009-2014 adalah jender, penyelenggaraan pemerintahan yang baik, dan pembangunan berkelanjutan. Sementara pengurangan risiko bencana tidak menjadi arus utama dalam RPJM.

Menurut Eko Teguh, dalam Nawa Cita disebutkan tentang upaya untuk menghadirkan kembali negara guna melindungi rakyat. Faktanya, negeri ini banyak bencana, kerugiannya pun besar, tetapi kemampuan negara dalam mengatasinya sangat kurang. Kemampuan masyarakat untuk saling melindungi juga berkurang. ”Jadi, pengurangan risiko bencana harusnya juga masuk upaya melindungi rakyat. Jadi, pemerintah mendatang mestinya serius memikirkan soal ini,” ungkapnya. (AIK)

Sumber: Kompas, 13 September 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru